Hikmah sufi

 

ِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 

  
                                   Hikmah Sufi

Waliyullah Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi

Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie

Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
   Dunia tasawuf mengenal banyak cerita sufi. Sebagian dari cerita itu

termuat dalam kitab /Tadzkiratul Awliya, Kenangan Para Wali/, yang

ditulis oleh Fariduddin Attar
Buku ini ditulis dalam bahasa Persia, meskipun judulnya ditulis dalam bahasa

Arab. Selain berarti kenangan atau ingatan, kata tadzkirah dalam bahasa

Arab juga berarti pelajaran. Sehingga Tadzkiratul Awliya berarti

pelajaran yang diberikan oleh para wali.
Attar mengumpulkan kisah para wali; mulai dari Hasan Al-Bashri, sufi

pertama, sampai Bayazid Al-Busthami. Dari Rabiah Al-Adawiah sampai

Dzunnun Al-Mishri. Selain buku ini, Attar juga menulis buku cerita sufi

berjudul Manthiquth Thayr, Musyawarah Para Burung. Berbeda dengan kitab

pertama yang berisi cerita para tokoh sufi, kitab ini berbentuk novel

dan puisi sufi. Sebagian besar ceritanya bersifat metaforis.
Fariduddin dijuluki Attar (penjual wewangian), karena sebelum menjadi

sufi ia memiliki hampir semua toko obat di Mashhad, Iran.
Dahulu, orang yang menjadi ahli farmasi juga sekaligus menjadi penjual

wewangian. Sebagai pemilik toko farmasi, Attar terkenal kaya raya.
Sampai suatu hari, datanglah seorang lelaki tua. Kakek itu bertanya,

“Dapatkah kau tentukan kapan kau meninggal dunia?” “Tidak,” jawab Attar

kebingungan. “Aku dapat,” ucap kakek tua itu, “saksikan di hadapanmu

bahwa aku akan mati sekarang juga.” Saat itu juga lelaki renta itu

terjatuh dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Attar terkejut. Ia

berpikir tentang seluruh kekayaan dan maut yang mengancamnya. Ia ingin

sampai pada kedudukan seperti kakek tua itu; mengetahui kapan ajal akan

menjemput. Attar lalu meninggalkan seluruh pekerjaannya dan belajar

kepada guru-guru yang tidak diketahui. Menurut shahibul hikayat, ia

pernah belajar di salah satu pesantren di samping makam Imam Ridha as,

di Khurasan, Iran. Setelah pengembaraannya, Attar kembali ke tempat

asalnya untuk menyusun sebuah kitab yang ia isi dengan cerita-cerita

menarik.
Tradisi mengajar melalui cerita telah ada dalam kebudayaan Persia.

Jalaluddin Rumi mengajarkan tasawuf melalui cerita dalam kitabnya

Matsnawi-e Ma’nawi. Penyair sufi Persia yang lain, Sa’di, juga menulis

Gulistan, Taman Mawar, yang berisi cerita-cerita penuh pelajaran.

Demikian pula Hafizh dan beberapa penyair lain. Tradisi bertutur menjadi

salah satu pokok kebudayaan Persia.
Kebudayaan Islam Indonesia juga mengenal tradisi bercerita. Islam yang

pertama datang ke nusantara adalah Islam yang dibawa oleh orang-orang

Persia lewat jalur perdagangan sehingga metode penyebaran Islam juga

dilakukan dengan bercerita. Mereka menggunakan wayang sebagai media

pengajaran Islam.
Dalam pengantar Tadzkiratul Awliya, Attar menjelaskan mengapa ia menulis

buku yang berisi cerita kehidupan para wali. Alasan pertama, tulis

Attar, karena Al-Quran pun mengajar dengan cerita. Surat Yusuf,

misalnya, lebih dari sembilan puluh persen isinya, merupakan cerita.
Terkadang Al-Quran membangkitkan keingintahuan kita dengan cerita:

