Syekh Siti Jenar


KAMPUS ORANG SAMAR
Pusat Database Ilmu Ghoib terlengkap
Menu
Skip to content
HomePosts tagged ‘isi kitab somala’
ISI KITAB SOMALA

KEMBALI KE BUDAYA SPIRITUAL NUSANTARA

April 6, 2016 KIRIMAN
Pada hari Jumat (31-8-2012) kali ini kami menampilkan salinan sebuah buku yang sudah beredar di dunia maya yang memuat tentang kisah-kisah spiritual para tokoh bernuansa Budaya dengan harapan agar ada setitik pembelajaran tentang laku spiritual. Salam asah asih dan asuh. (ORANG SAMAR).

SYEKH SITI JENAR MENYATU DENGAN DZAT (AJAL)

@@ disalin dari buku Syech Siti Jenar cetakan ke IV Safar 1423 H/ April 2003 Masehi; penulis ACHMAD CHODJIM 2002 dengan pengantar oleh Budhy Munawar Rachman- Direktur Pusat studi Islam Yayasan Paramadina

Syahdan di tepi jalan perkampungan Negeri Demak, seorang lelaki paruh baya berjalan dengan tenang. Wajahnya putih memancarkan cahaya, janggut serta cambang berwarna kebiruan. Rambut dikepalanya tertutup blangkon berwarna hitam garis pinggir merah menyala, begitu juga sorban, gamis dan jubahnya dengan latar hitam bercorak merah. Lelaki paruh baya itu bertubuh sedang, berjalan tenang, lengan kanannya menggenggam tasbih seraya mulutnya komat-kamit mengumandangkan dzikir.
Pada kelokan jalan sunyi yang dihiasi semak belukar dan pepohonan kanan kirinya, tiba-tiba muncul tiga orang lelaki berpakaian serba hitam dengan ikat kepala, bertubuh kekar seraya menghadang. “Berhenti kisanak!” Lelaki bertubuh kekar dan berkumis tebal menyilangkan golok didepan dadanya. “Mengapa saya harus berhenti? Bukankah jalan ini milik Allah? Siapapun punya hak untuk menggunakannya.” ujar lelaki berjubah.
“Saya tidak mengerti Allah! Pokoknya kamu harus berhenti,” ujarnya lagi. “Saya sekarang sudah berhenti. Apa yang akan kisanak lakukan pada saya? Apakah akan menebas batang leher saya dengan golok itu?” tanya lelaki berjubah dengan tenang. “Benar, saya akan menebas batang leher kisanak jika tidak menyerahkan uang dan emas yang kisanak miliki.” ancam lelaki berkumis.
“Kenapa, kisanak mesti berbuat seperti itu jika hanya menginginkan uang dan emas. Tidakkah uang dan emas itu hanya hiasan dunia yang tidak memiliki arti hakiki bagi kisanak.” ujar lelaki berjubah. “Jangan banyak bicara, kisanak! Ayo serahkan uang dan emas pada kami, jika leher kisanak tidak mau kami penggal! Rupanya ki sanak belum mengenal saya Ki Kebo Benowo, rampok hebat di dusun ini!” ucapnya.
“Saya tidak mengenal, kisanak. Bukankah kita baru hari ini bertemu? Lalu kisanak mengancam saya untuk memenggal leher dan meminta uang dan emas. Maka untuk itu saya persilahkan jika itu keinginan kisanak. Penggalah leher saya dan …” ujar lelaki berjubah tetap tenang. “Keparat! Mampus kau!” Ki Kebo Benowo bersama ketiga temannya menerjang lelaki berjubah seraya membabatkan golok ke leher, pinggang, dan dada lawan.
Lelaki berjubah tidak bergeming melihat sambaran golok yang akan mencincang tubuhnya, tetap berdiri pada tempatnya dengan dzikir dari mulutnya terdengar pelan. Ketiga golok tidak pelak lagi menghantam sasaran. Namun tidak meninggalkan bekas sedikit pun. Golok yang dihunjamkan ke tiga rampok laksana membabat angin, tidak bisa melukai, bahkan menyentuh. “Aneh…manusiakah?” Ki Kebo Benowo, menghentikan serangan. Seraya berdiri tegak, matanya terbelalak heran, napasnya tersengal-sengal berat. Kedua temannya melongo.
“Di dunia ini tidak ada yang aneh kisanak. Bukakankah Hyiang Widi itu telah menyatu dengan kita?” ujar lelaki berjubah. “Hyiang Widi?” Ki Kebo Benowo paham. Sebab pernah mengenal agama Hindu sebelumnya. “Lalu siapakah nama kisanak?”
“Saya, Syekh Siti Jenar. Kisanak, keinginan yang pertama telah saya penuhi, memenggal. Keinginan kedua uang dan emas menengoklah ke sebrang jalan. Saya permisi.” Syekh Siti Jenar membalikan tubuhnya dan meneruskan langkah. Ki Kebo Benowo beserta ketiga temanya, lalu melirik ke sebrang jalan. Betapa tercengangnya mereka, karena melihat pohon emas dan uang. “Emas dan uang, ayo kita ambil!” ketiganya bersorak, lalu memburu sebrang jalan. Kebo Benowo dan kedua temannya sibuk memunguti daun emas. Seluruhnya diambil dan dibungkus dengan kain.
“Hahaha, kita pasti kaya dalam waktu singkat.” tawa Kebo Benowo. “Ki, tidakkah kita aneh pada kejadian ini?” tanya Loro Gempol. “Benar juga? Dia bisa menciptakan emas dan uang juga memiliki kesaktian yang sangat hebat.” Kebo Benowo membalikan tubuhnya, matanya mengintai ke tempat Syeh Siti Jenar berdiri. “E,eh, kemana orang tadi?” “O, ya? Masa dia bisa menghilang?” Loro Gempol mengerutkan dahi, tangannya garuk-garuk kepala. “Manusiakah dia? Makhluk halus?” Kebo Benowo menarik napas dalam-dalam. “Aku rasa dia manusia sakti mandraguna. Sebaiknya kita berguru padanya agar memiliki kesaktian.”
“Benar, Ki. Jika kita sudah sakti bisa menundukan semua rampok dan berada dalam perintah kita. Kalau kita sudah menguasai para rampok tentu tidak akan capek tinggal menunggu setoran.” tambah Loro Gempol. “Namun Syehk Siti Jenar menghilang? Kemana kita mesti mencari?” Lego Benongo ikut bertanya. Sedari tadi dia hanya mematung belum hilang rasa kagumnya terhadap Syeh Siti Jenar. “Kita telusuri saja jalan ini. Kemungkinan dia menuju ke pusat Kerajaan Demak,” Kebo Benowo menduga-duga.


Syehk Siti Jenar, telah sampai ke pusat Kerajaan Demak. Langkahnya yang tenang serta penuh wibawa tidak lolos dari pandangan para prajurit penjaga keamanan. “Siapakah lelaki itu?” tanya prajurit kerempeng pada temannya yang bertubuh tambun. “Wali,” jawab si Tambun tenang. “Pakaiannya mirip wali songo, tapi saya baru kali ini melihatnya. Kita perlu menanyai dan memeriksa orang yang tidak dikenal, mungkin saja dia pemberontak yang lagi menyamar.” ucap si Kerempeng penuh curiga. “Biarkan saja, siapa tahu dia sahabatnya para wali. Buktinya dia berjalan menuju mesjid.” si Tambun tetap tenang. “Meskipun demikian kita tetap harus menjalankan tugas. Ayo kita hadang dia dan tanya maksud kedatangannya!” si Kerempeng bergegas menenteng tombak dan tameng, mengejar langkah Syekh Siti Jenar
“Berhenti, Kisanak!” teriak si Kerempeng, seraya menghadang langkah Siti Jenar dengan gagang tombak. “Kenapa kisanak menghadang saya? Bukankah saya tidak pernah mengganggu ketenangan kisanak?” tanya Syekh Siti Jenar tenang. “Meskipun demikian itu adalah tugas saya selaku prajurit Demak.” jawab si Kerempeng. “Kisanak hanyalah seorang prajurit Demak, tidak lebih hebat dari prajurit Allah. Bukakah prajurit Allah itu ada empat?” urai Syekh Siti Jenar dengan pandangan mata sejuk.
“Saya tidak mengerti dengan perkataan, Kisanak?” “Bukankah jika Kisanak tidak paham akan sesuatu diharuskan bertanya. Namun tidak semestinya kisanak menunjukan kesombongan, menepuk dada karena berkasta prajurit, dan berlaku kasar terhadap rakyat seperti saya. Padahal kisanak hanyalah prajurit biasa yang lemah tidak sehebat prajurit Allah yang empat tadi.” jelas Sekh Siti Jenar.
“Perkataan kisanak semakin membingungkan saya?” si Kerempeng geleng-gelengkan kepala. “Terdengarnya kisanak semakin melantur saja. Mana ada prajurit Allah empat, para Wali di sini tidak pernah mengajarkan seperti itu.” si Kerempeng semakin mengerutkan dahinya. “Jika para wali tidak mengajarkan, maka saya akan memberitahu kisanak…” ujar Syehk Siti Jenar tersenyum.
“Saya tidak mungkin mempercai kisanak, kenal juga baru sekarang. Saya lebih percaya kepada para wali yang telah mengajarkan agama dengan baik dan bisa dipahami.” si Kerempeng garuk-garuk kepala, lalu keningnya mengkerut lagi. “Apakah kisanak mesti belajar pada orang yang sudah dikenal saja? Padahal kebenaran bisa datang dari siapa saja dan dari mana saja, baik yang sudah dikenal atau pun tidak dikenal oleh kisanak. Karena ilmu Allah sangatlah luas, meski seluruh pohon yang ada didunia ini dijadikan penanya serta laut sebagai tintanya, tidak akan sanggup mencatat ilmu Allah. Sebab itu ilmu yang dimiliki manusia hanyalah sedikit. Seandainya kisanak berada di tepi samudra, lalu mencelupkan jari telunjuk, setelah itu diangkat kembali, maka tetes air yang menempel di ujung telunjuk itulah ilmu yang dimiliki kisanak.” terang Syekh Siti Jenar, seraya menatap si Kerempeng.
“Jika demikian berarti kisanak sudah meremehkan saya. Padahal saya tidak bisa diremehkan oleh rakyat seperti kisanak, saya prajurit Demak sudah diberi ilmu oleh para wali. Kisanak beraninya menyebut-nyebut prajurit Allah, yang tidak pernah para wali ajarkan. Kisanak telah menciptakan ajaran yang keliru!” si Kerempeng berbicara agak keras, seraya keningnya semakin mengerut kebingungan menanggapi perkataan Syeh Siti Jenar.
“Kisanak tidak bisa menganggap saya keliru, jika belum paham pada perkataan tadi.” Syekh siti Jenar tetap tenang. “Ketidak pahaman kisanak yang memicu kesombongan dan kedengkian akan sesuatu. Padahal apa pun yang saya katakan bisa dibuktikan. Prajurit Allah yang empat bisa saya datangkan dihadapan kisanak dengan keperkasaannya.” ujar Syekh Siti Jenar tersenyum tipis. “Omong kosong! Coba mana prajurit Allah yang empat tadi, buktikan jika memang ada!” si Kerempeng semakin pusing dan jengkel, giginya menggeretak. “Kisanak tidak akan kuat menghadapi empat prajurit sekaligus. Maka saya cukup datangkan satu saja, itu pun hanya sebuah pelajaran untuk kisanak.” Syekh Siti Jenar mengangkat tangan kanannya ke atas.
“Mana! Ayo datangkan!” tantang si Kerempeng. “Datanglah prajurit Allah yang bernama angin, berilah dia pelajaran agar tidak angkuh dan sombong.” itulah ucapan Syekh Siti Jenar. “Akhhhh! Tolonnnggg!” si Kerempeng berteriak, seraya tubuhnya melayang di udara diterpa angin yang sangat kencang, lalu jatuh di atas semak-semak. “Itulah salah satu prajurit Allah dari empat prajurit yang lebih dahsyat.”
Syehk Siti Jenar masih berdiri dengan tenang, matanya yang sejuk dan tajam memandang si Kerempeng yang kepayahan dan terbaring di atas semak. “Maafkan teman saya, Kisanak.” si Tambun mendekat penuh hormat. “Sejak tadi pun saya memaafkan teman kisanak. Namun dia tetap berlaku sombong dan menantang pada kekuasaan Allah. Sudah selayaknya diberi pelajaran agar menyadari kekeliruan.” terang Syekh Siti Jenar seraya melirik ke arah si Tambun.
“Terimakasih, kisanak telah memaafkan teman saya. Bolehkah saya tahu nama kisanak?” si Tambun bertanya. “Kenapa tidak. Karena nama itu hanya sebuah sebutan, asma, dan bukan af’al. Orang menyebut saya Syekh Siti Jenar,” terang Syekh Siti Jenar tenang. “O, ya…” si Tambun mengerutkan kening mendengar ucapan yang kurang dipahaminya. “Gendut, tangkap lelaki asing itu! Dia memiliki ilmu sihir.” teriak si Kerempeng seraya bangkit dari semak-semak. “Kisanak sangat keliru jika menuduh ilmu yang saya miliki sihir. Padahal sihir itu bukanlah ilmu yang patut dipelajari oleh orang yang beragama islam. Kisanak masih belum paham, bahwa yang melempar tadi adalah prajurit Allah.”
Syekh Siti Jenar menatap tajam ke arah si Kerempeng yang menghunus pedang. “Omong kosong! Kisanak datang ke Demak sudah jelas berniat menciptakan kekacauan, ditambah lagi dengan ucapan melantur dan mengada-ngada. Selayaknya kisanak kami tangkap!” si Kerempeng mendekat, ujung pedang yang terhunus ditujukan ke leher Syekh Siti Jenar. “Jika ingin menangkap tangkaplah saya. Janganlah sekali-kali kisanak mengancam saya dengan ujung pedang, karena pedang hanyalah buatan manusia yang tidak berdaya. Berbeda dengan wujud kita yang diciptakan Allah….”
Syekh Siti Jenar tetap berdiri tenang, meski ujung pedang yang tajam berjarak sejengkal lagi menuju leher. “Pedang ini jangan kisanak remehkan! Tidakkah takut seandainya pedang ini memenggal leher kisanak? Satu kali tebasan saja, leher kisanak sudah putus.” ancam si Kerempeng. “Tidak mungkin kisanak. Sebab pedang bukan prajurit Allah, hanyalah sebuah benda mati.” Sekh Siti Jenar tetap tidak bergeming. “Keparat, lihat saja!” si Kerempeng mengayunkan pedang dibarengi dengan emosi, pedang tidak pelak lagi menghantam sasaran, sebab Syekh Siti Jenar tidak menghindar sedikit pun.
“Hentikan!” si Tambun berteriak, matanya terbelalak. “Diam kamu prajurit!” tiba-tiba terdengar suara yang menggetarkan, beberapa saat kemudian muncul sosok lelaki berjubah hitam, mengenakan blangkon. “Kanjeng Sunan Kalijaga,” si Tambun menahan kedip. Kemunculan Sunan Kalijaga yang baru keluar dari mesjid Demak sangat mengagetkan. Padahal Sunan Kalijaga tidak berbuat apa-apa hanya berteriak tidak terlalu keras, tapi si Kerempeng mematung sambil mengayunkan pedang.
“Hebat Kanjeng Sunan…” si Tambun menggeleng-gelengan kepala seraya menarik nafas dalam-dalam. “Selamat datang saudaraku, maafkan kelancangan prajurit Demak yang kurang memahami sopan-santun.” Sunan Kalijaga menatap Syekh Siti Jenar yang tidak bergeming. “Tidak memilikinya sopan-santun karena keterbatasan ilmu dan kedangkalan pengetahuan.” “Benar, Sunan.” tatapan Syekh Siti Jenar beradu dengan mata Sunan Kalijaga yang sejuk dan berwibawa, lalu menembus ke dalam batin.
Maka berbincanglah mereka melalui batin. Sejenak keduanya saling tatap, lantas terlihat ada senyum tipis yang tersungging. Lalu saling peluk dan saling tepuk bahu. Setelah itu terlihat gerakan tangan Sunan Kalijaga mempersilahkan tamunya untuk menuju masjid. Prajurit Tambun mengerutkan dahi, “Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa berbincang-bincang tanpa suara? Mungkinkah dengan saling menatap saja bisa berbincang-bincang?”
“Sudahlah Saudaraku sesama muslim, kita berbicara secara lahiryah saja, sebab akan membingungkan orang yang melihat.” ujar Sunan Kalijaga, seraya berjalan berdampingan menuju masjid Demak. “Baiklah, Sunan.” Syekh Siti Jenar mengamini. “Ilmu apa yang mereka miliki?” si Tambun mengikuti langkah keduanya dengan tatapan mata, hingga menghilang di balik pintu gerbang masjid Demak.
Lalu tatapan matanya berputar ke arah temannya yang baru saja bisa menggerakan tubuhnya. “Gendut, kenapa aku tidak bisa bergerak waktu terjadi pertemuan antara Kanjeng Sunan dan tukang sihir.” si Kerempeng mengelus dada, sambil menyarungkan lagi pedang ditempatnya. Kemudian duduk, setengah menjatuhkan pantatnya di atas ruput hijau, kakinya dilentangkan, nafasnya ditarik dalam-dalam. “Itu semua pengaruh ilmu yang mereka miliki. Kita sebagai prajurit biasa tidak mungkin bisa mencapai ilmu para wali. Berbincang-bincang juga cukup dengan tatapan mata, orang lain tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Sangat hebat.” si Tambun garuk-garuk kepala. Otaknya tidak sanggup memikirkan, apalagi menganalisis perilaku Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga.
“Gendut, sebenarnya apa yang tadi terjadi ketika saya jadi patung?” si Kerempeng masih belum paham. “Kenapa si tukang sihir itu disambut baik oleh Kanjeng Sunan Kalijaga? Bukakah kita tidak boleh mempelajari apalagi mengamalkan ilmu sihir, hukumnya musrik!” si Kerempeng memijit-mijit keningnya. “Tentu saja, sihir itu musrik dan tidak boleh dipelajari. Hanya saya tidak yakin kalau yang dimiliki oleh Syekh Siti Jenar itu ilmu sihir.” jawab si Tambun, mencoba memprediksi. “Lantas ilmu apalagi kalau bukan sihir? Lagi pula pembicaraannya melantur. Dia bilang Allah saja punya prajurit, itu aneh. Para Wali saja tidak pernah mengajarkan.” si Kerempeng garuk-garuk kepala. “Sudahlah, kita tidak boleh berburuk sangka! Mungkin ilmu yang kita miliki belum cukup untuk memahami Syekh Siti Jenar.” terang si Tambun, seakan tidak peduli.