Tentang apakah mereka saling bertanya? Tentang cerita yang dahsyat,

yang mereka perselisihk/an. (QS. An-Naba; 1-3). Bagian awal dari surat

Al-Kahfi bercerita tentang para pemuda yang mempertahankan imannya:

Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam

gua lalu mereka berdoa: Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami

dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam

urusan kami ini./ (QS. Al-Kahfi; 10) Surat ini dilanjutkan dengan kisah

pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidhir, diteruskan dengan riwayat

Zulkarnain, dan diakhiri oleh cerita Rasulullah saw.
Demikian pula surat sesudah Al-Kahfi, yaitu surat Maryam, yang penuh

berisi ceritera; /Dan kenanglah kisah Maryam dalam Al-Quran. Ketika ia

menjauhkan diri dari keluarganya ke satu tempat di sebelah timur/ . (QS.

Maryam; 16) Al-Quran memakai kata udzkur yang selain berarti “ingatlah”

atau “kenanglah” juga berarti “ambillah pelajaran.” Attar mengikuti

contoh Al-Quran dengan menamakan kitabnya Tadzkiratul Awliya.
Alasan kedua mengapa cerita para wali itu dikumpulkan, tulis Attar,

adalah karena Attar ingin mendapat keberkahan dari mereka. Dengan

menghadirkan para wali, kita memberkahi diri dan tempat sekeliling kita.

Sebuah hadis menyebutkan bahwa di dunia ini ada sekelompok orang yang

amat dekat dengan Allah swt. Bila mereka tiba di suatu tempat, karena

kehadiran mereka, Allah selamatkan tempat itu dari tujuh puluh macam

bencana. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulallah, siapakah mereka itu dan

bagaimana mereka mencapai derajat itu?” Nabi yang mulia menjawab,

“Mereka sampai ke tingkat yang tinggi itu bukan karena rajinnya mereka

ibadat. Mereka memperoleh kedudukan itu karena dua hal; ketulusan hati

mereka dan kedermawanan mereka pada sesama manusia.”
Itulah karakteristik para wali. Mereka adalah orang yang berhati bersih

dan senang berkhidmat pada sesamanya. Wali adalah makhluk yang hidup

dalam paradigma cinta. Dan mereka ingin menyebarkan cinta itu pada

seluruh makhluk di alam semesta. Attar yakin bahwa kehadiran para wali

akan memberkahi kehidupan kita, baik kehadiran mereka secara jasmaniah

maupun kehadiran secara ruhaniah.
Dalam Syarah Sahih Muslim, Imam Nawawi menjelaskan dalil dianjurkannya

menghadirkan orang-orang salih untuk memberkati tempat tinggal kita. Ia

meriwayatkan kisah Anas bin Malik yang mengundang Rasulullah saw untuk

jamuan makan. Tiba di rumah Anas, Rasulullah meminta keluarga itu untuk

menyediakan semangkuk air. Beliau memasukkan jari jemarinya ke air lalu

mencipratkannya ke sudut-sudut rumah. Nabi kemudian shalat dua rakaat di

rumah itu meskipun bukan pada waktu shalat.
Menurut Imam Nawawi, shalat Nabi itu adalah shalat untuk memberkati

rumah Anas bin Malik. Imam Nawawi menulis, “Inilah keterangan tentang

mengambil berkah dari atsar-nya orang-orang salih.” Sayangnya, tulis

Attar dalam pengantar Tadzkiratul Awliya, sekarang ini kita sulit

berjumpa dengan orang-orang salih secara jasmaniah. Kita sukar menemukan

wali Allah di tengah kita, untuk kita ambil pelajaran dari mereka. Oleh

karena itu, Attar menuliskan kisah-kisah para wali yang telah meninggal

dunia. Attar memperkenalkan mereka agar kita dapat mengambil hikmah dari

mereka. “Saya hanya pengantar hidangan,” lanjut Attar, “dan saya ingin

ikut menikmati hidangan ini bersama Anda. Inilah hidangan para awliya.”
Attar lalu menulis belasan alasan lain mengapa ia mengumpulkan ceritera