“Silahkan masuk saudaraku, inilah masjid tempat kami berkumpul dan beribadah.” ujar Sunan Kalijaga, seraya mendapingi Syekh Siti Jenar memasuki masjid Demak. “Terimakasih,” Syehk Siti Jenar berjalan berdampingan dengan Sunan Kalijaga menuju ruangan tengah masjid, menghampiri wali delapan yang sedang berkumpul. “Selamat datang, Syekh.” sambut Sunan Bonang, menyodorkan kedua tangannya menyalami. “Silahkan,” “Siapakah Syekh ini?” tanya Sunan Muria.
Syekh Siti Jenar tidak menjawab, lalu menatap mata Sunan Kalijaga, menembus batinnya, seraya berbincang dengan batin. ‘Syekh, tidak seharusnya kisanak berbicara pada wali yang lain menggunakan batin. Pergunakanlah lahiryah kisanak, karena mereka bukan saya.’ ujar batin Sunan Kalijaga. ‘Saya kira mereka sama dengan kisanak. Jika demikian berarti mata batin mereka tuli dan buta. Hanya saudara Sunan yang paham batin saya. Baiklah jika saya harus berujar secara lahiryah, laksana orang-orang yang tidak paham pada dirinya dan….’
‘Sudahlah, Syekh saudaraku. Batin kita tidak harus berbicara seperti itu. Karena mereka bukan kita, kita bukan mereka. Punya cara masing-masing untuk memahami tentang wujud, maujud dan Allah. Mereka berlaku layaknya orang kebanyakan.’ “Apa yang sedang saudara bicarakan Sunan Kalijaga dan Syehk Siti Jenar? Sebaiknya kita kembali pada alam lahiriyah.” Sunan Bonang memecah keheningan. “Sebab yang hadir disini bukan hanya saudara berdua, ada yang lainnya.”
“Baiklah Kanjeng Sunan Bonang.” ujar Syekh Siti Jenar. Lalu dia duduk bersila disamping Sunan Kalijaga. “Siapakah sebenarnnya Syekh ini? Apakah termasuk para wali seperti kita-kita ini?” tanya Sunan Gunung Jati. “Saya Syekh Siti Jenar…” lalu melirik ke arah Sunan Kalijaga, seraya kembali ingin berbincang menggunakan batin. ‘Jangan, berbicaralah secara lahiryah.’ itu jawaban batin Sunan Kalijaga. Syekh Siti Jenar mengangguk, seraya meneruskan perkataannya,”..saya hanya manusia biasa dan rakyat jelata. Namun saya secara tidak sengaja mendengar perbincangan Kanjeng Sunan Bonang dan Kanjeng Sunan Kalijaga ketika di atas perahu. Waktu itu Kanjeng Sunan Bonang sedang mengamalkan ilmu ’saciduh metu saucaping nyata’…”
“Ilmu apa itu Kanjeng Sunan Bonang?” tanya Sunan Gunung Jati, melirik ke arah Sunan Bonang. “Ilmu ‘kun payakun’, jadilah, maka jadi. Apa pun yang diucapkan akan mewujud atau jadi.” terang Sunan Bonang. “…benar. Ketika itu wujud saya berupa seekor cacing tanah. Setelah mendengar wirid ilmu tadi, lalu saya amalkan, seketika wujud saya berubah menjadi sekarang ini. Maka wajar jika saya pun disebut Syekh Lemah Abang. Cacing tadi terbungkus tanah berwarna merah, hingga saat ini saya pun masih memiliki ilmu tadi serta sekaligus mempelajari Islam secara mendalam. Ilmu Islam yang saya pelajari sudah diluar dugaan, mencapai tahap ma’rifat, tidak terduga. Namun saya tetap bukan seorang wali seperti saudara-saudaraku yang berkumpul hari ini. Saya hanyalah rakyat jelata dari pedesaan yang berada di wilayah kekuasaan kerajaan Demak Bintoro.” Syekh Siti Jenar menerangkan.
“Andika tidak dianggap sebagai seorang wali karena asal-usul yang kurang jelas.” ucap Sunan Giri. “Saya bukan orang yang memiliki ambisi dan gila gelar, hanya untuk mendapat sebutan wali. Hingga saya pun menganggap bahwa diri saya hanyalah manusia biasa dan lahir sebagai rakyat kebanyakan. Namun kisanak menyebutkan tanpa asal-usul yang jelas. Padahal yang namanya manusia jelas memiliki asal-usul, jika menganggap bahwa manusia ada yang tidak memili asal-usul berarti kisanak tidak memahami siapa diri kisanak sebenarnya? Dari mana asal kisanak?” ujar Sekh Siti Jenar.
“Andika jangan memutar balikan ucapan dan bermain kata-kata!” suara Sunan Giri meninggi. ‘Syekh,’ Sunan Kalijaga menatap Syekh Siti Jenar, seraya berbicara dengan batin. ‘Saudaraku sebaiknya memaklumi keadaan secara lahiryah yang terjadi sekarang ini…’ ‘Baiklah,’ batin Syekh Siti Jenar memberi jawaban. “Kanjeng Sunan Giri, sudahlah! Kita tidak harus memperbincangkan asal-usul.” Sunan Bonang memahami pembicaraan batin Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga. “Sebaiknya kita berbincang tentang upaya penyebaran agama Islam di tanah Jawa ini.”
‘“Baiklah, Kanjeng Sunan Bonang.” Sunan Giri menyetujui. “Bukannya saya tidak ingin lama-lama berbincang-bincang dengan para wali yang agung di sini. Namun saya masih ada keperluan lain, disamping akan berusaha membantu para wali untuk menyebarkan ajaran Islam. Izinkanlah saya untuk berpamitan,” Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya. “Andika mesti ingat ketika menyebarkan agama Islam yang agung ini jangan sampai keluar dari aturan para wali.” ujar Sunan Giri.
“Mohon maaf, Kanjeng Sunan Giri. Karena saya bukan wali, tentunya tidak terikat dengan aturan wali. Mungkin saya akan mengajarkan dan menyebarluaskan agama Islam dengan cara saya sendiri.” Syekh Siti Jenar seraya menyalami semuanya, lalu Sunan Bonang dan yang terakhir Sunan Kalijaga. ‘Saudaraku selamat berjuang, mungkin pada akhirnya kita harus bertabrakan. Namun itu secara lahiryah….’ batin Sunan Kalijaga. ‘Tidak mengapa saudaraku Kanjeng Sunan Kalijaga…itulah tujuan menuju Allah dan jalan yang berlainan.’
Syekh Siti Jenar melepaskan tangan Sunan Kalijaga, seraya membalikan tubuhnya dan keluar dari masjid Demak diantar oleh tatapan para wali yang masih berdiri. “Kanjeng Sunan Kalijaga, benar tadi batinmu berujar pada Syekh Siti Jenar.” Sunan Bonang menatap Sunan Kalijaga. “Tinggal menunggu waktu, Kanjeng. Itu semua kehendaknya..” jawab Sunan Kalijaga. “Kanjeng Sunan Bonang, Kanjeng Sunan Kalijaga, apa maksud pembicaran andika berdua?” tanya Sunan Giri. Keduanya tidak berbicara lagi, karena sudah terdengar bunyi adzan Magrib, mereka menjawab, Allahu Akbar. Diikuti yang lainnya, meski dalam hati mereka menyimpan rasa penasaran dan keingin tahuan mengenai ucapan kedua wali tadi, untuk sementara disimpanya dalam hati masing-masing.


“Kanjeng Sunan Bonang, kayaknya kita agak kesulitan untuk menyebarkan Islam disini.” Sunan Kalijaga memandang kerumunan orang. “Kayaknya mereka lebih menyukai hura-hura dan gamelan, Kanjeng Sunan Kalijaga.” tambah Sunan Bonang, matanya memperhatikan orang yang berkerumun menju pasar seni. “Kita pun tidak perlu kalah, Kanjeng Sunan Bonang. Jika hanya mendengar kita berceramah kayaknya kurang tertarik, alangkah lebih baiknya kita pun harus mengadakan pendekatan budaya.”
Sunan Kalijaga tidak melepaskan pandanganya dari kerumunan orang, lalu duduk di tepi jalan di atas batang kayu yang lapuk. “Pendekatan budaya?” Sunan Bonang mengerutkan dahinya. “Benar, pertama kita melihat sesuatu yang mereka sukai. Kedua, kita harus masuk ke dalam sistem budaya masyarakat.” Sunan Kalijaga bangkit dan membalikan tubuhnya ke arah Sunan Bonang. “Seperti yang kita perhatikan, masyarakat Jawa sangat menyukai gamelan. Untuk itu kita turuti kesenangan mereka, tidak ada salahnya membuat gamelan…” “Membuat gamelan? Maksud Kanjeng Sunan supaya mereka mengerumuni gamelan yang kita tabuh. Upaya untuk mengumpulkan orang…” ujar Sunan Bonang.
“Ya, setelah mereka berkerumun karena tertarik dengan irama gamelan yang kita tabuh, disitulah kita berdakwah.”lanjut Sunan Kalijaga. “Berdakwah, orang akan bubar. Lantas mereka tidak akan pernah berkerumun lagi karena tertipu,” Sunan Bonang mengerutkan dahinya sejenak. “…maksud saya gamelan itu hanya penarik dan pembuka acara dakwah kita. Setelah itu tidak mengalun lagi….berarti selesai pertunjukan.”
“O, tidak seperti itu, Kanjeng Sunan Bonang. Gamelan harus terus mengalun, ketika kita menyampaikan pesan dakwah. Caranya juga bukan seperti yang biasa dilakukan para wali sebelumnya, namun ada canda dan filsafat.” terang Sunan Kalijaga. “Maksud, Kanjeng? Jika demikian gamelan itu dijadikan sarana dakwah, bukankah itu seperti lakon, yang didalamnya diselipi pesan-pesan.”
“Begitulah, Kanjeng Sunan Bonang. Namun sarana kita adalah wayang kulit. Karakter wayang yang kita ciptakan harus mencerminkan sosok orang baik, jahat, kejam, ulama, dan sebagainya. Karakter yang kita ciptakan adalah cermin lelaku kehidupan manusia.” Sunan Kalijaga, sejenak menatap awan yang melingkari puncak gunung, lalu kembali menatap lawan bicaranya. “Lelaku manusia yang berbuat baik akan menerima pahala baik, jahat pun sebaliknya. Setelah itu mereka bercermin, dalam karakter itu munculah sosok yang diteladani, yaitu karakter Kanjeng Nabi Muhammad dan para Sahabatnya.”
“Tapi kita tidak boleh mencipta Kanjeng Nabi dan para sahabat agung dalam sebuah bentuk ukiran..” sela Sunan Bonang. “Tentu, dan kita tidak akan berbuat seperti itu. Namun kita akan menciptakan karakter wayang yang memiliki lelaku Islam. Rukun Islam itu ada lima, maka ciptakan lima sosok wayang berkarakter cerminan muslim. Kanjeng Nabi itu punya empat sahabat terbaik, hingga menjadi lima dengan Junjunan Alam Rasulullah. Bentuklah Pandawa Lima, cerminan dari lelaku Kanjeng Nabi dan keempat sahabat terbaiknya. Lalu karakter jahatnya kita bentuk juga dari cerminan orang-orang jahat…” ujar Sunan Kalijaga. “Benar…” Sunan Bonang mengamini. Hingga keduanya berbicara panjang lebar membahas metode berdakwah dengan menggunakan gamelan sebagai pemikat dan wayang kulit sebagai medianya.


Matahari mulai menyelinap dibalik bukit, kirimkan sinar keemasan di langit sebelah barat. Awan berubah menjadi jingga, mengitari puncak pegunungan. Masa keemasan akan tiba seiring dengan perputaran roda kehidupan dan waktu. Lagu Ilir-ilir bergema sebelum waktu Magrib tiba, nyanyian bermakna mendalam ciptaan para wali. Rakyat menyanyikannya dengan gembira, ada yang memahmi akan makna dan maksudnya, ada pula yang masih buta akan isinya, ada pula yang hanya menikmati lirik dan syairnya saja. Bedug Magrib tiba, mereka berbondong-bondong menuju masjid Demak Bintoro untuk shalat berjamaah. Shalat Isya pun tidak mau mereka lewatkan, meski ajaran Islam belum diterima secara merata. Dakwah yang dilakukan sebagain Wali melalui media wayang kulit dan tabuhan gamelan sebagai daya tarik. Cara seperti itu benar-benar efektif bisa mengikat banyak orang berbondong-bondong memeluk agama Islam. Sunan Kalijaga melepas jubah kewalian, mengenakan pakaian serba hitam ala petani, rakyat jelata. Hingga tidak ada antara dirinya dengan rakyat. Rakyat lebih mudah didekati tanpa rasa curiga, karena Sunan Kalijaga berbaur didalamnnya.
“Kita belum juga menemukan jejak Syekh Siti Jenar,” ujar Loro Gempol. “Bukankah dia ke arah sini?” “Tidak mungkin, saya punya keyakinan jika Syekh Siti Jenar menuju pusat Kota Demak Bintoro.” potong Kebobenowo. “Kalau betul dia menuju Kota Demak, sangatlah sulit untuk menemukannya.” Lego Benongo menghentikan langkah, lalu duduk di atas batu di tepi jalan. “Benar juga, Benongo.” Kebo Benowo mengerutkan keningnya, langkah pun terhenti sejenak, matanya menatap jalan yang masih panjang. Menarik napas dalam-dalam. “Sebaiknya kita duduk-duduk disini sambil cari makan, menunggu Syekh Siti Jenar pulang. Jika memang dia dari pusat Kota Demak Bintoro, tentulah pulangnya akan melewati jalan ini.”
“Itu baru benar,” sahut Lego Benongo, langsung saja merebahkan tubuhnya di atas rumput hijau di bawah rindangnya pohon jalan. Sayap malam mulai mengembang, matahari telah menyelinap di balik bukit. Kelelawar beterbangan keluar dari sarangnya, bergembiraria menyambut datangnya malam. “Ki Benowo, hari sudah malam. Apakah kita mau tetap disini menunggu Syekh Siti Jenar?” tanya Loro Gempol bangkit dari duduknya. Kepalanya mendongak ke atas menatap langit yang mulai tampak dihiasi gemintang. “Benar juga, Gempol.” Kebo Benowo berdiri, menatap jalan yang terbentang panjang menuju pusat Kerajaan Demak Bintoro.
“Lihat! Mungkinkah dia yang kita tunggu?” “Syekh Siti Jenar?” timpal Lego Benongo. “Kelihatannya Syekh Siti Jenar, Ki Benowo.” ujar Loro Gempol gembira. “Hebat, wajahnya memancarkan cahaya terang, padahal dia tidak membawa obor atau lampu.” “Saya rasa itulah kehebatan ilmu yang dimilikinya.” duga Kebo Benowo. “Kita sudah benar menemukan seorang guru.” “Tapi apa mau Syekh Siti Jenar mengangkat kita sebagai muridnya?” Loro Benongo meragukan. “Kalau tidak mau kita bunuh saja!” geram Loro Gempol. “Kamu seperti tidak ingat saja, Gempol. Bukankah Syekh Siti Jenar itu sangat sulit dilukai?” Kebo Benowo mengingatkan.
“Mana mungkin kita bisa membunuh, apalagi mengancamnya agar diaNgkat jadi murid. Sebaiknya kita bersikap lunak pada orang yang memiliki ilmu tinggi seperti dia.” “Benar juga, Ki Benowo.” Loro Gempol mengagukan kepala. “Jika tetap tidak mau menerima kita sebagai muridnya?” “Kita coba saja dulu,” ujar Kebo Benowo. Syekh Siti Jenar telah mendekat, lalu melintas dihadapan Kebo Benowo dan kedua temannya. Syekh Siti Jenar sedikit pun tidak menyapa apalagi meliriknya, terus melangkah ke depan dengan tenang.
“Syekh,” Kebo Benowo mengerjanya. “Bolehkah saya berguru?” “Mengapa mesti berguru? Kepada siapa kisanak akan berguru?” Syekh Siti Jenar tidak menghentikan langkahnya, dan tidak melirik. “Karena saya ingin memiliki ilmu. Tentu saja saya ingin berguru pada Syekh Siti Jenar.” jawab Kebo Benowo. “Mengapa harus kepada saya? Ilmu apa pula yang kisanak inginkan dari saya.” ucap Syekh Siti Jenar. “Padahal saya manusia biasa seperti kisanak, bukan pemilik ilmu dan tidak memiliki ilmu apa pun. Baik kisanak atau pun ilmu ada yang memilikinya.” “Saya tidak mengerti pada ucapan, Syekh?” Kebo Benowo mengerutkan keningnya. “Kenapa jawaban Syekh membingunkan kami?” timpal Loro Gempol.
“Apanya yang membuat kisanak pada kebingungan? Saya tidak pernah membuat bingung orang lain apalagi menyusahkan orang.” Syekh Siti Jenar menghentikan langkahnya, lalu menatap ke tiga rampok tersebut. “Hanya kisanaklah yang ingin membuat susah dan menyusahkan diri sendiri.” “Apa maksud ucapan, Syekh?” ke tiga rampok hampir serempak menepuk dahinya masing-masing. Kepala seakan-akan mau pecah ketika mendengar setiap perkataan Syekh Siti Jenar.
“Saya manusia biasa seperti kisanak, bukan pemilik ilmu. Bukankah kisanak sendiri dan ilmu itu ada pemiliknya? Itukah yang membuat kisanak bingung?” tatap Syekh Siti Jenar, mengulang ucapannya. “Itulah yang tidak kami pahami. Karena kami orang awam, tidak tahu segala hal yang Syekh ucapkan.” Kebo Benowo berusaha mencerna ucapan Syekh Siti Jenar. “Syekh tadi mengatakan, kalau diri Syekh adalah manusia biasa seperti saya,” “Ya,” ”Bukankah Syekh memiliki ilmu yang hebat? Sedangkan kami tidak bisa apa-apa?” ujar Kebo Benowo.
”Saya tidak memiliki ilmu yang hebat. Kisanak mengaggap tidak bisa apa-apa, itu merupakan pernyataan yang sangat keliru.” Syekh Siti Jenar diam sejenak, matanya menatap satu persatu wajah orang yang diajak bicaranya. “Kenapa tidak mau mengakui kalau diri Syekh memiliki ilmu yang hebat.” sela Kebo Benowo. Pikirannya semakin sumpek mendengar setiap perkataan Syekh Siti Jenar yang bersebrangan dengan realita yang dia pahami. “Malah pengakuan saya dianggap keliru,”
“Memang benar kisanak sangat keliru.” Syekh Siti Jenar, mendongak ke atas langit, “Tataplah bintang gemintang yang ada di atas kepala kisanak nun jauh di langit.” “Apakah ada yang aneh dengan bintang-gemintang di langit?” tanya Kebo Benowo. Belum menemukan celah terang atas segala perkataan Syekh Siti Jenar, pikirannya semakin ngejelimet. “Bukan ada yang aneh atau tidak. Perhatikanlah bintang-bintang? Kenapa tidak jatuh ke bumi dan menimpa kepala kita? Pernahkah terpikir dalam benak kisanak, siapa yang menahannya di langit?” Syekh Siti Jenar kembali menatap ke tiga rampok tadi. “Benar juga. Tidak tahu. Mungkinkah kekuatan yang tidak nampak?” “Kenapa kekuatannya tidak nampak? Siapa pula yang memiliki kekuatan yang tidak nampak itu?” tanya Syekh Siti Jenar.
“Saya tidak mengerti Syekh? Jika memang ada kekuatan siapa pemiliknya?” “Dialah Allah. Allah itu penguasa semesta alam. Penggenggam setiap jiwa makhluknya.” ujar Syekh Siti Jenar.
“Kita kembali pada ucapan saya semula. Maksud saya itulah tadi.” “O…ya.” Kebo Benowo mengangguk-anggukan kepala, rupanya mulai ada titik terang di benaknya. “Jika demikian saya mulai terbuka dengan apa yang Syekh Siti Jenar uraikan tadi. Namun yang masih membingungkan, mengapa dianggap keliru jika saya mengatakan tidak bisa apa-apa di banding kisanak.”
“Jika kisanak mengatakan tidak bisa apa-apa, tentu saja mati. Hanya orang matilah yang tidak bisa apa-apa.” terang Syekh Siti Jenar. “Benar perkataan kisanak, Syekh.” Kebo Benowo mengangguk. “Namun maksud tidak bisa apa-apa disini bahwa ilmu yang saya miliki jauh dibawah kehebatan ilmu Syekh.” “Ya,” Syekh Siti Jenar mengangguk. “Itu bukan berarti bahwa saya lebih hebat dari kisanak. Hanya kisanak belum menemukan ilmu yang saya miliki.” “Itulah yang saya inginkan dari Syekh. Beritahu saya cara menemukan ilmu tadi.” ucap Kebo Benowo. “Akan saya tunjukan. Ikutlah kisanak ke padepokan saya!” Syekh Siti Jenar membalikan tubuhnya, kemudian melangkahkan kakinya dengan tenang. “Terimaksih, Syekh.” Kebo Benowo dan kedua temannya sangat senang akan diberi ilmu hebat yang dimiliki oleh Syekh Siti Jenar.


Walisongo terus menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Sunan Kalijaga berbeda cara dengan wali lainnya. Lebih menyukai berbaur dengan rakyat kebanyakan, tanpa mengenakan pakaian serba putih seperti yang lainnya. “Kanjeng Sunan Kalijaga, ternyata pendekatan budaya lebih bisa diterima ketimbang hanya membawa pesan belaka.” ujar Sunan Bonang. “Karena antara kita dengan mereka nyaris tidak ada jarak pemisah.” jawab Sunan Kalijaga. “Ternyata hanya dengan cara berpakaian saja, mereka sudah sulit didekati.”
“Benar,” Sunan Bonang memaksakan tersenyum. “Namun dibalik keberhasilan andika ternyata menuai protes dari sebagian wali, terutama Kanjeng Sunan Giri. Hingga pada hari ini andika harus menghadap mereka dipersidangan para wali.” tambah Sunan Bonang. “Tidak mengapa Kanjeng Sunan Bonang. Itulah resiko yang harus saya tanggung. Asalkan saya tidak menyimpang dari ajaran Islam,” Sunan Kalijaga menghela napas, seraya kakinya tetap melangkah beriringan dengan Sunan Bonang.
“Saya menyimpang hanya dalam soal budaya, yang semestinya tidak harus terjadi perbedaan paham seperti sekarang.” “Mungkin salah satunya itu.” Sunan Bonang mulai menginjakan kaki di gerbang masjid Demak. “Kita sudah sampai, Kanjeng.” “Silakan Kanjeng Sunan Bonang duluan,” Sunan Kalijaga memasuki masjid Demak beriringan dengan Sunan Bonang yang sudah terlebih dahulu masuk. “Selamat datang, Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kanjeng Sunan Bonang.” ujar Sunan Muria.
“Silahkan duduk, Sunan Giri dan para wali sudah menunggu.” Keadaan hening sejenak. Para wali saling tatap satu sama lainnya, tatapan Sunan Kalijaga beradu dengan Sunan Giri, lalu beralih ke Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, dan terakhir Sunan Bonang. Sunan Kalijaga masih beradu tatap dengan Sunan Bonang, saling menembus batin, saling bercakap. Sementara percakapan batin mereka tidak bisa ditembus oleh sebagian wali. “Pahamkah Kanjeng Sunan Kalijaga pada hari ini sidang para wali mengundang?” Sunan Giri membuka pembicaraan.
“Daripada saya menduga-duga, alangkah lebih baiknya jika Kanjeng Sunan Giri menjelaskan.” ujar Sunan Kalijaga tenang. “Tidakah andika menyadari akan tindakan yang dilakukan?” Sunan Giri melanjutkan. “Haruskah andika mengganti pakaian dengan mengenakan pakaian rakyat kebanyakan?” “Itukah yang ingin Kanjeng Sunan Giri persoalkan?” tatap Sunan Kalijaga. “Benar, karena tidak selayaknya seorang wali mengenakan pakaian serba hitam seperti halnya rakyat kebanyakan. Sudah semestinya seorang ulama atau wali memiliki ciri dengan mengenakan pakaian kebesaran yang serba putih, bersorban, dan lainnya.” urai Sunan Giri.
“Apakah setiap orang yang mengaku muslim akan batal keislamannya jika seandainya tidak berpakaian serba putih dan mengenakan sorban serta jubah?” tanya Sunan Kalijaga. “Tentu tidak. Selama dia tidak murtad atau keluar dari agama Islam.” jawab Sunan Giri. “Lalu apakah yang salah pada diri saya?” kembali Sunan Kalijaga bertanya. “Karena andika tidak mengenakan pakaian seperti halnya wali lain. Bukankah pakaian itu cermin dari seseorang yang mengenakannya? Juga pakaian serba putih itu ciri para wali?” ujar Sunan Giri.
”Saya tidak bisa disebut seorang ulama atau wali karena tidak mengenakan sorban dan pakaian serba putih? Jika hal itu alasannya maka saya tidak keberatan meski tidak disebut seorang ulama atau pun wali. Karena tujuan saya bukanlah ingin mendapat julukan dan dielu-elukan banyak orang. Namun tujuan utama saya adalah berdakwah di tanah Jawa ini agar orang mau berbondong-bondong masuk Islam, tanpa harus dibatasi oleh cara berpakaian dan latar belakang budaya yang mereka anggap asing.” urai Sunan Kalijaga.
“Untuk keberhasilan dakwah saya rela menanggalkan jubah putih, serta berbaur dengan rakyat jelata. Itu cara saya. Jika cara saya berbeda dengan Kanjeng Sunan Giri itu hanyalah masalah teknis, bukankah aqidah kita tetap sama?” Sunan Giri sejenak terdiam. Dahinya tampak dikerutkan, seakan-akan merenungi ucapan Sunan Kalijaga. Belum juga dia berbicara, Sunan Kalijaga melanjutkan perkataannya. “Bukankah rakyat kebanyakan berbondong-bondong masuk Islam, mereka tidak segan lagi bersama-sama saya untuk melakukan shalat berjamaah? Lantas sasaran Kanjeng Sunan Giri sangatlah terbatas, dengan hitungan tidak terlalu banyak dan ekslusif. Karena Kanjeng Sunan Giri menerapkan metode dakwah serta sasaran tertentu menurut Kanjeng.” ujar Sunan Kalijaga.
“Setelah saya renungkan dan saya pikirkan, baiklah kita tidak harus saling memaksaan dalam urusan metode dakwah.” Sunan Giri mencair. “Saya kira andika telah menyimpang dari Islam seiring dengan ditanggalkannya jubah putih, ternyata hanya cara yang berbeda.”
“Kenapa saya harus mengingkari ajaran Islam? Padahal dengan susah payah saya meraihnya. Tidak mungkin saya melepaskan ajaran Islam dari diri saya seperti halnya saya menanggalkan jubah putih. Itu berbeda, Kanjeng Sunan Giri.” tukas Sunan Kalijaga. “Saya lebih memilih melakukan pendekatan budaya, ketimbang menggunakan tata cara yang bersipat asing bagi mereka.” Masjid Demak Bintoro sejenak dalam keadaan hening. Tidak terdengar lagi suara yang bercakap-cakap, selain bergeraknya tasbih di tangan para wali.


“Inilah padepokanku, Kisanak!” ucap Syekh Siti Jenar. “Indah dan asri pemandangannya, Syekh.” Kebo Benowo tercengang melihat keindahan Padepokan Syekh Siti Jenar. Udaranya sejuk, keadaannya tenang, pohon hijau berselang dengan tanaman hias memagari jalan setapak yang sedikit menanjak menuju gerbang padepokan. “Tentu saja harus indah dan asri, karena Allah itu Maha Indah. Kita selaku umatnya sudah seharusnya menciptakan suatu keindahan, agar kita mudah menyatukan diri dengannya. Kita berdialog dengan Allah, yang memiliki segala hal dan menciptakan segala makhluk.” terang Syekh Siti Jenar. “Masuklah kisanak!” “Terimakasih, Syekh.” Kebo Benowo, masuk lebih dulu diikuti kedua teamnnya. “Sebab jika kita merasa tertarik pada sesuatu, tentu saja kita akan selalu ingin memandangnya dan merasa kerasan untuk menikmatinya.” Syekh Siti Jenar duduk bersila di atas tikar pandan. Dihadapannya Kebo Benowo dan kedua temannya.
“Sungguh benar yang Syekh katakan.” ucap Kebo Benowo datar. “Namun ruangan ini cukup luas, banyakkah orang yang berkumpul disini dan berguru pada, Syekh?” matanya mengitari seluruh ruangan. “Untuk apa saya membuat ruangan sebesar ini jika tidak ada orang yang mau menempatinya.” Syekh Siti Jenar melirik ke arah gerbang padepokan. “Lihatlah disana!” “Banyak sekali orang yang sedang menju ke padepokan ini?” Kebo Benowo dan dua temannya tercengang, melihat rombongan orang yang berduyun-duyun memasuki gerbang padepokan. “Jika demikian, bukanlah kami ini murid Syekh yang pertama.” “Itulah sebuah kenyataan.” ujar Syekh Siti Jenar tenang. “Jika demikian saya tidak akan bisa berkonsentrasi menyerap ilmu yang akan diajarkan Syekh?” wajah Kebo Benowo menggambarkan kekhawatiran. “Mengapa tidak, Kisanak? Sebab saya tidak memiliki ilmu apa pun, dan tidak pula menganggap istimewa satu sama lainnya. Karena mereka memiliki asal yang sama dan kembali pada tempat yang sama.” terang Syekh Siti Jenar. “O,…” Kebo Benowo dan temannya mengangguk-anggukan kepala. Namun tetap dalam hatinya merasa keberatan jika harus berjubel dan belajar dengan banyak orang. Karena tujuan mereka berguru ingin memiliki ilmu lebih dibandingkan dengan orang lain, tujuannya pun untuk menguasai orang lain. ——————- Pengikut dan murid Syekh Siti Jenar yang jumlahnya cukup banyak mulai memasuki ruang padepokan. Satu persatu mulai mengambil tempat duduknya masing-masing. Duduk bersila, berjejer memadati ruangan, pandangannya luru ke depan, memandang Syekh Siti Jenar dengan takjub. “Baiklah, jika semuanya sudah berkumpul kita mulai pelajaran ini.” Syekh Siti Jenar mulai mengajarkan ilmunya. “Saya akan memulai dengan pertanyaan. Darimanakah asalnya manusia?” matanya mulai memandang muridnya satu persatu. “Tentu saja manusia berasal dari kedua orang tuanya.” jawab Loro Gempol. “Terutama sekali ibunya yang melahirkan. Saya rasa semua orang juga tahu, Syekh.” urainya sangat percaya diri. “Jika jawabannya seperti itu, semua orang tahu. Maka saya tidak perlu memberitahukannya lagi.” terang Syekh Siti Jenar. “Lalu bagaimana menurut, Syekh?” Kebo Benowo menindaklanjuti pertanyaan temannya. “Secara lahiryah, manusia dilahirkan oleh seorang ibu. Ibu pun tidak akan bisa melahirkan tanpa pasangannya yang bernama suami.” sejenak menghentikan ucapannya. Matanya mulai menyisir wajah para muridnya yang dengan khusu memperhatikannya. “Ya, kami tahu.” Loro Gempol yang tidak sabaran selalu menyela. “Syekh, kedatangan kami kesini bukan untuk mempelajari ilmu seperti itu. Tapi kami meminta kesaktian yang Syekh punyai.” Loro Gempol seraya bangkit dari duduknya, tabiat rampoknya mulai tumbuh kembali. Andika terlalu tergesa-gesa, Kisanak.” Syekh Siti Jenar mengayunkan telunjuk dari tempat duduknya. ”Akkkhhhhh! Tolong!” tiba-tiba Loro Gempol terbanting, dan roboh di atas lantai. “Bukankah saya belum selesai berbicara?” Syekh Siti Jenar tidak mengubah posisi duduknya, “Mana bisa orang mendapatkan ilmu ma’rifatullah jika tidak bisa mengendalikan emosi.” “Aduhhhh…” Loro Gempol memijat-mijat bokongnya yang terasa sakit akibat benturan. “Maafkan saya, Syekh.” “Kembalilah andika ke tempat duduk!” perintah Syekh Siti Jenar. Sementara yang lainnya tidak ada yang berani menentang, apalagi berujar yang tidak karuan di depan orang yang memiliki tingkat kesaktian tinggi. Mereka termasuk para murid yang taat, karena sudah mulai mendalami sebagian ilmu yang diajarkannya. “Kenapa andika ceroboh, Gempol?” Kebo Benowo berbisik pada Loro Gempol yang telah duduk kembali disampingnya. “Bukankah andika sudah tahu, bagaimana kehebatan Syekh Siti Jenar ketika kita rampok. Masih untung andika tidak diusir dari padepokan ini.” “Memang saya ceroboh, Ki Benowo. Tapi saya tidak akan mengulang kesalahan ini,” bisik Loro Gempol. “Jika andika mengulang kesalahan, kemungkinan besar kita akan ditolak menjadi murid beliau.” Kebo Benowo merasa khawatir kalau tidak memperoleh kesaktian yang dimiliki Syekh Siti Jenar. ”Lupakanlah peristiwa tadi.” Syekh Siti Jenar menghela napasnya. ”Kita kembali pada pertanyaan semula. Darimana asalnya manusia?” “Darimanakah itu Syekh? Saya kira Syekhlah yang lebih tahu.” ujar Kebo Benowo. “Manusia berasal dari Allah. Dari dzat Allah yang menciptakannya. Seluruh manusia yang belum lahir kedunia ini berada pada suatu tempat yang bernama ‘bahrul hayat’.” berhenti sejenak. “Apakah itu, Syekh?” tanya Kebo Benowo. “Yaitu tempat hidup dan kehidupan. Disitu manusia merasakan kenikmatan yang tidak ada taranya. Manusia tidak pernah merasakan lapar, sakit, sedih, duka, lara, bahkan bahagia. Itu karena sangking nikmatnya kehidupan sebelum lahir ke dunia. Kita merasakan penderitaan, kesedihan, kemiskinan dan sebangsanya karena telah terlahir ke dunia ini. Bukankah sebelumnya kita tidak pernah merasakan penderitaan dan kemiskinan…” urai Syekh Siti Jenar. Para murid Syekh Siti Jenar sejenak merenungkan uraian gurunya. Mereka ada yang bisa mencerna dan memikirnnya, namun ada juga yang belum memahami maksud uraian tadi. “Jadi dunia ini tempatnya kita menjalani kesedihan, kemiskinan, kemelaratan, penderitaan, tertawa, bergembira. Setelah semuanya secara berurutan atau tidak kita alami, maka kembali berputar. Setelah sedih kita akan bahagia, setelah bergembira kita akan menangis….dan seterusnya.” Syekh Siti Jenar memandang ke setiap sudut. ——————- “Jika demikian kehidupan dunia ini berbeda dengan alam asal muasal kita, yang didalamnya tidak pernah terasa kesedihan, tidak pernah pula setelah bergembira kemudian bersedih. Bukankah disana nyaris kita tidak pernah merasakan apa pun, Syekh?” ujar Kebo Benowo, seraya menatap wajah Syekh Siti Jenar yang memancarkan cahaya. “Benar. Alam asal muasal manusia adalah alam milik dzatnya. Sehingga kita pun berada didalam kenikmatannya. Berbeda dengan alam yang sedang kita jalani sekarang.” lanjut Syekh Siti Jenar, tangan kanannya tetap memegang tasbih, sementara tatapan matanya terus berputar. Waktu terus merangkak pelan, menggiring para murid Syekh Siti Jenar pada ajarannya. Mereka semakin khusuk mendengarkan, hati mulai terbuka akan segala hal yang sebelumnya tidak diketahui.