para wali. Yang paling menarik untuk saya adalah alasan bahwa dengan

menceritakan kehidupan para wali, kita akan memperoleh berkah dan

pelajaran yang berharga dari mereka. Seakan-akan kita menemui para wali

itu di alam ruhani, karena di alam jasmani kita sukar menjumpai mereka.
Seringkali kita juga lebih mudah untuk mendapatkan pelajaran dari

cerita-cerita sederhana ketimbang uraian-uraian panjang yang ilmiah.
Berikut ini sebuah cerita dari Bayazid Al-Busthami, yang insya Allah,

dapat kita ambil pelajaran daripadanya;
Di samping seorang sufi, Bayazid juga adalah pengajar tasawuf. Di antara

jamaahnya, ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak.

Santri itu juga menjadi kyai bagi jamaahnya sendiri. Karena telah

memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang menunjukkan

kesalihannya, seperti baju putih, serban, dan wewangian tertentu.
Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Bayazid, “Tuan Guru, saya sudah

beribadat tiga puluh tahun lamanya. Saya shalat setiap malam dan puasa

setiap hari, tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman ruhani yang

Tuan Guru ceritakan. Saya tak pernah saksikan apa pun yang Tuan gambarkan.”
Bayazid menjawab, “Sekiranya kau beribadat selama tiga ratus tahun pun,

kau takkan mencapai satu butir pun debu mukasyafah dalam hidupmu.”
Murid itu heran, “Mengapa, ya Tuan Guru?”
“Karena kau tertutup oleh dirimu,” jawab Bayazid.
“Bisakah kau obati aku agar hijab itu tersingkap?” pinta sang murid.
“Bisa,” ucap Bayazid, “tapi kau takkan melakukannya.”
“Tentu saja akan aku lakukan,” sanggah murid itu.
“Baiklah kalau begitu,” kata Bayazid, “sekarang tanggalkan pakaianmu.

Sebagai gantinya, pakailah baju yang lusuh, sobek, dan compang-camping.

Gantungkan di lehermu kantung berisi kacang. Pergilah kau ke pasar,

kumpulkan sebanyak mungkin anak-anak kecil di sana. Katakan pada mereka,

“Hai anak-anak, barangsiapa di antara kalian yang mau menampar aku satu

kali, aku beri satu kantung kacang.” Lalu datangilah tempat di mana

jamaah kamu sering mengagumimu. Katakan juga pada mereka, “Siapa yang

mau menampar mukaku, aku beri satu kantung kacang!”
“Subhanallah, masya Allah, lailahailallah,” kata murid itu terkejut.
Bayazid berkata, “Jika kalimat-kalimat suci itu diucapkan oleh orang

kafir, ia berubah menjadi mukmin. Tapi kalau kalimat itu diucapkan oleh

seorang sepertimu, kau berubah dari mukmin menjadi kafir.”
Murid itu keheranan, “Mengapa bisa begitu?”
Bayazid menjawab, “Karena kelihatannya kau sedang memuji Allah, padahal

sebenarnya kau sedang memuji dirimu. Ketika kau katakan: Tuhan mahasuci,

seakan-akan kau mensucikan Tuhan padahal kau menonjolkan kesucian dirimu.”
“Kalau begitu,” murid itu kembali meminta, “berilah saya nasihat lain.”
Bayazid menjawab, “Bukankah aku sudah bilang, kau takkan mampu

melakukannya!”
Cerita ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Bayazid mengajarkan

bahwa orang yang sering beribadat mudah terkena penyakit ujub dan

takabur. “Hati-hatilah kalian dengan ujub,” pesan Iblis.
Dahulu, Iblis beribadat ribuan tahun kepada Allah. Tetapi karena

takaburnya terhadap Adam, Tuhan menjatuhkan Iblis ke derajat yang

serendah-rendahnya.
Takabur dapat terjadi karena amal atau kedudukan kita. Kita sering