“Syekh, andika membawa ajaran Islam. Padahal agama yang saya kenal sebelumnya adalah Hindu dan Budha.” ujar Kebo Kenongo. “Namun stelah saya perhatikan ternyata inti dari ke tiga agama tersebut memiliki kesaamaan.” “Benar, Ki Ageng Pengging.” ucap Syekh Siti Jenar, matanya menatap tajam wajah lelaki yang masih keturunan Majapahit. “Semua agama sebenarnya dari asal yang satu. Itulah tadi yang saya uraikan.” “Saya paham dan tertarik untuk mengambil kesamaan dari ke tiga ajaran tadi.” tambah Kebo Kenongo. “Hanya yang membedakan agama-agama tadi adalah lelaku lahiryahnya saja.” “Benar, Ki Ageng Pengging. Sebab hakikatnya sama, mencari yang namanya Sang Pencipta, Sang Pemilik, Sang Maha Perkasa.” ujar Syekh Siti Jenar, seraya jari jemari tangannya memberi gambaran simbol pada Kebo Kenongo. “Kita hanya bisa merasakan nikmat saat bergumul dengan Dzat Yang Maha Kuasa. Mungkin syariat dari ajaran Hindu dan Budha bersemadi, mungkin orang Islam dengan tata cara berdzikir, berdoa, dan Shalat. Tapi semua itu hanyalah bentuk pendekatan secara jasadiah saja, sedangkan batinnnya tertuju pada Yang Maha Segalanya.” urai Syekh Siti Jenar. “Benar, Syekh.” Kebo Kenongo sejenak memandang ke arah puncak gunung, “Kenikmatan kita saat bersemadi ketika wujud kita telah menyatu dengannya.” “Itulah Manunggaling Kawula Gusti.” terang Syekh Siti Jenar pelan. Lalu bangkit dari duduknya, melangkah pelan menyusuri jalan setapak di ikuti Kebo Kenongo menuju padepokan. “Mereka sedang memperbincangkan apa di atas sana?” Loro Gempol melirik ke arah Kebo Benowo yang sedang berdiri di halaman padepokan. “Kelihatannya sangat serius.” “Apalagi yang mereka perbincangkan kalau bukan masyalah ilmu.” jawab Kebo Benowo datar. “Mengapa mereka kelihatannya khusuk dan serius. Mungkinkah karena Syekh Siti Jenar berbincang-bincang dengan keturunan Majapahit? Sehingga dia memperlakukan Ki Ageng Pengging lebih istimewa dibandingkan dengan kita, mantan rampok.” tatapan mata Loro Gempol tertuju kembali pada Syekh Siti Jenar dan Kebo Kenongo, mereka sedang menuruni bukit menuju padepokan. “Andika jangan berprasangka buruk, Gempol!” Kebo Benowo memberi apalagi mengistimewakan satu dengan lainnya. Hanya Syekh Siti Jenar akan mudah diajak berbincang-bincang jika kita memahami yang dibicarakannya. Kita belum bisa dianggap selevel dengan Ki Ageng Pengging. Karena kita latar belakangnya rampok dan tidak pernah mengenal ajaran agama apalagi filsafat, sedangkan Ki Ageng Pengging sudah mengenal agama-agama sebelum datang ajaran Syekh Siti Jenar, ditambah lagi dia orang cerdas.” urai Kebo Benowo. “Mungkin ya…mungkin tidak?” Loro Gempol menghentikan pembicaraannya, karena mereka sudah mendekat. “Andika berdua memperbincangkan saya?” Syekh Siti Jenar menatap Kebo Benowo dan Loro Gempol. Keduanya hanya mengangguk dan selanjutnya menundukan kepala. Karena mereka baru menyadari kalau Syekh Siti Jenar memiliki ilmu batin yang sangat hebat. “Tidak mengapa, jika memang pertemuan saya dengan Ki Ageng Pengging menjadi bahan perbincangan andika berdua.” ujar Syekh Siti Jenar enteng. “Andika pun hendaknya bisa mencapai tahapan yang sedang kami perbincangkan.” melanjutkan langkahnya, di belakangnya Kebo Kenongo mengiringi. “Inti dari ajaran Manunggaling Kawula Gusti?” Kebo Kenongo memulai lagi perbincangan, setelah beberapa langkah jauh dari Loro Gempol dan Kebo Benowo. “Ya, ketika kita menyatu dengan Dzat Sang Pencipta, Allah.” terang Syekh Siti Jenar. “Disitu terjadi penyatuan antara Gusti dan abdinya. Setelah kita menyatu dengannya, apa masih perlu yang namanya dzikir, shalat, ritual?” ——————- “Bukankah tujuan dari dzikir, shalat, dan ritual itu untuk mendekatkan diri kita dengan Yang Maha Agung?” timpal Kebo Kenongo. “Benar sekali Ki Ageng Pengging.” langkahnya terhenti di tepi jalan, sejenak, lalu memandang awan yang berserak di langit biru. “Jika kita sudah dekat apalagi menyatu dengannya masihkah kita perlu melakukan upaya dan tata cara pendekatan?” “Tentu saja jawabnya tidak.” Kebo Kenongo menatap keagungan sinar yang terpancar dari wajah Syekh Siti Jenar. “Upaya pendekatan apalagi yang harus kita lakukan, jika kita sudah melebihi dari dekat. Apa pun yang kita inginkan bisa terwujud hanya dengan kalimatnya. Kun, jadi. Maka terjadilah!” tambah Syekh Siti Jenar. “Namun ketika kita sudah berada pada tahapan tadi, mana mungkin akan tertarik pula dengan urusan dunia dan seisinya. Karena lebih nikmat didalam kemanunggalan tadi dibandingkan dengan dunia dan segala isinya.” “Mungkin juga, Syekh.” Kebo Kenongo mengerutkan dahinya, mencoba mencerna uraian Syekh Siti Jenar. “Untuk meyakinkan segala hal yang saya katakan sebaiknya Ki Ageng Pengging mencobanya.” saran Syekh Siti Jenar. “Saya sering melakukan semedi dan tapabrata, Syekh. Namun yang dikatakan kemanunggalan kita dengan Sang Pencipta itu di sisi mana?” tanya Kebo Kenongo. “Ketika wah’datul wujud.” Syekh Siti Jenar menghela napas dalam- dalam. “Saya baru bisa menjelaskan lebih mendalam jika Ki Ageng Pengging mencoba, lalu ada perbedaan dari sebelumnya. Maka hal itu baru saya uraikan kembali menuju Manunggaling Kawula Gusti. Sebab tidak mungkin saya mengurai sebuah persoalan jika seandainya Ki Ageng tidak menjelaskan terlebih dahulu hal yang mesti dibahas.” Saya paham maksud, Syekh.” Kebo Kenongo menganggukan kepala.


“Saya mendapat kabar tentang pesatnya ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar.” ujar Sunan Bonang, duduk bersila di hadapan Sunan Kalijaga. “Saya juga demikian, Kanjeng.” Sunan Kalijaga mengamini. “Kenapa dia bisa berhasil dengan pesat dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Padahal dia bukanlah seorang wali?” Sunan Giri menyela. ”Benar, Kanjeng. Penyebaran ajaran dengan pesat di sini bukan berarti mayoritas, sebab Kanjeng Sunan Kalijaga pun cukup berhasil dalam upaya ini.” terang Sunan Bonang. “Tidak lupa pula para wali yang lain.” ”Bukankah kita pun sebagai para wali telah menyisir seluruh pulau Jawa dalam upaya penyebaran ajaran Islam?” ujar Sunan Giri. Sunan Bonang menatap Sunan Kalijaga, berbicara melalui batinnya. ’Bukankah maksud kita bukan urusan pesatnya penyebaran yang akan dibicarakan. Tetapi tentang isi ajaran yang disampaikannya.’ ‘Itulah yang membuat saya khawatir, Kanjeng Sunan Bonang. Namun mudah-mudahan yang kita khawatirkan itu tidak..’ “Kenapa andika berdua terdiam?” Sunan Giri menatap Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. “Ada apa?” ”Tidak, Kanjeng Sunan Giri. Kita hanya memaklumi saja kemampuan seorang rakyat jelata seperti Syekh Siti Jenar mampu mengembangkan dan menyebar luaskan ajarannya. Itu yang sedang kami renungkan.” terang Sunan Bonang. “Tetap saja pesatnya ajaran yang dia bawa penyebarannya tidak akan seluas para wali, termasuk pengaruh dan wibawanya. Mungkin hanya sekelompok kecil saja yang kemungkinan terserak di pelosok Negeri Demak Bintoro.” ujar Sunan Giri. “Namun itu bukan sebuah persoalan selama dia tidak menyimpang dari aturan para wali.” ‘Apa boleh buat, justru itulah nantinya akan menuai persoalan.’ batin Sunan Bonang. ——————- ‘Namun biarlah waktu yang menjawab, Kanjeng. Sebab kita tidak mungkin bisa merubah alur kehidupan yang akan terjadi. Bukankah kita hanya sebatas mengetahui dengan keterbatasan ilmu kita, Kanjeng.’ urai Sunan Kalijaga dengan bahasa batinnya.


Prajurit Demak yang pernah berhadapan dengan Syekh Siti Jenar, si Kerempeng dan si Tambun sedang berbincang-bincang di bawah pohon beringin menunggu giliran berjaga di gerbang alun-alun Demak Bintoro. “Syekh Siti Jenar ternyata temannya para wali.” ujar si Tambun. “Namun apakah dia juga termasuk salah seorang wali di antara wali songo?” matanya menatap si Kerempeng. “Tanyakan saja pada Kanjeng Sunan Kalijaga. Jangan pada saya!” jawab si Kerempeng tinggi. “Tapi jika melihat kesaktian dan kehebatan ilmunya saya yakin bahwa dia masih termasuk wali.” si Tambun mengerutkan dahinya, coba menebak-nebak. “Buktinya dengan Sunan Kalijaga sangat akrab, terkadang bicara melalui tatapan matanya. Tentang pembicaraannya tidak kita pahami.” “Andika sepertinya tertarik oleh Syekh Siti Jenar, Gendut?” si Kerempeng berdiri. “Benar,” jawab si Tambun tenang. “Saya jadi ingin memiliki ilmunya.” “Kenapa mesti berguru pada Syekh Siti Jenar yang tidak jelas asal usulnya? Bukankah Kanjeng Sunan Kalijaga juga sangat sakti dan beliau jelas asal usulnya.” terang si Kerempeng. “Ya, tetapi tidak mudah untuk mendapatkan ilmu dari para wali tanpa melalui tahapan-tahapan yang berat.” ujar si Tambun. “Apa bedanya dengan Syekh Siti Jenar?” si Kerempeng menyandarkan punggung ke pohon beringin. “Jelas beda. Kalau Syekh Siti Jenar sangat mudah memberikan ilmu,” tambah si Tambun. “Tahu dari mana?” si Kerempeng penasaran. “Itu dugaan saya.” jawab si Tambun. “Lha, baru menduga-duga. Saya kira sudah tahu dan yakin.” ucap si Kerempeng. “Meskipun hanya berupa dugaan tapi saya yakin.” si Tambun membetulkan penutup kepalanya. “Jika Syekh Siti Jenar sangat mudah memberikan ilmu. Makanya ingin membuktikannya, kalau tahu tempat tinggalnya atau padepokannya akan saya datangi.” jelas si Tambun seraya mengangkat tombak, langkah kakinya pelan menuju gerbang alun-alun Demak Bintoro untuk melaksanakan tugas mengganti yang lain. “Cari saja kalau mau!” ujar si Kerempeng melangkah dibelakangnya. “Saya rasa mudah mencari tempat tinggal orang sakti seperti Syekh Siti Jenar. Tentu orang-orang Demak Bintoro pada kenal seperti halnya para wali.” sama-sama menuju gerbang alun-alun. “Pasti.” si Tambun mengangguk-anggukan kepala. “Karena dia salah seorang dari wali, hanya saja tidak termasuk wali sembilan. Mungkin karena tidak tinggal di pusat kota Demak Bintoro. Mungkin juga dia punya tugas lain di pedesaan dalam penyebaran agama Islam?” langkahnnya terhenti tepat di depan gerbang alun-alun Demak Bintoro. “Kenapa andika punya dugaan, bahwa Syekh Siti Jenar seolah-olah ditugaskan menyebarkan ajaran Islam di Pedesaan?” tanya Si Kerempeng. “Pertama karena dia jarang berkumpul di dalam masjid Demak. Keduanya dia sangat terlihat akrab dengan Kanjeng Sunan Kalijaga yang memilki kesaktian seimbang dengannya.” terang si Tambun. “Bisa jadi?” si Kerempeng mengerutkan dahinya. “Namun meskipun Kanjeng Sunan Kalijaga orang sakti tapi pembicaraannya tentang agama bisa dipahami oleh kita, berbeda dengan Syekh Siti Jenar yang kadang-kadang ucapannya membingungkan kita?” ——————- “Itulah bedanya Kanjeng Sunan Kalijaga dengan Syekh Siti Jenar.” ujar si Tambun, berdiri tegak sambil memegang tombak. “Maksud andika?” “Kalau belajar dengan Kanjeng Sunan Kalijaga untuk sampai pada tahap atas harus bertahap, tidak bisa langsung. Sedangkan Syekh Siti Jenar bisa loncat pada tingkatan yang kita inginkan, buktinya dia berbicara yang tidak bisa kita pahami, berarti sudah bisa loncat.” si Tambun mencoba menerangkan. “Cerdas juga andika, Gendut.” ujar si Kerempeng. “Saya yakin Kanjeng Sunan Kalijaga mengajarkan dengan bertahap karena beliau melihat kemampuan orang yang menerima. Sedangkan Syekh Siti Jenar tidak, makanya pembicaraannya kadang-kadang melantur.” “Melantur itu menurut kita, karena kita ilmunya masih rendah. Coba saja jika kita sudah berada pada tahapan atas mungkin sangat paham pada setiap ucapan Syekh Siti Jenar.” bela si Tambun. “Tida mungkin,” si Kerempeng mengerutkan dahinya. “Masa dia pernah bilang kalau Allah itu punya empat prajurit? Bukankah Allah itu punya para Malaikat? Kenapa mesti ada lagi prajurit, aneh bukan?” tambahnya. “Justru itulah, kisanak.” si Tambun tersenyum. “Saya penasaran dengan yang disebut empat prajurit Allah oleh Syekh Siti Jenar. Siapakah itu? Dan mengapa prajurit Allah bisa diperintah juga oleh Syekh Siti Jenar. Kalau saya memiliki ilmu seperti itu dan menguasai prajurit Allah seperti dia tentu pangkat akan naik. Tdak lagi jadi prajurit tapi jadi Raja…hahaha.” “Mengkhayal,” si Kerempeng mencibir.


“Syekh, saya telah mencoba untuk menuju ‘manunggaling kawula gusti’.” Kebo Kenongo menghampar serban di depannya. Lalu berdiri. “Andika sekarang akan shalat?” Syekh Siti Jenar duduk bersila di sampingnya. “Bukankah andika telah mencoba menuju maunggaling kawula gusti?” “Benar, namun saya belum sampai. Sekarang saya akan shalat.” terang Kebo Kenongo. “Tujuan andika shalat?” Syekh Siti Jenar tersenyum. “Bukankah shalat jalan kita untuk menuju manunggaling kawula gusti, Syekh?” Kebo Kenongo mengerutkan dahinya. “Bukan.” ujarnya pendek. Syekh Siti Jenar memutar tasbih seraya mulutnya komat-kamit berdzikir. “Apakah harus berdzikir menuju maunggaling kawula gusti, Syekh?” tanyanya kemudian. “Tidak juga.” jawab Syekh Siti Jenar pendek. “Lantas, untuk apa shalat dan berdzikir?” kerutnya. “Bukankah Syekh pernah mengatakan kalau semua itu upaya untuk mendekatkan diri dengan Allah?” “Jika itu jawaban Ki Ageng Pengging benar adanya.” Syekh Siti Jenar sejenak memejamkan mata, kemudian membukanya lagi dan menatap Kebo Kenongo yang masih berdiri hendak shalat. “Bukankah mendekatkan diri kepada Allah sama saja dengan menuju manunggaling kawula gusti?” tanya Kebo Kenongo selanjutnya. “Tidak juga, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar. “Lantas?” “Manunggaling kawula gusti sangat berbeda dengan mendekatkan diri kepada Allah.” terang Syekh Siti Jenar. “Perbedaannya?” keningnya semakin berkerut. “Karena yang namanya dekat berbeda dengan manunggal. Manunggal bukanlah dekat. Dekat bukanlah manunggal.” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak. “Namun sekarang sebaiknya Ki Ageng Pengging shalatlah dulu, berceritalah setelah selesai mendirikannya.” tambahnya. “Baiklah, Syekh.” Keadaan di padepokan Syekh Siti Jenar sore itu terasa segar. Panas matahari tidak menyengat seiring dengan bayang-bayang manusia yang kian meninggi. ——————- Udara pegunungan terasa sejuk, pepohonan dan tumbuhan berdaun lebat menambah suasana asri. Padepokan yang ditata sedemikian rupa menambah khusuk para pencari ilmu. “Syekh…” Kebo Kenongo mendekat, “Shalat saya sudah selesai.” “Baiklah,” Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya, “Apa yang andika rasakan saat shalat?” “Tidak ada.” “Tidakah merasakan sejuknya udara pegunungan? Tidakkah andika melihat kain serban yang terhampar di tempat sujud?” lanjut Syekh Siti Jenar. “Tidak,” jawab Kebo Kenongo. “Tidakkah andika mendekati Allah?” tanyanya kemudian. “Saya tidak merasakannya. Tidak pula menjumpainya.” ujar Kebo Kenongo. “Mungkin shalat saya terlalu khusuk.” Syekh Siti Jenar menengadah ke langit, lalu duduk bersila di atas rumput hijau yang dihampari tikar pandan. Gerak-geriknya tidak luput dari pandangan Kebo Kenongo. “Lihatlah!” kedua tangannya ditumpuk di bawah dada. Tiba-tiba tubuhnya mengangkat dari tikar yang didudukinya dengan jarak satu jengkal, dua jengkal, satu hasta, dua depa. “Apa yang terjadi, Syekh?” Kebo Kenongo garuk-garuk kepala, keningnya berkerut-kerut. “Ini hanyalah bagian terkecil akibat dari pendekatan dengan Allah…” dalam keadaan melayang, matanya menatap tajam ke arah Kebo Kenongo. “Hasil pendekatan? Jadi bukan manunggaling kawula gusti?” dengan menahan kedip Kebo Kenongo bertanya. “Saya belum menerangkan tentang manunggaling kawula gusti. Namun kita tadi berbicara tentang upaya pendekatan…” terang Syekh Siti Jenar, perlahan menurukan kaki satu persatu hingga akhirnya kembali menyentuh tanah. “Dengan jalan shalatkah?” tanya Kebo Kenongo. “Bukankah saya tadi waktu shalat tidak menemukan apa pun, bahkan tidak bisa melakukan seperti yang Syekh perlihatkan.” “Jangan salah ini bukan shalat! Namun shalat adalah salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Shalat tadi merupakan syari’at bagi pemeluk Islam, juga ibadah bagi hamba atau abdi Allah. Maka hukumnya wajib.” urai Syekh Siti Jenar, “Namun ketika orang belum lagi menemukan hakikat dari shalat, itulah seperti yang Ki Ageng Pengging rasakan.” “Hampa.” desis Kebo Kenongo, seraya menatap Syekh Siti Jenar dengan penuh kekaguman. “Kebanyakan orang adalah seperti itu, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar melangkah pelan. “Jika demikian saya baru berada pada tahapan syari’at. Bisakah saya menemukan hakikat yang dimaksud oleh Syekh Siti Jenar?” Kebo Kenongo seakan-akan kehilangan gairah. “Hakikat menuju pada pendekatan sebelum manunggaling kawula gusti, maka seperti yang pernah saya jelaskan pada Ki Ageng. Kita meski berbeda agama namun bukanlah andika harus memaksakan syari’at ajaran yang saya miliki untuk Ki Ageng kerjakan. Karena kebiasaan andika adalah bersemadi. Bukankah dengan cara itu andika merasakan hal yang berbeda, terutama dalam upaya pendekatan.” Syekh Siti Jenar kembali mengurainya. ——————- “Benar, Syekh.” sejenak Kebo Kenongo merenung.