merasa menjadi orang yang penting dan mulia. Bayazid menyuruh kita

menjadi orang hina agar ego dan keinginan kita untuk menonjol dan

dihormati segera hancur, yang tersisa adalah perasaan tawadhu dan

kerendah-hatian. Hanya dengan itu kita bisa mencapai hadirat Allah swt.
Orang-orang yang suka mengaji juga dapat jatuh kepada ujub. Mereka

merasa telah memiliki ilmu yang banyak. Suatu hari, seseorang datang

kepada Nabi saw, “Ya Rasulallah, aku rasa aku telah banyak mengetahui

syariat Islam. Apakah ada hal lain yang dapat kupegang teguh?” Nabi

menjawab, :”Katakanlah: Tuhanku Allah, kemudian ber-istiqamah-lah kamu.”
Ujub seringkali terjadi di kalangan orang yang banyak beribadat. Orang

sering merasa ibadat yang ia lakukan sudah lebih dari cukup sehingga ia

menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan. Ia menganggap

ibadat sebagai investasi. Orang yang gemar beribadat cenderung jatuh

pada perasaan tinggi diri. Ibadat dijadikan cara untuk meningkatkan

statusnya di tengah masyarakat. Orang itu akan amat tersinggung bila

tidak diberikan tempat yang memadai statusnya. Sebagai seorang ahli

ibadat, ia ingin disambut dalam setiap majelis dan diberi tempat duduk

yang paling utama.
Tulisan ini saya tutup dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam

Ahmad dalam musnad-nya; Suatu hari, di depan Rasulullah saw Abu Bakar

menceritakan seorang sahabat yang amat rajin ibadatnya. Ketekunannya

menakjubkan semua orang. Tapi Rasulullah tak memberikan komentar

apa-apa. Para sahabat keheranan. Mereka bertanya-tanya, mengapa Nabi tak

menyuruh sahabat yang lain agar mengikuti sahabat ahli ibadat itu.

Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu lewat di hadapan majelis Nabi. Ia

kemudian duduk di tempat itu tanpa mengucapkan salam. Abu Bakar berkata

kepada Nabi, “Itulah orang yang tadi kita bicarakan, ya Rasulallah.”

Nabi hanya berkata, “Aku lihat ada bekas sentuhan setan di wajahnya.”
Nabi lalu mendekati orang itu dan bertanya, “Bukankah kalau kamu datang

di satu majelis kamu merasa bahwa kamulah orang yang paling salih di

majelis itu?” Sahabat yang ditanya menjawab, “Allahumma, na’am. Ya

Allah, memang begitulah aku.” Orang itu lalu pergi meninggalkan majelis

Nabi.
Setelah itu Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Siapa di

antara kalian yang mau membunuh orang itu?” “Aku,” jawab Abu Bakar.
Abu Bakar lalu pergi tapi tak berapa lama ia kembali lagi, “Ya

Rasulallah, bagaimana mungkin aku membunuhnya? Ia sedang ruku’.”
Nabi tetap bertanya, “Siapa yang mau membunuh orang itu?” Umar bin

Khaththab menjawab, “Aku.” Tapi seperti juga Abu Bakar, ia kembali tanpa

membunuh orang itu, “Bagaimana mungkin aku bunuh orang yang sedang

bersujud dan meratakan dahinya di atas tanah?” Nabi masih bertanya,

“Siapa yang akan membunuh orang itu?” Imam Ali bangkit, “Aku.” Ia lalu

keluar dengan membawa pedang dan kembali dengan pedang yang masih

bersih, tidak berlumuran darah, “Ia telah pergi, ya Rasulullah.” Nabi

kemudian bersabda, “Sekiranya engkau bunuh dia. Umatku takkan pecah

sepeninggalku….” Dari kisah ini pun kita dapat mengambil hikmah: Selama

di tengah-tengah kita masih terdapat orang yang merasa dirinya paling

salih, paling berilmu, dan paling benar dalam pendapatnya, pastilah

terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin. Nabi memberikan pelajaran

bagi umatnya bahwa perasaan ujub akan amal salih yang dimiliki adalah

penyebab perpecahan di tengah orang Islam. Ujub menjadi penghalang

naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Penawarnya hanya satu,

belajarlah menghinakan diri kita. Seperti yang dinasihatkan Bayazid

Al-Busthami kepada santrinya.

  Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam

yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan

manusia. Ia mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak dalam berhujjah,

sehingga ia digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Ia

sangat dihormati karena keluasan ilmunya. Banyak sekali karya besarnya,

antara lain : Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama) ygmerupakan

karyanya yang terkenal; Kimiya as-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan); Misykah

al-Anwar ; Maqasid al-Falasifah; Tahafut al-Falasifah; Al-Mushtasfa min

Ilm al-Ushul; Miyar al-Ilm;
al-Qistas al-Mustaqim serta Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq dlsb.
Pada suatu ketika Imam al-Ghazali menulis kitab. Pada waktu itu orang

menulis menggunakan tinta dan sebatang pena. Pena itu harus dicelupkan

dulu kedalam tinta baru kemudian dipaakai untuk menulis, jika habis di

celup lagi dan menulis lagi. Begitu seterusnya.
Ditengah kesibukan menulis itu, tiba-tiba terbanglah seekor lalat dan

hinggap di mangkuk tinta Imam al- Ghazali. Lalat itu tampaknya sedang

kehausan. Ia meminum tinta dimangkuk itu.
Melihat lalat yang kehausan itu, Imam al-Ghazali membiarkan saja lalat

itu meminum tintanya. Lalat juga makhluk Allah yang harus diberikan

kasih sayang, pikir Al-Ghazali.
Ketika Al-Ghazali wafat, selang beberapa hari kemudian,seorang Ulama

yang merupakan sahabat dekat beliau bermimpi. Dalam mimpi itu terjadilah

dialog. Sahabatnya itu bertanya, ” Wahai Hujattul Islam, Apa yang telah

diperbuat Allah kepadamu? “.
Al-Ghazali menjawab, ” Allah telah menempatkanku di tempat yang paling

baik “.
“Gerangan apakah sampai engkau ditempatkan Allah ditempat yang paling

baik itu ? Apakah itu karena kealimanmu dan banyaknya kitab-kitab

bermanfaat yang telah kau tulis?” tanya sahabatnya.
Al-Ghazali menjawab, “Tidak, Allah memberiku tempat yg terbaik, hanya

karena pada saat aku menulis aku memberikan kesempatan kepada seekor

lalat untuk meminum tintaku karena kehausan. Aku lakukan itu karena aku

sayang pada makhluk Allah. ”
Sahabatku,
Dari kisah sufi tersebut memberi kita hikmah bahwa hanya tidak ada

salahnya jika kita menolong mahluk Allah. Bayangkan hanya sekedar

membiarkan lalat yang kehausan untuk minum saja menjadikan sebab

seseorang masuk surga, apalagi memberi makan kepada sesama manusia.

bersedekah bagi sesama yang benar-benar membutuhkan.
Dalam hadits lain, diriwayatkan bahwa Nabi bercerita ada seorang pelacur

bisa masuk Surga karena memberi minum seekor Anjing. Juga jangan

remehkan dosa kecil karena dalam hadits diriwayatkan bahwa ada seorang

wanita masuk neraka karena memelihara seekor kucing lalu mendzaliminya.
So, jangan remehkan amal kecil karena sebesar dzarroh pun akan

diperhitungkan di akhirat kelak.
Allah Swt berfirman :”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat

dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang

mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat

(balasan)nya pula” (QS. 99: 7-8)
Sahabatku,
Kisah di atas juga mengajari kita untuk tidak atau jangan pernah

meremehkan amalan (kebaikan) sekecil apapun, karena sesungguhnya kita

tidak pernah tahu, bisa jadi amalan yang kita anggap kecil tersebut

berarti besar di hadapan Allah Swt, dan justru amalan tersebutlah yang

akan mengantarkan kita ke Surga. Sebaliknya kita juga tidak tahu bahwa

mungkin dosa (yang dianggap kecil) bisa menjerumuskan kita ke lembah

kehinaan, Neraka Jahanam. a’udzubillahimindzalik.
Akan tetapi, terkadang kita terlalu mengejar amal-amal besar dan

meremehkan amal kecil, padahal ketika beramal kecil seringkali kita

malah bisa sangat ikhlas.
Kebaikan (Amal) itu tidak selalu kita menyumbang ke Masjid, tapi sekedar

menyingkirkan duri di jalanan atau sekedar memungut sampah permen,

sekedar mengucap salam kepada sesama muslim yang belum kita kenal,

sekedar senyum pada sahabat kita, tidak ada yang sia-sia. Jika kita bisa

melakukan amal-amal ringan, kenapa harus menunggu kesempatan untuk

beramal besar? Bukankah juga Allah itu menyukai amalan yang

berkelanjutan meskipun sedikit?
Boleh jadi amalan kecil yang pernah kita lakukan adalah amalan paling

ikhlas sehingga bisa menyelamatkan kita di hari akhirat kelak. Boleh

jadi amalan kecil tsb menjadi pelindung kita dari siksa kubur, dan boleh

jadi amalan kecil tsb bisa menjadi perantara bagi dikabulkannya doa-doa

kita. Boleh jadi juga amalan kecil tersebut menjadi penghapus dosa-dosa

kita.
Karena itu marilah sejak saat ini, lakukanlah secara dawam (konsisten)

suatu amal ibadah yang kecil yang dilakukan ikhlas karena Allah Swt semata.
Allah Swt senang terhadap amalan yang dilakukan secara dawam, dan ketika

kita berhalangan (uzur syar’i) dan kita tidak dapat melakukan amal yang

biasa kita dawamkan tersebut, Insya Allah, Allah SWT akan tetap memberi

pahala seperti kita melakukan amalan tersebut di hari lainnya.
Semoga Allah Swt memudahkan kita dan anak2 keturunan kita untuk

melakukan amalan-amalan kecil secara dawam dan memberikan keistiqamahan

kepada kita menjalaninya dalam kehidupan ini, sehingga dapat mengundang

keridhaan dan kasih sayang dari Allah Swt, Dan semoga Allah Swt menerima

dan melipatgandakan pahala amalan2 kita baik yang kecil maupun yang

besar,. Aamiin.
Semangat Pagi sahabatku, Selamat beraktifitas menjemput rezeki dan

jangan lupa untuk saling berlomba dalam kebaikan dan saling berpesan

dalam kebenaran dan kesabaran.
Untuk Anda yg sedang dilanda musibah/sakit, Semoga Allah segera

mengangkat musibah/ penyakitnya dan menggantinya dgn kesehatan dan

kebahagiaan. Amin YRA
Semoga tulisan sederhana ini membawa manfaat bagi diri saya, keluarga

dan kita semua. Amin YRA
Mutiara Hikmah <http://www.jadzab.com/&gt;

   Dikisahkan, di sebuah kota besar bernama Merv, hiduplah seorang pemuda

yang begitu mencintai kemewahan dunia. Setiap hari, yang ia lakukan

adalah bersenang-senang dengan berbagai cara. Jika sudah bosan dengan

cara yang satu, ia akan mencari cara lain.
Ia tidak peduli dengan apapun yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya

tersebut. Juga, tidak peduli dengan segala aturan dan hukum yang berlaku

di sana. Baginya, yang terpenting adalah bisa merasa senang.
Hingga, suatu hari, kala Bisyr mengadakan perjalanan menuju tempat

pesta, ia bertemu dengan seorang bijak. “Wahai saudaraku, aku ingin

menyampaikan pesan untukmu,” ucap seorang bijak yang ternyata juga sufi,

setelah mengucap salam.
“Pesan dari siapa?” tanya Bisyr tanpa berbasa basi. “Pesan dari Allah,”