“Syekh, maafkan kami menghadap.” ujar Kebo Benowo dan dua temannya. “Katakanlah!” Syekh Siti Jenar menatap Kebo Benowo dan teman-temannya. “Kalau boleh, saya menginginkan ilmu yang Syekh miliki. Namun hendaknya Syekh tidak marah terhadap permintaan saya.” Kebo Benowo dengan nada pelan. “Jika seandainya saya memiliki ilmu maka tidaklah keberatan untuk memberikan. Sudah sepatutnya ilmu itu diamalkan.” jawab Syekh Siti Jenar. “Ilmu jika semakin sering diamalkan dan diajarkan maka akan semakin bertambah. Namun sebaliknya jika ilmu itu tidak pernah diamalkan (dibagikan) apalagi kikir untuk mengajarkannya, secara perlahan akan hilang dari diri kita. Hendaklah tidak ditukar dengan emas atau uang, apalagi dijual belikan, kalau tidak ingin hilang hakikatnya.” urainya kemudian. “Ya, Syekh. Jadi kalau begitu saya bisa memohon kepada Syekh untuk diajari ilmu.” Kebo Benowo semeringah kegirangan. “Ternyata Syekh sangatlah baik, berbeda dengan orang-orang yang memiliki ilmu tinggi lainnya. Mereka selalu meminta imbalan, kalau tidak berupa tumbal.” “Apa yang andika inginkan dari ketidaktahuan saya?” tanya Syekh Siti Jenar. “Syekh selalu merendah. Saya menginginkan ilmu untuk bertarung, dan ilmu untuk mengubah daun menjadi emas.” ujar Kebo Benowo. “Bukankah andika sudah jago bertarung? Mengapa mesti saya yang mengajari?” Syekh Siti Jenar membetulkan duduknya. “Untuk apa bisa mengubah daun menjadi emas?” “Dalam urusan bertarung secara fisik saya bisa. Namun saya masih kalah dengan ilmu Syekh waktu bertarung saat itu.” Kebo Benowo menelan ludah. “Juga jika saya bisa mengubah daun menjadi emasmaka saya akan menjadi orang kaya raya seantero negeri Demak Bintoro.” “Baiklah, pelajarilah itu.” ujar Syekh Siti Jenar. “Bagaimana cara mempelajarinya?” tanya Kebo Benowo mengerutkan keningnya. “Dekatkanlah diri andika pada Sang Pencipta, niscaya apa pun yang andika inginkan akan terkabul. Karena Sang Penciptalah yang memiliki segalanya.” terang Syekh Siti Jenar. “Caranya itu yang susah, Syekh. Harus bagaimana?” ——————- “Banyak cara untuk menuju Allah. Laksanakanlah itu, baru andika akan bisa. Mintalah apa yang andika inginkan.” terang Syekh Siti Jenar. “Saya tidak mengerti dan paham, Syekh.” Kebo Benowo garuk-garuk kepala. “Saya ingin langsung bisa tanpa harus melalui tahapan rumit yang Syekh sebutkan. Mustahil Syekh tidak bisa memberikannya.” “Tidak mustahil bagi Allah. Jika memang Dia menghendaki. Jadi, maka jadilah.” ujar Syekh Siti Jenar. “Saya sudah bisa?” Kebo Benowo bangkit dari duduknya, lalu memetik selembar daun basah dan diusapnya dengan kedua telapak tangan. “Wahhh…benar-benar hebat ilmu yang Syekh berikan. Saya sudah bisa mengubah daun menjadi emas. Terimakasih Syekh!” berjingkrak-jingkrak kegirangan. “Saya juga, Syekh?” Loro Gempol bangkit dan mencabut golok dari sarungnya, “Lego Benongo, babatlah tubuh saya dengan golok ini. Cepat!” menyodorkan golok pada temannya. “Baik, bersiaplah!” tanpa ragu-ragu lagi Lego Benongo membabatkan golok pada Loro Gempol yang berdiri tegak. “Hiaaaaaaattttt….!!!” “Hebat, benar-benar hebat.” Loro Gempol ternyenyum bahagia, ketika tubuhnya dibabat oleh Lego Benongo tidak merasakan apa pun bahkan seperti membabat angin. “Sudah, Benongo. Cukup!” lalu duduk bersila dihadapan Syekh Siti Jenar. “Itu yang kalian inginkan. Sudah saya berikan.” Syekh Siti Jenar menggenggam tasbih dengan tangan kirinya. “Terimakasih, Syekh. Syekh telah mengajarkan dan mengamalkan ilmu kepada kami semua dengan satu kalimat, hingga keinginan kami tercapai.” Kebo Benowo tampak senang, begitu juga temannya. “Kami tidak akan pernah melupakan jasa baik Syekh, yang telah kami anggap sebagai guru. Untuk itu izinkanlah kami pulang kampung.” “Kembalilah, karena hanya itu yang kalian ingin raih.” Syekh Siti Jenar masih dalam keadaan bersila, terdengar mulutnya komat-kamit membacakan dzikir, sambil memutar tasbih. Perlahan-lahan tubuhnya samar dari pandangan Kebo Benowo dan temannya. Hingga akhirnya tidak terlihat. “E..eh, menghilang!” Kebo Benowo menggosok-gosok kedua matanya, begitu juga ke dua temannya. “Aneh, kemana beliau?” “Ya, hebat.” Loro Gempol memutar matanya menatap ke segala arah, menyisir keberadaan Syekh Siti Jenar, “Benar-benar lenyap.” “Tidak jadi soal. Karena apa yang kita inginkan telah kita peroleh. Disamping itu kita pun sudah meminta izin untuk kembali ke kampung. Menghilangnya Syekh Siti Jenar berarti merestui kita semua. Mari kita turun dari padepokan ini!” Kebo Benowo bangkit dari duduknya, diikuti temannya. Mereka pun turun dari padepokan menuju kampungnya.


“Kalian orang-orang miskin! Sebaiknya tunduk dan takluk pada saya.” Loro Gempol berkacak pinggang di hadapan orang-orang yang berbondong-bondong menuju tempa sabung ayam. “Keparat! Apa maumu?” Joyo Dento pemimpin kelompok sabung ayam “Masa andika tidak mendengar? Bukankah saya menyuruh andika dan kawan-kawan agar tunduk!?” Loro Gempol dengan sorot mata meremehkan. “Tunduk? Jangan harap, keparat!” Joyo Dento mencabut keris dari sarungnya. “Memangnya andika seorang senapati? Enak saja.” “Hahaha…ternyata andika punya keberanian Joyo Dento?” Loro Gempol tidak bergeming melihat ketajaman ujung keris yang terhunus. “Kawan-kawan, habisi dia!” perintah Joyo Dento pada temannya. “Majulah kalian semua! Buktikan kehebatan kalian jika memang sanggup membunuhku…hahaha!” Loro Gempol tertawa renyah. “Matilah andika keparat!” Joyo dento menyodokan keris ke arah uluhati. Diikuti empat orang temannya, menyodok perut, membabat leher, punggung, kepala, dan kaki. “Hahahaha….hanya ini kemampuan kalian!” Loro Gempol menanatang. “Ayo teruskan…hahaha!” sedikit pun tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Membiarkan lawan melakukan serangan. “Gila?” Joyo Dento menghentikan gerakan, tenaganya merasa terkuras. Begitu pula teman-temannya. “Ilmu apa yang dimiliki si Loro Gempol? Rampok kampungan ini mendadak punya kesaktian yang luar biasa. Seluruh senjata yang kita gunakan untuk mecabik-cabik tubuhnya, laksana menghantam angin?” mengerutkan keningnya. “Percaya kalian sekarang dengan kesaktian saya?” Loro Gempol dengan tangan kiri berkacak pingging, tangan kanannya memutar kumis. “Darimana andika punya ilmu sihir?” tanya Joyo Dento. ——————- “Hahaha…ini bukan ilmu sihir bodoh! Tapi ilmu miliknya orang sakti yang berasal dari Sang Pencipta Alam Semesta.” ujar Loro Gempol. “Percaya kalian sekarang pada saya? Jika percaya dan tidak punya lagi keberanian sebaiknya jadi pengikut saya! Tunduk pada saya!” “Mana mungkin saya harus tunduk pada andika? Sedangkan saya belum andika kalahkan.” tantang Joyo Dento. “Jadi kalian mau saya musnahkan ketimbang tunduk pada saya?” Loro Gempol menghunus goloknya. “Sebaiknya kita ikuti saja keinginannya.” ujar teman Joyo Dento, meringis ketakutan. “Benar, Kang. Sebaiknya kita jadi pengikutnya saja ketimbang dihabisi.” bisik yang lainnya. “Benar juga. Ketimbang kita mati mengenaskan.” jawab Joyo Dento, seraya kakinya mundur beberaba langkah. “Ayo pikirkan sekali lagi! Saya masih memberi kesempatan pada kalian. Pilih mati atau jadi pengikut saya?” ujar Loro Gempol sembari menyilangkan golok di depana dadanya. “Kami menyerah saja, Ki.” ujar Joyo Dento serempak. “Hahaha…bagus. Kenapa tidak dari tadi kalau mau menyerah, untung saja golok ini belum bersarang pada leher kalian.” Loro Gempol kembali menyarungkan goloknya. “Ikutlah kalian ke tempat saya.”


“Syekh, ternyata saya lebih bisa merasakan mendekati Sang Pencipta dengan cara bersemadi.” Kebo Kenongo melangkah pelan di samping Syekh Siti Jenar. “Karena Ki Ageng Pengging sudah terbiasa dengan cara itu.” ujar Syekh Siti Jenar pandangannya tertunduk ke ujung kaki. “Benar, seperti Syekh sampaikan. Cara pendekatan dan kebiasaan ternyata tidak mudah untuk dirubah. Namun ketika kita menggunakan jalan yang berbeda ternyata memiliki tujuan sama.” Kebo Kenongo menghela napas dalam-dalam. “Kenapa? Ya, karena itulah yang disebut manunggal. Satu.” terang Syekh Siti Jenar, menghentikan langkahnya seraya matanya menatap puncak gunung yang berkabut. “Benar, Syekh. Orang melakukan tata cara dan ritual dalam wujud pisik yang berbeda namun tujuannya tetap satu. Sang Pencipta.” tambah Kebo Kenongo. “Satu harapan untuk mendapatkannya. Mendekatkannya, meraihnya, dan manunggal.” terang Syekh Siti Jenar. “Namun belum manunggaling kawula gusti, yang akhirnya wahdatul wujud.” “Lantas?” “Mereka mendekatkan diri kepadanya bukan untuk tujuan manunggal, tetapi untuk mengajukan berbagai macam permohonan dan keinginan. Karena mereka lebih mencintai urusan lahiriyah yang cenderung duniawi ketimbang urusan alam kembali, akhirat.” Syekh Siti Jenar melirik ke arah Kebo Kenongo. “Bukankah ada juga orang yang tidak terlalu tertarik pada urusan lahiriyah saja? Namun mereka menginginkan kesempurnaan hidup dan masuk dalam tahap akrab dengan Sang Pencipta?” kerut Kebo Kenongo, tatapannya mendarat pada wajah Syekh Siti Jenar yang bercahaya. “Itulah yang jumlahnya sangat sedikit, Ki Ageng Pengging.” lalu Syekh Siti Jenar memberi isyarat dengan jari jemari tangannya. “Kecenderungan orang melakukan pendekatan pada Allah karena mengharapkan sesuatu, atau orang tadi dalam keadaan susah. Ketika mereka merasa senang dan bahagia, lupalah kepadanya.” “Mengapa, Syekh?” ——————- “Karena tujuan pendekatan mereka untuk meraih dan memohon kebaikan lahiriyah saja.” terang Syekh Siti Jenar. “Ketika merasa sudah terkabul keinginannya, kemudian melupakan Allah.” “Bukankah tidak semua orang seperti itu, Syekh?” tanya Kebo Kenongo. “Tidak, hanya hitungannya lebih banyak.” Syekh Siti Jenar melipat jari jemarinya. “Sangat sedikit orang yang punya kecenderungan untuk mengikat keakraban dengan Sang Pencipta. Padahal tahap terkabulnya permohonan mereka bukan karena akrab, tapi dalam upaya mendekat dan kemahamurahannya saja. Jika seandainya mereka sudah merasa akrab dan berada dalam keakraban tidak mungkin melepas ikatannya semudah itu.” urainya. “Jika sudah akrab saya kira tidak mungkin orang untuk menjauh. Karena untuk mengakrabi perlu upaya mendekatan yang memerlukan waktu tidak sebentar.” Kebo Kenongo mengangguk-anggukan kepala. “Ya, maka tahap akrab dengan Allah itulah ketika orang dalam keadaan ma’rifat. Ketika kita tidak memiliki lagi garis pemisah untuk saling bertemu. Kapan pun, dimanapun, tidak ada lagi sekat-sekat dan ruang kosong sebagai jeda untuk mengakrabinya.” Syekh Siti Jenar menghela napas dalam-dalam. “Ya, ya, benar, Syekh.” Kebo Kenongo berkali-kali mengangguk-anggukan kepalanya. “Nah, pada tahap akrab itulah kita meminta apa pun tidak mungkin tertolak. Mana ada keakraban tanpa adanya keterikatan kasih sayang?” Syekh Siti Jenar perlahan melangkah lagi. “Tentu, Syekh. Saya sangat paham.” Kebo Kenongo terkagum-kagum dengan uraian Syekh Siti Jenar. “Keakraban dengan Allah tidak mudah. Namun ketika kita sudah berada dalam lingkarnya tidak mudah pula untuk melepas.” Syekh Siti Jenar berdiri mematung di bawah pohon kenanga. “Benar, meski saya pun dengan susah payah mendekat untuk meangkrabinya belum juga sampai. Karena upaya saya bukan hanya untuk mendekat dan mengajukan berbagai permohonan. Namun ingin mengakrabinya.” ujar Kebo Kenongo. “Jika dalam keadaan sangat akrab bukankah tidak memohon pun akan diberinya?” “Ya,” ujar Syekh Siti Jenar. “Berjuanglah dan bergeraklah ke arah sana. Jika sudah tercapai, keinginan lahiryah pun secara perlahan tidak lagi menjadi persoalan yang sangat istimewa. Itu semua dirasakan hanyalah sebagai pelengkap lahiryah saja. Sebagai syarat hidup.” ——————- “Benar, Syekh.” Kebo Kenongo kembali mengiringi langkah Syekh Siti Jenar. “Padahal tidak hanya Raden Patah yang memiliki darah biru dan sekarang menjadi Penguasa Demak Bintoro. Saya pun masih keturunan Majapahit. Namun saya tidak punya hasrat sedikit pun untuk menjadi penguasa. Tujuan saya bukan itu, tetapi seperti Syekh terangkan tadi.” “Keinginan lahiryah itulah yang memenjarakan kita menuju ma’rifat. Ruang kosong, antara, jarak, jeda, pemisah, yang merintangi keakraban kita dengan Sang Pencipta.” terang Syekh Siti Jenar. “Perintang tadi berupa semua keinginan lahiryah yang distimewakan oleh nafsu keduniawian, karena ingin berkuasa, ingin kekayaan, dan banyak keinginan. Itu semua yang dinomor satukan. Lahirnya keserakahan.” “Jika itu yang masuk ke dalam jiwa dan pikiran, hati ini akan terasa gelap.” ujar Kebo Kenongo. “Mana mungkin menuju akrab untuk mendekat pun kita harus mencari cahaya jika tidak tentu membabi buta.” “Nah, itulah penggoda manusia untuk meraih keakraban dengan Allah. Jernihkan hati, tenangkan jiwa, damaikan gejolak nafsu, merupakan upaya untuk membuka jalan keakraban.” tambah Syekh Siti Jenar. “Manusia terkadang sangat sulit menyusuri jalan yang penuh dengan godaan tadi. Karena dalam dirinya memiliki nafsu yang sangat sulit untuk dikendalikan. Itulah upaya perjuangan menuju keridloannya. Menuju akrab pada Allah. Terkadang manusia hanya sebatas berucap dibibir, bahwa dirinya telah akrab tetapi dalam kenyataannya tidak. Lalu mengakui bahwa saya telah ma’rifat. Sebenarnya ma’rifat bukan sebuah pengakuan, tetapi realitas dalam tahapan akrab. Terbelenggulah dengan ikatan kata-kata.” “Ya.” Kebo Kenongo menghentikan langkahnya seiring dengan Syekh Siti Jenar. “Adakah perbedaan antara ma’rifat dengan akrab? Atau memang sama ma’rifat adalah akrab, sedangkan akrab adalah ma’rifat?” tanyanya kemudian. “Orang yang sudah ma’rifat tentu akrab. Orang yang sudah akrab tentu sudah ma’rifat.” terang Syekh Siti Jenar, jubahnya yang berwarna hitam berlapis kain merah tersibak angin pegunungan. “Ma’rifat itu sendiri?” kerut Kebo Kenongo. “Tahu, Mengetahui.” berhenti sejenak. “Namun tidak cukup itu, tentu saja harus diurai dengan maksud dan makna yang terarah. Mengetahui tentang apa? Tahu tentang apa? Tentu saja tentang dirinya dan Tuhannya. Bukankah terkait dengan makna akrab. Sehingga ada istilah kalau ingin mengenal Gustimu, Allahmu, maka harus mengenal dirimu sendiri.” Lanjut Syekh Siti Jenar. “Saya pernah mendengar, Syekh.” Kebo Kenongo merenung. “Bukankah Tuhan itu lebih dekat dari pada urat leher dan lehernya, bola mata putih dengan hitamnya?” “Tentu,” Syekh Siti Jenar melirik ke samping. “Namun itu sifatnya umum. Tidak masuk ke dalam makna akrab. Bahkan ma’rifat juga mungkin tidak.” “Bukankah untuk menuju ma’rifat pun tidak mudah, Syekh? Tetapi ada tahapannya, yaitu Syariat, hakikat, tharikat, dan akhirnya ma’rifat.” ujar Kebo Kenongo. ——————- “Harusnya demikian.” Syekh Siti Jenar memutar lehernya seiring dengan tatapan matanya, tertuju ke puncak pegunungan. “Bukan berarti orang harus memahami tahapan tadi. Karena tanpa memahami tahapan tadi pun orang bisa berada dalam tingkat ma’rifat, disadari atau diluar kesadarannya. Sebab tidak semua orang wajib tahu tentang sebuah istilah, yang penting adalah sebuah pencapaian, lantas bisa merasakannya.” “Bukankah istilah tadi hanya ada dalam agama Islam yang dianut Syekh sendiri.” tambah Kebo Kenongo. “Sedangkan dalam agama yang saya pahami tentu saja punya nama yang berbeda.” “Benar,” timpal Syekh Siti Jenar. “Namun tetap maksudnya sama. Hanya sebutannya saja yang berbeda. Sehingga saya tadi mengurai seperti itu.” “Ya.” Kebo Kenongo menganggukkan kepala. *** “Ki, saya sudah berhasil mengumpulkan orang-orang untuk dijadikan pengikut kita.” ujar Loro Gempol menjatuhkan patatnya di atas kursi rotan. “Saya juga sama, Ki.” timpal Lego Benongo. “Mau kita apakan mereka, Ki?” “Menurut kalian?” Kebo Benowo balik bertanya. “Ki, bukankah andika masih keturunan dari raja-raja yang ada di tanah Jawa?” Loro Gempol menatap wajah Kebo Benowo. “Siapa turunan raja? Raja rampok yang andika maksud?” Kebo Benowo tersenyum. “Kenapa andika pun berbicara seperti itu, Gempol?” “Maksud saya, tidak lain mengumpulkan banyak pengikut tidak untuk dijadikan rampok, tapi mereka kita jadikan prajurit yang tangguh.” terang Loro Gempol. “Jadikan prajurit? Memang andika mau mengadakan pemberontakan pada raja Demak yang sah?” tatap Kebo Benowo. “Benar, rajanya andika, Ki.” Loro Gempol menganggukan kepala. “Saya jadi patih, sedangkan Lego Benongo sebagai Senapati. Joyo Dento kita angkat sebagai Panglima.” terangnya. “Andika ini tidakkah sedang bermimpi disiang bolong, Gempol.” Kebo Benowo terkekeh. “Mengapa bertanya seperti itu, Ki?” Loro Gempol mengerutkan dahinya. “Bukankah andika layak menjadi seorang raja. Kita sudah banyak pengikut. Kita punya kesaktian dan uang, yang belum kita miliki adalah kekuasaan dan wilayah, karena saat ini sedang dikuasai Demak. Tidak ada salahnya jika Raden Patah kita taklukan, berada dalam perintah kita.” urainya. “Gempol, andika jangan berpikir terlampau jauh.” Kebo Benowo bangkit dari duduknya. “Kenapa aki selalu berbicara seperti itu. Tidakkah aki yakin pada kekuatan kita, bukankah banyak pengikut, bisa menciptakan uang, dan ilmu yang tinggi.” Loro Gempol meninggi. “Bukan demikian maksud saya, Gempol.” Kebo Benowo diam sejenak. “Meski kita punya banyak pengikut, menciptakan uang dan emas, serta ilmu tinggi, tentu saja semuanya tidak sebanding dengan kekuatan Penguasa Demak, Raden Patah. Selain itu mereka memiliki para wali yang selalu mendampingi dan memakmurkan masjid demak. Mereka semua memiliki ilmu yang cukup tinggi, kita tidak ada apa-apanya dibanding mereka.” urainya. “Benar juga ya, Ki.” Loro Gempol mengerutkan dahinya. “Namun untuk menghadapi para wali bukankah kita punya guru yang hebat, Syekh Siti Jenar, beliau bisa menghadapi para wali.” “Andika jangan berpikir seperti itu, Gempol.” Kebo Benowo bangkit dari duduknya. “Karena Syekh Siti Jenar bukan orang yang gila kekuasaan. Mana mungkin dia mau melakukan pemberontakan dan meraih kekuasaan. Syekh Siti Jenar adalah orang yang sangat bersahaja, tidak tertarik pada urusan duniawi apalagi kedudukan dan kekuasaan. Beliau adalah ulama yang telah menyatu dengan Sang Pencipta. Mustahil tertarik dengan hal-hal yang berbau lahiryah. Karena menurut beliau kesenangan lahiryah hanyalah sekejap, yang paling nikmat adalah ketika beliau berada dalam tahap manunggaling kawula gusti. Bukan begitu? Tentu berbeda dengan kecenderungan kita.” terangnya. “Baru terpikirkan, Ki.” Loro Gempol membetulkan duduknya. “Namun aki sendiri apakah punya keinginan untuk meraih kekuasaan dan menikmati kesenangan dunia?” ——————- “Tentu saja. Karena saya orang biasa dan seperti halnya orang lain, punya ambisi. Sebab saya bukanlah Syekh Siti Jenar.” ujar Kebo Benowo. “Namun seandainya kita memiliki keinginan seperti andika jelaskan tadi tentunya harus dengan cara lain.” “Cara lain?” Loro Gempol meletakan telunjuk di keningnya. “Ya, karena jika ingin memberontak. Kita harus mengukur kekuatan pasukan kita, lalu bandingkan dengan kekuatan Demak. Pikirkan pula tentang logistik kita selama berperang, selain itu ilmu kadigjayaan kita sudah sejauhmana, mungkinkah bisa mengalahkan para wali yang berilmu tinggi?” ujar Kebo Benowo. “Benar juga, Ki.” Loro Gempol mengangguk-anggukan kepala. “Itulah yang mesti kita pertimbangkan sebelum bertindak.” timpalnya. “Kita haruslah berpikir matang jika tidak ingin mati sia-sia, seperti halnya anai-anai menyambar api.” “Jika demikian harus bagaimana caranya, Ki?” Loro Gempol menatap Kebo Benowo, seraya dahinya mengkerut. “Itulah yang mesti kita pikirkan…” Kebo Benowo memijit dahinya. Keadaan hening sejenak, pikiran mereka menerawang ke alam kejadian yang akan datang. Berbagaimacam cara mereka olah dan cerna, demi tercapainya ambisi kekuasaan.