jawab si sufi. “Ah, apakah itu berarti aku akan segera mati? Adakah yang

dapat mencegah kematianku barang sedetik saja agar aku bisa pamit kepada

teman-teman pestaku? Adakah yang dapat menolongku agar terhindar dari

kematian?” serbunya dengan tanya.
“Allah memerintahkanku, agar segera mengislamkanmu,” jawab sufi dengan

sangat tenang.
“Ada begitu banyak orang yang bernama Bisyr di kota ini. Ada yang

Yahudi, Kristen, dan ada juga yang Magi. Dan, namaku juga Bisyr. Lantas,

mengapa hanya Bisyr-ku yang menerima anugerah islam, sedangkan Bisyr

Bisyr yang lain tidak mendapat anugerah yang begitu besar itu?” selidik

Bisyr.
“Anugerah bisa datang kepada siapa saja. Pada Bisyr-mu atau Bisyr Bisyr

yang lain. Namun, begitulah Allah ketika berkehendak. Dia akan

mengundang siapa saja untuk memasuki istana-Nya (Islam),” ucap sang bijak.
“Kau masih ingat peristiwa beberapa bulan lalu, wahai Anak Muda, saat

kau menyelamatkan secarik kertas berlafadz, Dengan menyebut Nama Allah

yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang?” lanjutnya.
Bisyr mengerutkan dahi, bertanda sedang berpikir, “Ya, aku masih ingat.

Lantas apa hubungannya dengan anugerah keislamanku?” “Kau apakan kertas

itu?” tanya sufi, tanpa menjawab pertanyaan si pemuda.
“Aku menyimpannya dengan baik-baik di bawah bantalku, dan setiap malam

sebelum tidur aku membacanya secara berulang-ulang hingga akhirnya

kantuk itu menyerangkutanpa aku tahu apa maksud kalimat itu.” Jawab Bisyr.
Guru bijak itu tersenyum, lalu berkata, “Itulah yang Allah karuniakan

untukmu, Anak Muda. Awalnya aku mengira bahwa kamu tidak lebih dari

seorang pemuda yang gemar melakukan maksiat, namun ternyata kau mampu

mengagungkan-Nya melebihi para ahli ibadah. Allah mengundangmu sebagai

tamu-Nya melalui Islam.”
Mendengar ungkapan itu, Bisyr pun langsung tersungkur. Ia menangis

sembari dituntun mengucap syahadat. Ia bersyukur karena mendapat

kesempatan untuk memeluk Islam sebelum ajal menjemputnya.
Lantas, bagaimana dengan kita (yang sudah mengaku Islam sejak lahir)?

Apakah kita mampu memanfaatkan anugerah terbesar bagi manusia itu?

Sudahkah kita bersyukur dan mengoptimalkan kesempatan panggilan-Nya guna

merasakan nikmatnya menjadi tamu istana-Nya (Islam)? 

Fariduddin Atthar berkisah tentang Bisyr Ibnu al Harits. Seorang ahli

sufi yang pernah hidup sekitar tahun 150 H hingga 227 H. Konon, dahulu

kala Bisyr merupakan pemuda kaya raya yang gemar melakukan maksiat.

Namun, pertemuannya dengan Sufi Agung telah membawanya pada jalan

hidayah. Hingga kemudian ia dijuluki sebagai Si Telanjang Kaki, akibat

meninggalkan keduniaannya guna mengabdikan seluruh hidupnya pada Tuhan.
Ia sangat dikagumi oleh Ahmad Ibnu Hanbal dan Khalifah al Mamun sebagai

panutan.
Mutiara Hikmah <http://www.jadzab.com/&gt;

   Dikisahkan, di sebuah kota besar bernama Merv, hiduplah seorang pemuda

yang begitu mencintai kemewahan dunia. Setiap hari, yang ia lakukan

adalah bersenang-senang dengan berbagai cara. Jika sudah bosan dengan

cara yang satu, ia akan mencari cara lain.
Ia tidak peduli dengan apapun yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya

tersebut. Juga, tidak peduli dengan segala aturan dan hukum yang berlaku

di sana. Baginya, yang terpenting adalah bisa merasa senang.
Hingga, suatu hari, kala Bisyr mengadakan perjalanan menuju tempat

pesta, ia bertemu dengan seorang bijak. “Wahai saudaraku, aku ingin

menyampaikan pesan untukmu,” ucap seorang bijak yang ternyata juga sufi,

setelah mengucap salam.
“Pesan dari siapa?” tanya Bisyr tanpa berbasa basi. “Pesan dari Allah,”

jawab si sufi. “Ah, apakah itu berarti aku akan segera mati? Adakah yang

dapat mencegah kematianku barang sedetik saja agar aku bisa pamit kepada

teman-teman pestaku? Adakah yang dapat menolongku agar terhindar dari

kematian?” serbunya dengan tanya.
“Allah memerintahkanku, agar segera mengislamkanmu,” jawab sufi dengan

sangat tenang.
“Ada begitu banyak orang yang bernama Bisyr di kota ini. Ada yang

Yahudi, Kristen, dan ada juga yang Magi. Dan, namaku juga Bisyr. Lantas,

mengapa hanya Bisyr-ku yang menerima anugerah islam, sedangkan Bisyr

Bisyr yang lain tidak mendapat anugerah yang begitu besar itu?” selidik

Bisyr.
“Anugerah bisa datang kepada siapa saja. Pada Bisyr-mu atau Bisyr Bisyr

yang lain. Namun, begitulah Allah ketika berkehendak. Dia akan

mengundang siapa saja untuk memasuki istana-Nya (Islam),” ucap sang bijak.
“Kau masih ingat peristiwa beberapa bulan lalu, wahai Anak Muda, saat

kau menyelamatkan secarik kertas berlafadz, Dengan menyebut Nama Allah

yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang?” lanjutnya.
Bisyr mengerutkan dahi, bertanda sedang berpikir, “Ya, aku masih ingat.

Lantas apa hubungannya dengan anugerah keislamanku?” “Kau apakan kertas

itu?” tanya sufi, tanpa menjawab pertanyaan si pemuda.
“Aku menyimpannya dengan baik-baik di bawah bantalku, dan setiap malam

sebelum tidur aku membacanya secara berulang-ulang hingga akhirnya

kantuk itu menyerangkutanpa aku tahu apa maksud kalimat itu.” Jawab Bisyr.
Guru bijak itu tersenyum, lalu berkata, “Itulah yang Allah karuniakan

untukmu, Anak Muda. Awalnya aku mengira bahwa kamu tidak lebih dari

seorang pemuda yang gemar melakukan maksiat, namun ternyata kau mampu

mengagungkan-Nya melebihi para ahli ibadah. Allah mengundangmu sebagai

tamu-Nya melalui Islam.”
Mendengar ungkapan itu, Bisyr pun langsung tersungkur. Ia menangis

sembari dituntun mengucap syahadat. Ia bersyukur karena mendapat

kesempatan untuk memeluk Islam sebelum ajal menjemputnya.
Lantas, bagaimana dengan kita (yang sudah mengaku Islam sejak lahir)?

Apakah kita mampu memanfaatkan anugerah terbesar bagi manusia itu?

Sudahkah kita bersyukur dan mengoptimalkan kesempatan panggilan-Nya guna

merasakan nikmatnya menjadi tamu istana-Nya (Islam)? 

Fariduddin Atthar berkisah tentang Bisyr Ibnu al Harits. Seorang ahli

sufi yang pernah hidup sekitar tahun 150 H hingga 227 H. Konon, dahulu

kala Bisyr merupakan pemuda kaya raya yang gemar melakukan maksiat.

Namun, pertemuannya dengan Sufi Agung telah membawanya pada jalan

hidayah. Hingga kemudian ia dijuluki sebagai Si Telanjang Kaki, akibat

meninggalkan keduniaannya guna mengabdikan seluruh hidupnya pada Tuhan.
Ia sangat dikagumi oleh Ahmad Ibnu Hanbal dan Khalifah al Mamun sebagai

panutan.