“Lantas ketika Syekh melayang apa yang terjadi?” tanya Kebo Kenongo. “Saya bisa melayang karena bisa mengatur berat tubuh.” Syekh Siti Jenar menatap langit, “Lihatlah di sana, Ki Ageng! Mengapa burung itu bisa beterbangan, lalu saling kejar di ketinggian yang tidak bisa kita jangkau karena keterbatasan.” “Tapi kenapa syekh sendiri bisa meloncati keterbatasan tadi?” “Sebenarnya bukan saya bisa meloncati keterbatasan, namun kita bisa mengatur batas, menjauh dan mendekatkan.” terang Syekh Siti Jenar. ——————- “Maksud Syekh?” kerut Kebo Kenongo. “Samakah dengan yang saya dengar tentang Isra Mi’rajnya Nabi Muhammad?” “Ya, namun berbeda.” “Maksudnya?” “Jika Rasululah Isra Mi’raj dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Sedangkan saya tidak.” ujar Syekh Siti Jenar. “Saya kurang paham, Syekh?” Kebo Kenongo memijit keningnya. “Ya, saya tidak bisa seperti Rasulullah. Sebab saya bukan beliau…” terang Syekh Siti Jenar. “Namun saya bisa menyatu dengan kekuatannya dan dzatnya. Hingga ketika saya menghendaki berada di pusat Negeri Demak dengan sekejap itu bukan persoalan yang mustahil.” tambahnya. “Benarkah itu, Syekh?” Kebo Kenongo semakin mengkerutkan dahinya. “Jika Ki Ageng Pengging ingin bukti, maka tataplah saya! Jangan pula Ki Ageng berkedip! Karena kepergian saya ke pusat kota Demak Bintoro bagaikan kedip, kembali pun dihadapan Ki Ageng seperti itu pula. Saya dari pusat Kota Demak Bintoro akan membawa makanan segar.” usai berkata-kata, samarlah wujud Syekh Siti Jenar, hingga akhirnya lenyap dari pandangan Kebo Kenongo. “Lha,” Kebo Kenongo menggosok-gosok kedua matanya. “Benarkah yang sedang terjadi dan kuperhatikan ini?” “Inilah makan segar dari pusat kota Demak Bintoro, Ki Ageng.” “Lha, aih..aih..!” Kebo Kenongo terperanjat, ketika dihadapannya Syekh Siti Jenar sudah berdiri kembali seraya menyodorkan makanan hangat dengan bungkus daun pisang. “Itulah yang bisa saya lakukan, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar, seraya duduk bersila di atas hamparan tikar pandan, dihadapannya terhidang dua bungkus makanan hangat yang beralaskan daun pisang. “Sekarang marilah kita makan alakadarnya.” “Ya,” Kebo Kenongo hanya menjawab dengan anggukan. “Saya tidak sanggup untuk memikirkannya, Syekh? Kenapa andika hanya dalam kedip pergi ke pusat kota Demak Bintroro untuk mendapatkan hidangan makan pagi. Padahal jika kita bejalan dari padepokan ini ke pusat kota Demak memakan waktu satu hari satu malam?” ——————- “Benar, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar mengangguk. “Namun bukankah kita tidak sedang berbicara tentang perjalanan jasad?” “Maksud, Syekh?” “Ingatkah Ki Ageng Pengging ketika saya pernah bercerita tentang Kanjeng Nabi Sulaiman AS.?” ujar Syekh Siti Jenar. “Yang pernah Syekh baca dari ayat suci Alquran itu? Saya agak lupa.” Kebo Kenongo menempelkan telunjuk didahinya. “Ketika Kanjeng Nabi Sulaiman meminta kepada para pengagung negaranya untuk memindahkan kursi Ratu Balqis ke istananya. Siapakah yang bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam waktu yang sangat cepat, hingga jin Iprit menyanggupi.” “Ya, saya ingat, Syekh.” Kebo Kenongo tersenyum. “Namun bukankah Jin Iprit itu terlalu lama menurut Kanjeng Nabi Sulaiman, karena dia meminta waktu saat Baginda Nabi bangkit dari tempat duduk maka singgasana akan pindah…” “Benar, waktu seperti itu lama menurut Kanjeng Nabi Sulaiman. Karena bangkit dari duduk memerlukan waktu beberapa saat. Hingga berkatalah seorang ulama serta mengungkapkan kesanggupannya, yaitu hanya sekejap. Kanjeng Nabi Sulaiman berkedip maka Singgasana Ratu Balqis pun akan berhasil dia bawa. Hanya satu kedipan.” terang Syekh Siti Jenar. “…dan terbuktilah kehebatan ulama tadi.” “Ya, benar, Syekh.” ujar Kebo Kenongo, “Itulah ilmu Allah. Mana mungkin bisa dicerna dan dipahami dengan keterbatasan berpikir manusia.” “Tidak semua manusia seperti itu, Ki Ageng.” terang Syekh Siti Jenar. “Itulah manusia kebanyakan, terkadang perkataannya dan pendalamannya dibidang ilmu dangkal. Namun meski pun memiliki kedangkalan berpikir terkadang dalam dirinya mencuat pula rasa angkuh dan sombongnya. Jika hal itu terjadi maka akan gelap untuk meraba dan meraih yang saya maksud.” ——————- “Benar, Syekh. Hanya kejernihan berpikir dan menerima yang bisa membukakan kebodohan dan kekurangan diri kita…” timpal Kebo Kenongo. “Namun dalam uraian tadi apa yang membedakan kehebatan ilmu yang dimiliki oleh Jin Iprit dan Ulama?” “Tentu saja sangat berbeda.” Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya, seraya menatap langit. “Jin itu makhluk gaib, tidak aneh bagi bangsa mereka terbang, melayang-layang di angkasa, melesat secepat angin, menembus lubang sekecil lubang jarum, bahkan merubah wujud berbentuk apa pun yang dikehendakinya.” “Bisa pula tidak terlihat oleh manusia?” “Sangat bisa. Ya, karena memiliki sifat ghaib itulah. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menembus alam jin. Sebaliknya hanya jin tertentulah yang bisa menampakan diri pada manusia.” terang Syekh Siti Jenar. “Sehebat apa pun bangsa jin tentunya tidak bisa melebihi manusia.” “Bukankah pada zaman ini banyak pula orang-orang yang memiliki ilmu jin bahkan mengabdikan diri, karena ingin mendapat kesaktiannya.” timpal Kebo Kenongo. “Para dukun sakti saya rasa tidak terlepas dari kekuatan dan kesaktian atas bantuan bangsa jin yang dijadikan tuannya.” “Itulah kedangkalan berpikir manusia, Ki Ageng. Mereka tidak melihat asal usul, jika manusia itu makhluk yang paling mulia di banding yang lainnya. Termasuk jin.” “Jika demikian, Syekh. Berarti kita harus menaklukan jin agar bisa memerintah mereka dan memanpaatkan kekuatannya. Namun apa mungkin kita bisa menaklukan jin?” “Kenapa tidak mungkin. Bukankah Kanjeng Nabi Sulaiman sendiri prajuritnya terdiri dari bangsa jin, selain binatang dan manusia?” “Tapi untuk menaklukan bangsa jin tentu saja ilmu kita harus di atas mereka, Syekh?” “Tentu saja, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar. “Namun jika kita sudah memiliki ilmu dan kesaktian sebetulnya menjadi tidak perlu memiliki dan menaklukan jin. Karena kita bukan raja seperti Kanjeng Nabi Sulaiman, yang memerlukan prajurit dan abdi setia. Untuk dijadikan balatentara dan membangun negara, dengan arsitek-arsitek yang kokoh. Jin dijaman Nabi Sulaiman di suruh menyelami laut untuk mengambil mutiara, di suruh membangun keraton berlantaikan kaca yang membatasi kolam dibawahnya.” “Meski bukan raja kita juga butuh prajurit pengawal, Syekh?” “Saya rasa tidak perlu bangsa jin yang dijadikan prajurit pengawal. Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad juga tidak dikawal oleh bangsa jin, namun selalu disertai oleh Malaikat Jibril kemana pun beliau pergi.” “Lalu haruskah Kanjeng Nabi menundukkan Malaikat agar mengawalnya? Sakti mana dengan jinnya Kanjeng Nabi Sulaiman?” “Tentu saja Malaikat itu lebih sakti dari bangsa jin. Karena yang mencabut nyawa jin juga Malaikat seperti halnya nyawa manusia. Kanjeng Nabi Muhammad pun tidak perlu menundukan Malaikat, karena dengan sendirinya Malaikat akan di utus oleh Allah untuk menyertai orang-orang shalih. Apalagi Malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu Allah yang disampaikan kepada Kanjeng Nabi Muhammad.” urai Syekh Siti Jenar. “Syekh sendiri siapa yang mengawal?” “Karena saya manusia biasa, bukan nabi dan juga keshalihannya tidak saya ketahui, entahlah. Mungkinkah Allah mengutus Malaikat untuk mengawal atau tidak saya tidak tahu. Yang jelas saya tidak dikawal oleh bangsa jin…” Syekh Siti Jenar kembali duduk bersila. “Tapi kenapa Syekh memiliki kesaktian?” ——————- “Ya, itu sedikit ilmu yang saya pelajari dari keMaha Besaran Allah. Mungkin yang mengawal saya kemana pun pergi adalah ilmu yang saya miliki. Sehingga dengan ilmu itu saya pun bisa memanggil prajurit Allah yang empat.” tambah Syekh Siti Jenar. “Prajurit Allah?” kerut Kebo Kenongo. “Apakah para Malaikat? Kalau di dalam agama saya para Dewa dan Hyang Jagatnata, penguasa triloka.” ”Prajurit Allah bukan Malaikat. Saya tidak akan berbicara tentang para Dewa.” berhenti sejenak, lalu tatapan matanya menyapu wajah Kebo Kenongo. “Namun yang akan saya bicarakan prajurit Allah. Ingat bukan Malaikat,” “Kenapa bukan Malaikat? Bukankah Malaikat bisa mencabut nyawa manusia dan bangsa jin yang goib?” tanya Kebo Kenongo. “Meskipun demikian Malaikat hanyalah makhluk Allah, tidak beda dengan kita. Hanya yang membedakan kita dengan Malaikat, dia adalah goib. Malaikat memiliki keimanan tetap dan tidak pernah berubah, berbeda dengan bangsa manusia dan jin. Namun meski bagaimana pun tetap saja manusia makhluk yang paling mulia, tetapi sebaliknya derajat kemulian yang diberikan Allah kepada manusia akan lenyap. Bahkan manusia akan didapati sebagai makhluk yang lebih rendah dan hina dibawah binatang.” urai Syekh Siti Jenar. “Lalu prajurit yang dimaksud?” ”Yang dimaksud prajurit tentu saja penyerang, penghancur, perusak, dengan segala tugas yang diembannya.” “Mungkinkah mirip dengan Dewa Syiwa?” “Mungkin, Ki Ageng.” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak. “Sedangkan prajurit Allah yang empat disini pun fungsi dan tugasnya untuk menghancurkan, merusak, dengan tujuan manusia berbalik pada jalan lurus. Mengingatkan kekeliruan yang pernah diperbuat oleh para khalifah bumi. Tujuannya tentu saja menyadarkan, jika yang menedapatkan taufiq dan hidayah. Adzab dan siksa bagi mereka yang tidak pernah mau bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus.” “Lalu siapa yang dimaksud dengan prajurit Allah yang empat tadi, Syekh?” ——————- “Prajurit Allah yang empat itu diantaranya…” Syekh Siti Jenar melangkahkan kakinya perlahan. “…pertama adalah angin. Lihatlah angin yang lembut dan sepoi-sepoi, namun perhatikan pula jika angin itu mulai dahsyat serta bisa memporak-porandakan bangunan sehebat apa pun, menghancurkan pohon-pohon yang tertancap kokoh, menerbangkan segala hal yang mesti diterbangkannya, bahkan menghancurkan sebuah kota atau perkampungan. Lantas ketika angin mengamuk siapa yang bisa membendung dan menghalang-halangi?” “Tidak ada, Syekh.” “Itulah kehebatan prajurit Allah yang disebut manusia, angin pada syariatnya. Padahal angin itu hakikatnnya membawa pesan pada manusia, pada para khalifah bumi, agar menyadari kekeliruan yang pernah diperbuatnya. Manusia yang melakukan keruksakan di muka bumi maka akan kembali pada perbuatannya, akibatnya. Namun dalam hal ini manusia hanya memandang sebelah mata pada hakikat angin. Mereka lebih banyak bercerita dan memandang akan hal yang berbau logika dan penalaran semata, karena itu semua akibat dari keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Ilmu yang manusia miliki tidak mencakup berbagai hal, namun terbatas hanya pada bidangnya saja. Sehingga manusia terkadang melupakan Allah yang memiliki lautan ilmu.” urai Syekh Siti Jenar, seraya langkahnya terhenti. Sejenak berdiri di tepi jalan, matanya menyapu tingginya puncak gunung yang diselimuti awan putih yang berlapis-lapis. “Bukankah manusia akan selalu merasa pintar jika seandainya berhasil menangani sedikit persoalan saja, Syekh?” “Itulah manusia. Namun tidak semuanya seperti itu. Tetapi itulah watak orang kebanyakan. Maka jika demikian tertutuplah pintu ilmu berikutnya, terhalang oleh keangkuhan dan kecongkakan yang terselip dalam batinnya.” ujar Syekh Siti Jenar. “Berbeda jika dibandingkan dengan manusia yang batinnya terang. Dia tidak akan pernah berbuat congkak, apalagi sombong, yang bisa membutakan mata hatinya. Sehingga orang seperti itu akan selamanya sanggup memahami segala hal dengan jernih….” ——————- “…sangat sulit, Syekh.” Kebo Kenongo menarik napas dalam-dalam. “…pantas saja diri Syekh bisa terangkat pada derajat ma’rifat, karena telah sanggup membersihkan batin dari noda-noda tadi. Mungkin saya sulit mencapai ma’rifat tadi karena batin ini masih dijejali dan dikotori hal-hal yang membutakan, menghalangi, mengganggu dan merintangi. Pada intinya masih berbau keangkuhan, kesombongan, angkara, rasa iri dan dengki. Namun rasanya sulit untuk melepaskan hal-hal tadi, Syekh. Mungkin karena kesulitan itu datang akibat kita berada dalam hiruk pikuk kemewahan duniawi, yang selalu hadir di sisi kiri, kanan, depan, dan belakang kita?” “…jangan salah, Ki Ageng. Bukankah setiap manusia hidup memerlukan kebutuhan jasadiyah?” timpal Syekh Siti Jenar. “Duniawi adalah kebutuhan lahiriyah, sedangkan menuju ma’rifat adalah proses perjalanan batin menuju akrab.” “Benar, Syehk. Namun jika gangguan duniawi sangat terlalu kuat, bisa menggelapkan mata batin. Sehingga kita selalu memperjuangkan kepentingan jasadiyah tanpa kendali dan melupakan kebutuhan batinnya. Nah, untuk menyeimbangkan itulah yang sangat sulit.” “Sebetulnya kita tidak perlu seimbang dulu. Namun itu terlalu berat untuk kebanyakan orang dan tidak mungkin dapat tercapai. Sebab bagi yang telah ma’rifat dan akrab tidak perlu jauh melangkah tinggal mengatakannya, apa yang diinginkan akan datang atau berada dalam genggaman.” terang Syekh Siti Jenar, lantas membuka telapak tangannya dan diacungkan ke langit, lalu dikepalkan. “…lihatlah! Inikah yang Ki Ageng inginkan?” “Benar, Syekh. Andika selain bisa membaca keinginan batin saya juga dapat membuktikannya hanya dengan mengepalkan tangan.” Kebo Kenongo menggeleng-gelengkan kepala, seraya memujinya.


“Sudahkah andika menemukan cara yang tepat untuk menguasai Demak?” Loro Gempol menatap wajah Kebo Benowo. ——————- “Meski saya telah berkali-kali memikirkannya belum juga menemukan cara yang tepat, Gempol.” Kebo Benowo menempelkan telunjuk dikeningnya. Lalu bangkit dari duduknya, menggendong kedua tangannya dibelakang, dahinya berkerut-kerut, kakinya melangkah pelan. “….bagaimana…cara termudah?” “Bolehkah saya berbicara?” Joyo Dento mengangkat kepalanya. “Apa yang akan andika katakan, Dento? Bantulah saya berpikir!” tatap Kebo Benowo. “Menurut hemat saya, negara Demak Bintoro kini dalam keadaan tenang dan tentram. Namun bukan berarti ketenangan ini tidak bisa diusik.” “Semua orang tahu! Apa maksud andika!” timpal Loro Gempol meninggi. “Mohon maaf, Ki Gempol. Bukankah saya belum selesai bicara?” “Lanjutkan, Dento!” ujar Kebo Benowo mengacungkan telapak tangannya, seraya menatap Loro Ge,pol agar memberi kesempatan bicara pada Joyo Dento. “Negeri Demak Bintoro kini dalam keadaan tenang dan tentram. Sangat sulit bagi kita untuk melakukan pemberontakan apalagi penggulingan kekuasaan. Namun bukan berarti suasana tenang dan tentram ini tidak bisa diubah, menjadi kacau balau dan carut marut.” Joyo Dento berhenti sejenak, matanya merayap mengelilingi ruang pertemuan. Kembali tatapannya tertuju pada Kebo Benowo. “Maksud andika?” Loro Gempol tidak sabar. “Maksud saya, untuk merubah suasana tenang dan tentram ini harus menciptakan keadaan sebaliknya.” “Mengacau ketenangan masyarakat?” tatap Kebo Benowo. “Jika itu dilakukan berarti tindakan kita untuk menggulingkan Raden Patah tidak akan berhasil, bahkan akan mendapat kecaman dari rakyat. Karena mereka tahu bahwa kita pengacau. Sedangkan yang kita harapkan dukungan rakyat, yang membetulkan tindakan kudeta. Jadi pada intinya tindakan kita harus mendapat simpati dari rakyat.” “Benar, maksud saya itu.” ujar joyo Dento. “Maksud andika jelas salah, Dento! Tidakah andika membayangkan jika kita merampok rakyat, mengganggu rakyat, sebaliknya mereka akan lebih simpati pada Sultan.” sela Loro Gempol. “Tentu, jika kita salah dalam melakukan tindakan.” terang Joyo Dento. “Saya meskipun sehari-hari berada di pasar dan melakukan perbuatan sabung ayam, hanya untuk melampiaskan hobi saja. Andika belum paham jika saya dulu pernah mengabdi di Kadipaten Majapahit. Bahkan saya pun banyak belajar tentang politik dan ketatanegaraan. Namun orang-orang Majapahit kini tidak mau lagi memperlihatkan diri dan merasa antipati terhadap Raja Demak Bintoro, karena membaca kekuatan sendiri. Jika melakukan hal tadi berarti akan ditangkap, termasuk Ki Ageng Pengging, beliau lebih memilih hidup menjadi seorang petani, dengan nama lain.” Mendengar uraian Joyo Dento yang membuka jatidirinya dan mengurai keahliannya, Kebo Benowo, Loro Gempol, Lego Benongo, juga seluruh peserta sidang pada kesempatan itu terkagum-kagum. “Pantas saja, andika berbeda.” Kebo Benowo menggelengkan kepala. “Jika demikian lanjutkanlah rencana dan dasar pemikiran andika. Andika mulai hari ini saya angkat sebagi penasehat saya dan yang lainnya.” ——————- “Terimakasih, Ki Benowo.” Joyo Dento menghela napas, “Saya sebetulnya sejak dulu mencari teman dan orang yang ingin melakukan pemberontakan, sekaligus penggulingan kekuasaan terhadap Raden Patah. Namun kini saya baru menemukan orang yang benar-benar punya niat dan tujuan yang sama dengan saya. Jadi tidak ada salahnya jika saya pun mendukung gerakan ini.” “Kita tidak salah bergabung, Dento.” ujar Kebo Benowo. “Hanya sayang, yang semestinnya Ki Ageng Pengging yang harus maju dan bergabung dengan kita sama sekali tidak tertarik. Ki Ageng Pengging sesungguhnya memiliki darah biru yang sangat kuat, karena beliau keturunan raja Majapahit.” Joyo Dento berhenti sejenak, “Namun meski pun demikian andikalah yang ternyata berani maju, Ki Benowo. Tidak ada salahnya, saya akan mendukung. Hanya dalam hal ini kita harus punya strategi yang tepat. Seperti yang saya uraikan pertama kali.” ”Ya, tentang pembicaraan semula. Lanjutkan apa rencana tadi?” pinta Kebo Benowo. “Baiklah,” ujar Joyo Dento.


”Dengarkan para pengemis!” teriak Kebo Benowo, matanya menyapu para pengemis yang bersila di pinggir jalan menuju pasar. “Kenapa andika semua mesti jadi pengemis? Tidak inginkah hidup mewah seperti para penduduk kota Demak Bintoro? Tidak inginkah kalian menjadi orang kaya, seperti para pejabat negara? Bukankah mereka itu manusia seperti kita? Harus sadar pula bahwa kita pun memiliki hak yang sama seperti mereka. Tidak sadarkah jika para pejabat Negeri Demak telah mendzalimi kalian semua? Membiarkan kalian terlantar dipinggiran jalan. Sementara mereka bersenang- senang di pusat kota Demak Bintoro. Tidak sadarkah bahwa mereka telah melupakan kita selaku rakyat? Mereka telah menelantarkan kita dalam lingkaran kemiskinan dan penderitaan. Kalian harus paham akan semua itu. Sesungguhnya hak kalian telah dirampas oleh mereka.” “Jadi kami mesti bagaimana, Ki? Sedangkan kami pun tidak ingin menjadi orang miskin.” ujar seorang pengemis paruhbaya. “Ingatlah, bahwa kalian memiliki hak yang sama seperti para penguasa negeri ini. Mintalah hak kalian!” ujar Kebo Benowo. “Tidak mungkin? Mustahil keinginan kita dikabulkan oleh para penguasa dzalim yang tidak peduli akan nasib rakyatnya, yang miskin seperti kami.” ujar si pengemis paruhbaya. “Jika tidak mungkin menurut kalian, tidak perlu menyesal dengan nasib yang dialami. Karena kehidupan dunia ini hanyalah sekejap, setelah itu kita akan mati. Untuk itu biarkanlah mereka itu menikmati hidupnya sebagai penguasa, karena mereka hanyalah mayat-mayat hidup yang menunggu kematian. Sedangkan kematian merupakan pertemuan kita dengan Sang Pencipta, untuk menemui kenikmatan yang abadi.” urai Kebo Benowo. “Benarkah kematian itu merupakan kenikmatan yang abadi dibandingkan dengan para penguasa yang sekarang sedang menikmati kesenangan?” kerut pengemis paruhbaya. “Benar, karena mereka pun akan mati. Setelah mati maka ditangisi oleh keluarganya, lalu harta yang mereka agung-agungkan ditinggalkan untuk diperebutkan oleh keturunannya. Jadi apa artinya harta kekayaan juga kekuasaan. Toh, kita pun akan mati dan meninggalkan semua kesenangan duniawi yang bersifat sekejap. Bayangkanlah kesenangan setelah kematian. Bukankah nenek moyang kalian tidak pernah ingin kembali ke dunia ini dari kuburnya? Mengapa demikian? Karena mereka menikmati kematian yang teramat menyenangkan dan menentramkan.” Kebo Benowo yang memahami secara dangkal ajaran Syekh Siti Jenar, mencoba mengurai sesuka hatinya. “Benar juga yang andika katakan, Ki.” si pengemis paruhbaya mengagguk-anggukan kepala, begitu juga yang lainnya. “Memang kehidupan ini hanyalah samsara, penderitaan dan kesengsaraan. Sedangkan kematian merupakan nirwana, kesenanga…

5 NASEHAT IBRAHIM BIN ADHAM

Nasehat Syekh Ibrohim Bin Adham Kpd Ahli Ma’siyat.

Suatu hari, Syeih Ibrahim bin Adham didatangi oleh seseorang yang sudah sekian lama hidup dalam kemaksiatan, sering mencuri, selalu menipu, dan tak pernah bosan berzina. Orang ini mengadu kepada Ibrahim bin Adham, “Wahai tuan guru, aku seorang pendosa yang rasanya tak mungkin bisa keluar dari kubangan maksiat. Tapi, tolong ajari aku seandainya ada cara untuk menghentikan semua perbuatan tercela ini?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Kalau kamu bisa selalu berpegang pada lima hal ini, niscaya kamu akan

terjauhkan dari segala perbuatan dosa dan maksiat.

Pertama, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu itu.” Orang itu terperangah, “Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah Allah selalu melihat apa saja yang diperbuat oleh siapapun? Allah pasti tahu walaupun perbuatan itu dilakukan dalam kesendirian, di kamar yang gelap, bahkan di lubang semut pun.”

Wahai anak muda, kalau yang melihat perbuatan dosa dan maksiatmu itu adalah tetanggamu, kawan dekatmu, atau orang yang kamu hormati, apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu? Lalu mengapa terhadap Allah kamu tidak malu, sementara Dia melihat apa yang kamu perbuat?”.

Orang itu lalu tertunduk dan berkata,”katakanlah yang kedua, Tuan guru!” Kedua, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka jangan pernah lagi kamu makan rezeki Allah.” Pendosa itu kembali terperangah, “Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah semua rezeki yang ada di sekeliling manusia adalah dari Allah semata? Bahkan, air liur yang ada di mulut dan tenggorokanku adalah dari Allah jua.” Ibrahim bin Adham menjawab, “Wahai anak muda, masih pantaskah kita makan rezeki Allah sementara setiap saat kita melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya? Kalau kamu numpang makan kepada seseorang, sementara setiap saat kamu selalu mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu, masihkah kamu punya muka untuk terus makan darinya?”.

Sekali-kali tidak! Katakanlah yang ketiga, Tuan guru. Ketiga, kalau kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah.” Orang itu tersentak, “Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah, Tuan guru? Bahkan, segenap planet, bintang dan langit adalah milikNya juga?” Ibrahim bin Adham menjawab,”Kalau kamu bertamu ke rumah seseorang, numpang makan dari semua miliknya, akankah kamu cukup tebal muka untuk melecehkan aturan-aturan tuan rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan?”.

Orang itu kembali terdiam, air mata menetes perlahan dari kelopak matanya lalu berkata, “Katakanlah yang keempat, Tuan guru.” Keempat, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, dan suatu saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum kamu bertobat, tolaklah ia dan janganlah mau nyawamu dicabut.” Bagaimana mungkin, Tuan guru? Bukankah tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat maut?” Ibrahim bin adham menjawab, “Kalau kamu tahu begitu, mengapa masih jua berbuat dosa dan maksiat? Tidakkah terpikir olehmu, jika suatu saat malaikat maut itu datang justru ketika kamu sedang mencuri, menipu, berzina dan melakukan dosa lainnya?”.

Air mata menetes semakin deras dari kelopak mata orang tersebut, kemudian ia berkata, “Wahai tuan guru, katakanlah hal yang kelima.” Kelima, jika kamu masih akan berbuat dosa, dan tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawamu justru ketika sedang melakukan dosa, maka janganlah mau kalau nanti malaikat Malik akan memasukkanmu ke dalam neraka. Mintalah kepadanya kesempatan hidup sekali lagi agar kamu bisa bertobat dan menambal dosa-dosamu itu.” Pemuda itupun berkata, “Bagaimana mungkin seseorang bisa minta kesempatan hidup lagi, Tuan guru? Bukankah hidup hanya sekali? Ibrahim bin Adham pun lalu berkata, “Oleh karena hidup hanya sekali anak muda, dan kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput kita, sementara semua yang telah diperbuat pasti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak, apakah kita masih akan menyia-nyiakan hidup ini hanya untuk menumpuk dosa dan maksiat?” pemuda itupun langsung pucat, dan dengan surau parau menahan ledakan tangis ia mengiba, “Cukup, Tuan guru, aku tak sanggup lagi mendengarnya.”

Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu, orang-orang mengenalnya sebagai seorang ahli ibadah yang jauh dari perbuatan-perbuatan tercela.

Semoga kisah ini menjadi renungan bagi kita bersama dalam menapaki setiap langkah kita selagi hidup di dunia.

IBNU ATHA’ILLAH

Manaqib Ibnu Atha’illah (Pengarang Kitab Al-Hikam)

Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atho’ al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya’rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa’ribah.

Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H. Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili -pendiri Thariqah al-Syadziliyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Atho’ dalam kitabnya “Lathoiful Minan “ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: “Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.

Keluarga Ibnu Atho’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atho’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ Sholihin Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya.

Namun kefaqihannya terus berlanjt sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya. Ibnu Atho’ menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho’ yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ” Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”. Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”.

Pada akhirnya Ibn Atho’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi tiga masa: Masa pertama Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah.

Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”. Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.

Masa kedua Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama’ tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini. Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : “apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan.

Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf. Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.

Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi. Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir.

Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan : “Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : “Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga”. Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin.

Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”. Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”. Masa ketiga Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho’ dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atho’illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia.

Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT. Menurut Ibnu Atho’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya.

Ibnu Atho’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar. Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Atho’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan”. Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Atho’illah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali.

Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tobaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro”. Karya Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atho’ meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah. Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama Hikam, yang telah diberikan komentar oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan yang juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Kitab ini dikenali juga dengan nama al-Hikam al-ata’iyyah untuk membezakannya daripada kitab-kitab lain yang juga berjudul Hikam.

Karomah Ibn Athoillah Al-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: “Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka”. Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atho’illah ketika meninggal kelak.

Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketika mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”. Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : “Siapa saja yang kamu temui ?” lalu si murid menjawab : “Tuanku… saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia.Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya”.

Wafat Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.

SUNAN DRAJAT

Sunan Drajat adalah salah satu dari para wali yang berjasa menyebarkan agama islam. Diperkirakan lahir pada tahun 1470 Masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Beliau juga diketahui mempunyai banyak nama antara lain Masaikh Munat, Pangeran Kadrajat, Pangeran Syarifudin, Syekh Masakeh, Maulana Hasyim, Raden Imam, Sunan Muryapada, dan Sunan Mahmud.

Sunan Drajat merupakan putra dari Sunan Ampel dari pernikahannya dengan Nyi Ageng Manila alias Dewi Condrowati. Raden Qasim merupakan satu dari empat bersaudara. Saudara-saudaranya antara lain adalah  Sunan Bonang, Siti Muntisiyah (istri Sunan Giri), Nyi Ageng Maloka (istri Raden Patah), dan seorang putri yang merupakan istri Sunan Kalijaga.

Setelah menguasai pelajaran islam beliau menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 masehi

Sejarah Singkat

Sunan Drajat menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di kampung halamannya di Ampel Denta, Surabaya. Setelah dewasa, beliau diperintahkan oleh ayahandanya, Sunan Ampel, untuk berdakwah ke pesisir barat Gresik. Maka, berlayarlah Sunan Drajat. Dari Surabaya, dengan menumpang biduk nelayan. Di tengah perjalananannya, perahu yang ditumpangi Sunan drajat terseret badai dan kemudian pecah dihantam ombak di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik. Sunan Drajat selamat dengan berpegangan pada dayung perahu. Selanjutnya, beliau ditolong oleh ikan cucut dan ikan talang (ada juga yang menyebut ikan cakalang). Dengan menunggang pada kedua ikan tersebut, Sunan Drajat berhasil mendarat di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati. Berdasarkan sejarah, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1485 Masehi. Di sana, Sunan Drajat disambut baik oleh tetua kampung bernama Mbah dan Mbah Mayang Madu.

Dua tokoh tersebut sudah diislamkan oleh pendakwah asal Surabaya, yang juga terdampar di tempat itu beberapa tahun sebelumnya. Sunan Drajat lantas menetap di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, putri dari Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qasim kemudian mendirikan sebuah surau, dan akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan penduduk. Jelak, yang mulanya hanyalah dusun kecil yang terpencil, lama kelamaan tumbuh menjadi kampung yang besar dan ramai. Namanya pun berubah menjadi Banjaranyar. 3 tahun kemudian, Sunan Drajat pindah ke selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak, menuju tempat yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir pada musim hujan. Tempat tersebut kemudian  dinamai Desa Drajat. Dari sinilah beliau mulai mendapatkan gelar Sunan Drajat.

Akan tetapi, Sunan Drajat masih menganggap lokasi tersebut belum strategis untuk dijadikan pusat dakwah Islam. Sunan Drajat kemudian diberi izin oleh Sultan Demak, yang merupakan penguasa Lamongan waktu itu, untuk membuka lahan baru di wilayah perbukitan yang ada di selatan. Lahan yang masih berupa hutan belantara tersebut dikenal oleh penduduk sekitar sebagai daerah yang angker. Berdasarkan sahibul kisah, banyak makhluk halus yang marah saat pembukaan lahan tersebut. Mereka lantas meneror penduduk di malam hari, dan menyebarkan penyakit. Akan tetapi, berkat kesaktiannya, Sunan Drajat mampu mengatasinya. Sesudah pembukaan lahan selesai, Sunan Drajat bersama para pengikutnya kemudian membangun permukiman baru, seluas sekitar 9 hektar.

Atas petunjuk Sunan Giri, melalui mimpi, Sunan Drajat menempati sisi perbukitan selatan, yang saat ini menjadi kompleks pemakaman, dan disebut Ndalem Duwur. Sunan Drajat kemudian mendirikan masjid sedikit jauh di bagian barat tempat tinggalnya. Masjid inilah yang kemudian menjadi tempat dakwah beliau  menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk. Sunan Drajat menghabiskan sisa hidupnya di Ndalem Duwur, sampai beliau akhirnya wafat pada tahn 1522. Di tempat ini saat ini dibangun sebuah museum sebagai tempat penyimpanan barang-barang peninggalan Sunan Drajat (termasuk dayung perahu yang dulu pernah menyelamatkannya). Sementara lahan bekas tempat tinggal Sunan Drajat saat ini dibiarkan kosong, dan dikeramatkan.Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawanannya. Beliau menurunkannya kepada para pengikutnya kaidah tak saling menyakiti, baik itu melalui perkataan ataupun perbuatan. ”Bapang den simpangi, ana catur mungkur,” demikian petuah beliau. Yang kurang lebih maksudnya adalah, “jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu”.

Sunan Drajat memperkenalkan Islam dengan konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara bijak, tanpa paksaan. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan Drajat menempuh  5 metode. Pertama, melalui pengajian secara langsung di masjid ataupun langgar. Kedua, dengan menyelenggarakan pendidikan di pesantren. Ketiga, memberi fatwa dan petuahnya dalam menyelesaikan masalah. keempat, dengan kesenian tradisional. Sunan Drajat seringkali berdakwah melalui tembang pangkur dengan iringan gending. Kelima, beliau juga menyampaikan ajaran Islam melalui ritual adat tradisional, asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwah Sunan Drajat sekitar abad XV dan XVI Masehi. Ia memegang kendali kerajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai otonom kerajaan Demak selama 36 tahun.

Beliau sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal berjiwa sosial, sangat memperha­tikan nasib kaum fakir miskin. Ia terle­bih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran.

Usaha ke arah itu menjadi lebih mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur wilayahnya yang mempu­nyai otonomi.

Sebagai penghargaan atas keberha­silannya menyebarkan agama Islam dan usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan Demak pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi.

Silsilah Sunan Drajat

Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel dari istri yang bernama Dewi Condrowati atau Nyi Ageng Manila. Dewi Condrowati atau Nyi Ageng Manila , ada yang mengatakan bahwa ia adalah putri raja Majapahit , tetapi ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah putri Adipati Tuban yang bernama Arya Teja.

Maka dari itu , sebagai putra Sunan Ampel , dapat disimpulkan bahwa Sunan Drajat mempunyai silsilah sebagai keturunan Nabi Muhammad saw dari garis keturunan

Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib
– Imam Husain
– Ali Zainal Abadin
– Muhammad al-Baqir
– Ja’far ash-Shadiq
– Ali al-Uraidhi
– Muhammad al-Naqib
– Isa ar-Rumi
– Ahmad al-Muhajir
– Ubaidullah
– Alwi Awwal
– Muhammad Sahibus Saumiah
– Alwi ats-Tsani
– Ali Khali’ Qasam
– Muhammad Shahib Mirbath
– Alwi Ammi al-Faqih
– Abdul Malik Azmatkhan
– Abdullah Khan
– Ahmad Syah Jalal
– Jamaludin Akbar al-Husaini atau Syekh Jumadil Qubro
– Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik

– Raden Rahmat atau Sayyid Ahmad Rahmatillah atau SunanAmpel dan Dewi Condrowati , yang kemudian lahir Raden Qasim atau Sunan Drajat.

Filosofi Sunan Drajat

Filosofi Sunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan kini terabadikan dalam sap tangga ketujuh dari tataran kompleks makam Sunan Drajat.

Secara lengkap makna filosofi ketujuh sap tangga tersebut sebagai berikut :

1. Memangun resep tyasing Sasomo = Kita selalu membuat senang hati orang lain.

  1. Jroning suka kudu eling lan waspada = Di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada.
  2. Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah = Dalam perjalanan untuk mencapai cita-cita luhur kita tidak perduli dengan segala bentuk rintangan.
  3. Meper Hardaning Pancadriya = Kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu.
  4. Heneng – Hening – Henung = Dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keheningan itulah kita akan mencapai cita-cita luhur.
  5. Mulya guna Panca Waktu = Suatu kebahagiaan lahir-batin hanya bisa kita capai dengan sholat lima waktu.
  6. Empat ajaran Pokok

Paring teken marang kang kalunyon lan wuta = Berikan tongkat kepada yang terpeleset dan buta.
Bermakna : Berilah ilmu agar orang menjadi pandai dan tidak melakukan kesalahan

Paring pangan marang kang kaliren = Berikan makanan kepada yang kelaparan.
Bermakna : Sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin

Paring sandang marang kang kawudan = Berikan pakaian kepada yang telanjang.
Bermakna : Ajari kesusilaan pada orang yang tidak punya malu

Paring payung marang kang kodanan = Berikan payung kepada yang kehujanan.
Bermakna : Beri perlindungan pada orang yang menderita.

Cara Berdakwah

Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawanannya.
Ia menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tak saling menyakiti , baik melalui perkataan maupun perbuatan.

“Bapang den simpangi , ana catur mungkur”, demikian petuahnya yang berarti :
Jangan dengarkan pembicaraan yang menjelek-jelakan orang lain , apalagi melakukan perbuatan tersebut.

Sunan Drajat memperkenalkan Islam melalui kosep dakwah bil-hikmah , dengan cara-cara bijak , tanpa memaksa.

Dalam menyampaikan ajarannya , Sunan Drajat menempuh 5 cara.

» Pertama , lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar.

» Kedua , melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren.

» Ketiga , memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah.

» Keempat , melalui kesenian tradisional dengan kerap berdakwah lewat tembang yang diiringi gamelan. Karena itu ia dikenal sebagai seorang wali pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur.
Sisa-sisa Gamelan Singo Mengkoknya kini tersimpan di Museum Daerah.

» Kelima , ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional , asal tidak bertentang dengan ajaran Islam.

Empat pokok ajaran Sunan Drajat dari sap tangga ketujuh yang terakhir adalah

1. Paring teken marang kang kalunyon lan wuta = Berikan tongkat kepada yang terpeleset dan buta.
2. Paring pangan marang kang kaliren = Berikan makan kepada yang kelaparan.
3. Paring sandang marang kang kawudan = Berikan pakaian kepada yang telanjang.
4. Paring payung marang kang kodanan = Berikan payung kepada yang kehujanan.

Sunan Drajat sangat memperhatikan masyarakatnya.
Ia kerap berjalan mengitari perkampungan pada malam hari , sehingga penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk halus yang konon merajalela selama dan setelah pembukaan hutan tersebut.

Ia juga sering mengobati warga yang sakit dengan ramuan tradisional dan doa.

Istri Sunan Drajat

Dalam beberapa naskah , Sunan Drajat disebut-sebut menikahi tiga perempuan.

  1. Dewi Sufiyah putri Sunan Gunung Jati.

Menurut Babad Tjerbon bahwa sebelum sampai ke Lamongan , ia sempat dikirim ayahnya untuk berguru mengaji kepada bekas murid ayahnya yaitu Sunan Gunung Jati dan menikahi putrhnya.

  1. Kemuning putri Mbah Mayang Madu , salah satu tokoh tetua yang pernah menolong Sunan Drajat ketika terdampar di Jelak.Dan mungkin karena menikah dengan putri Mbah Mayang Madu inilah , Sunan Drajat mendapat gelar dari Raden Patah dengan sebutan Sunan Mayang Madu.
  1. Retnayu Condrowati putri Adipati Kediri yang bernama Raden Suryadilaga. Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada tahun 1465.

    Dalam Babad Tjerbon diceritakan, setelah menikah dengan Dewi Sufiyah , ia tinggal di Kadrajat. Ia pun biasa dipanggil dengan sebutan Pangeran Kadrajat atau Pangeran Drajat.

    Di desa Drajat , terdapat sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Nur Drajat.
    Naskah Badu Wanar dan Naskah Drajat mengkisahkan bahwa dari istri pertama yaitu Dewi Sufiyah mendapat keturunan tiga anak.

  1. Pangeran Rekyana atau Pangeran Tranggana.
  2. Pangeran Sandi.
  3. Dewi Wuryan.

    Penghargaan

Dalam sejarahnya Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang Wali pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur. Sisa – sisa gamelan Singo meng­kok-nya Sunan Drajat kini tersimpan di Museum Daerah.

Untuk menghormati jasa – jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan dan untuk melestarikan budaya serta benda-­benda bersejarah peninggalannya Sunan Drajat, keluarga dan para sahabatnya yang berjasa pada penyiaran agama Islam, Pemerintah Kabupaten Lamongan mendirikan Museum Daerah Sunan Drajat disebelah timur Makam.Museum ini telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur tanggal 1 Maret 1992.

Upaya Bupati Lamongan R. Mohamad Faried, S.H. untuk menyelamatkan dan melestarikan warisan sejarah bangsa ini mendapat dukungan penuh Gubernur Jawa Timur dengan alokasi dana APBD I yaitu pada tahun 1992 dengan pemugaran Cungkup dan pembangu­nan Gapura Paduraksa senilai Rp.98 juta dan anggaran Rp.100 juta 202 ribu untuk pembangunan kembali Mesjid Sunan Drajat yang diresmikan oleh Menteri Penerangan RI tanggal 27 Juni 1993. Pada tahun 1993 sampai 1994 pembenahan dan pembangunan Situs Makam Sunan Drajat dilanjutkan dengan pembangunan pagar kayu berukir, renovasi paséban, balé ranté serta Cungkup Sitinggil dengan dana APBD I Jawa Timur sebesar RP. 131 juta yang diresmikan Gubernur Jawa Timur M. Basofi Sudirman tanggal 14 Januari 1994.

Wafat

Sunan Drajat wafat pada tahun 1522. Makamnya di Desa Drajat Kec. Paciran Kab. Lamongan. Tak jauh dari makam terdapat sebuah museum

Sumber referensi:

http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Drajat

http://java91.hexat.com/moco/sunan-drajat

Hikmah sufi

 

ِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 

  
                                   Hikmah Sufi

Waliyullah Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi

Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie

Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
   Dunia tasawuf mengenal banyak cerita sufi. Sebagian dari cerita itu

termuat dalam kitab /Tadzkiratul Awliya, Kenangan Para Wali/, yang

ditulis oleh Fariduddin Attar
Buku ini ditulis dalam bahasa Persia, meskipun judulnya ditulis dalam bahasa

Arab. Selain berarti kenangan atau ingatan, kata tadzkirah dalam bahasa

Arab juga berarti pelajaran. Sehingga Tadzkiratul Awliya berarti

pelajaran yang diberikan oleh para wali.
Attar mengumpulkan kisah para wali; mulai dari Hasan Al-Bashri, sufi

pertama, sampai Bayazid Al-Busthami. Dari Rabiah Al-Adawiah sampai

Dzunnun Al-Mishri. Selain buku ini, Attar juga menulis buku cerita sufi

berjudul Manthiquth Thayr, Musyawarah Para Burung. Berbeda dengan kitab

pertama yang berisi cerita para tokoh sufi, kitab ini berbentuk novel

dan puisi sufi. Sebagian besar ceritanya bersifat metaforis.
Fariduddin dijuluki Attar (penjual wewangian), karena sebelum menjadi

sufi ia memiliki hampir semua toko obat di Mashhad, Iran.
Dahulu, orang yang menjadi ahli farmasi juga sekaligus menjadi penjual

wewangian. Sebagai pemilik toko farmasi, Attar terkenal kaya raya.
Sampai suatu hari, datanglah seorang lelaki tua. Kakek itu bertanya,

“Dapatkah kau tentukan kapan kau meninggal dunia?” “Tidak,” jawab Attar

kebingungan. “Aku dapat,” ucap kakek tua itu, “saksikan di hadapanmu

bahwa aku akan mati sekarang juga.” Saat itu juga lelaki renta itu

terjatuh dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Attar terkejut. Ia

berpikir tentang seluruh kekayaan dan maut yang mengancamnya. Ia ingin

sampai pada kedudukan seperti kakek tua itu; mengetahui kapan ajal akan

menjemput. Attar lalu meninggalkan seluruh pekerjaannya dan belajar

kepada guru-guru yang tidak diketahui. Menurut shahibul hikayat, ia

pernah belajar di salah satu pesantren di samping makam Imam Ridha as,

di Khurasan, Iran. Setelah pengembaraannya, Attar kembali ke tempat

asalnya untuk menyusun sebuah kitab yang ia isi dengan cerita-cerita

menarik.
Tradisi mengajar melalui cerita telah ada dalam kebudayaan Persia.

Jalaluddin Rumi mengajarkan tasawuf melalui cerita dalam kitabnya

Matsnawi-e Ma’nawi. Penyair sufi Persia yang lain, Sa’di, juga menulis

Gulistan, Taman Mawar, yang berisi cerita-cerita penuh pelajaran.

Demikian pula Hafizh dan beberapa penyair lain. Tradisi bertutur menjadi

salah satu pokok kebudayaan Persia.
Kebudayaan Islam Indonesia juga mengenal tradisi bercerita. Islam yang

pertama datang ke nusantara adalah Islam yang dibawa oleh orang-orang

Persia lewat jalur perdagangan sehingga metode penyebaran Islam juga

dilakukan dengan bercerita. Mereka menggunakan wayang sebagai media

pengajaran Islam.
Dalam pengantar Tadzkiratul Awliya, Attar menjelaskan mengapa ia menulis

buku yang berisi cerita kehidupan para wali. Alasan pertama, tulis

Attar, karena Al-Quran pun mengajar dengan cerita. Surat Yusuf,

misalnya, lebih dari sembilan puluh persen isinya, merupakan cerita.
Terkadang Al-Quran membangkitkan keingintahuan kita dengan cerita:

Tentang apakah mereka saling bertanya? Tentang cerita yang dahsyat,

yang mereka perselisihk/an. (QS. An-Naba; 1-3). Bagian awal dari surat

Al-Kahfi bercerita tentang para pemuda yang mempertahankan imannya:

Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam

gua lalu mereka berdoa: Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami

dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam

urusan kami ini./ (QS. Al-Kahfi; 10) Surat ini dilanjutkan dengan kisah

pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidhir, diteruskan dengan riwayat

Zulkarnain, dan diakhiri oleh cerita Rasulullah saw.
Demikian pula surat sesudah Al-Kahfi, yaitu surat Maryam, yang penuh

berisi ceritera; /Dan kenanglah kisah Maryam dalam Al-Quran. Ketika ia

menjauhkan diri dari keluarganya ke satu tempat di sebelah timur/ . (QS.

Maryam; 16) Al-Quran memakai kata udzkur yang selain berarti “ingatlah”

atau “kenanglah” juga berarti “ambillah pelajaran.” Attar mengikuti

contoh Al-Quran dengan menamakan kitabnya Tadzkiratul Awliya.
Alasan kedua mengapa cerita para wali itu dikumpulkan, tulis Attar,

adalah karena Attar ingin mendapat keberkahan dari mereka. Dengan

menghadirkan para wali, kita memberkahi diri dan tempat sekeliling kita.

Sebuah hadis menyebutkan bahwa di dunia ini ada sekelompok orang yang

amat dekat dengan Allah swt. Bila mereka tiba di suatu tempat, karena

kehadiran mereka, Allah selamatkan tempat itu dari tujuh puluh macam

bencana. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulallah, siapakah mereka itu dan

bagaimana mereka mencapai derajat itu?” Nabi yang mulia menjawab,

“Mereka sampai ke tingkat yang tinggi itu bukan karena rajinnya mereka

ibadat. Mereka memperoleh kedudukan itu karena dua hal; ketulusan hati

mereka dan kedermawanan mereka pada sesama manusia.”
Itulah karakteristik para wali. Mereka adalah orang yang berhati bersih

dan senang berkhidmat pada sesamanya. Wali adalah makhluk yang hidup

dalam paradigma cinta. Dan mereka ingin menyebarkan cinta itu pada

seluruh makhluk di alam semesta. Attar yakin bahwa kehadiran para wali

akan memberkahi kehidupan kita, baik kehadiran mereka secara jasmaniah

maupun kehadiran secara ruhaniah.
Dalam Syarah Sahih Muslim, Imam Nawawi menjelaskan dalil dianjurkannya

menghadirkan orang-orang salih untuk memberkati tempat tinggal kita. Ia

meriwayatkan kisah Anas bin Malik yang mengundang Rasulullah saw untuk

jamuan makan. Tiba di rumah Anas, Rasulullah meminta keluarga itu untuk

menyediakan semangkuk air. Beliau memasukkan jari jemarinya ke air lalu

mencipratkannya ke sudut-sudut rumah. Nabi kemudian shalat dua rakaat di

rumah itu meskipun bukan pada waktu shalat.
Menurut Imam Nawawi, shalat Nabi itu adalah shalat untuk memberkati

rumah Anas bin Malik. Imam Nawawi menulis, “Inilah keterangan tentang

mengambil berkah dari atsar-nya orang-orang salih.” Sayangnya, tulis

Attar dalam pengantar Tadzkiratul Awliya, sekarang ini kita sulit

berjumpa dengan orang-orang salih secara jasmaniah. Kita sukar menemukan

wali Allah di tengah kita, untuk kita ambil pelajaran dari mereka. Oleh

karena itu, Attar menuliskan kisah-kisah para wali yang telah meninggal

dunia. Attar memperkenalkan mereka agar kita dapat mengambil hikmah dari

mereka. “Saya hanya pengantar hidangan,” lanjut Attar, “dan saya ingin

ikut menikmati hidangan ini bersama Anda. Inilah hidangan para awliya.”
Attar lalu menulis belasan alasan lain mengapa ia mengumpulkan ceritera

para wali. Yang paling menarik untuk saya adalah alasan bahwa dengan

menceritakan kehidupan para wali, kita akan memperoleh berkah dan

pelajaran yang berharga dari mereka. Seakan-akan kita menemui para wali

itu di alam ruhani, karena di alam jasmani kita sukar menjumpai mereka.
Seringkali kita juga lebih mudah untuk mendapatkan pelajaran dari

cerita-cerita sederhana ketimbang uraian-uraian panjang yang ilmiah.
Berikut ini sebuah cerita dari Bayazid Al-Busthami, yang insya Allah,

dapat kita ambil pelajaran daripadanya;
Di samping seorang sufi, Bayazid juga adalah pengajar tasawuf. Di antara

jamaahnya, ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak.

Santri itu juga menjadi kyai bagi jamaahnya sendiri. Karena telah

memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang menunjukkan

kesalihannya, seperti baju putih, serban, dan wewangian tertentu.
Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Bayazid, “Tuan Guru, saya sudah

beribadat tiga puluh tahun lamanya. Saya shalat setiap malam dan puasa

setiap hari, tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman ruhani yang

Tuan Guru ceritakan. Saya tak pernah saksikan apa pun yang Tuan gambarkan.”
Bayazid menjawab, “Sekiranya kau beribadat selama tiga ratus tahun pun,

kau takkan mencapai satu butir pun debu mukasyafah dalam hidupmu.”
Murid itu heran, “Mengapa, ya Tuan Guru?”
“Karena kau tertutup oleh dirimu,” jawab Bayazid.
“Bisakah kau obati aku agar hijab itu tersingkap?” pinta sang murid.
“Bisa,” ucap Bayazid, “tapi kau takkan melakukannya.”
“Tentu saja akan aku lakukan,” sanggah murid itu.
“Baiklah kalau begitu,” kata Bayazid, “sekarang tanggalkan pakaianmu.

Sebagai gantinya, pakailah baju yang lusuh, sobek, dan compang-camping.

Gantungkan di lehermu kantung berisi kacang. Pergilah kau ke pasar,

kumpulkan sebanyak mungkin anak-anak kecil di sana. Katakan pada mereka,

“Hai anak-anak, barangsiapa di antara kalian yang mau menampar aku satu

kali, aku beri satu kantung kacang.” Lalu datangilah tempat di mana

jamaah kamu sering mengagumimu. Katakan juga pada mereka, “Siapa yang

mau menampar mukaku, aku beri satu kantung kacang!”
“Subhanallah, masya Allah, lailahailallah,” kata murid itu terkejut.
Bayazid berkata, “Jika kalimat-kalimat suci itu diucapkan oleh orang

kafir, ia berubah menjadi mukmin. Tapi kalau kalimat itu diucapkan oleh

seorang sepertimu, kau berubah dari mukmin menjadi kafir.”
Murid itu keheranan, “Mengapa bisa begitu?”
Bayazid menjawab, “Karena kelihatannya kau sedang memuji Allah, padahal

sebenarnya kau sedang memuji dirimu. Ketika kau katakan: Tuhan mahasuci,

seakan-akan kau mensucikan Tuhan padahal kau menonjolkan kesucian dirimu.”
“Kalau begitu,” murid itu kembali meminta, “berilah saya nasihat lain.”
Bayazid menjawab, “Bukankah aku sudah bilang, kau takkan mampu

melakukannya!”
Cerita ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Bayazid mengajarkan

bahwa orang yang sering beribadat mudah terkena penyakit ujub dan

takabur. “Hati-hatilah kalian dengan ujub,” pesan Iblis.
Dahulu, Iblis beribadat ribuan tahun kepada Allah. Tetapi karena

takaburnya terhadap Adam, Tuhan menjatuhkan Iblis ke derajat yang

serendah-rendahnya.
Takabur dapat terjadi karena amal atau kedudukan kita. Kita sering

merasa menjadi orang yang penting dan mulia. Bayazid menyuruh kita

menjadi orang hina agar ego dan keinginan kita untuk menonjol dan

dihormati segera hancur, yang tersisa adalah perasaan tawadhu dan

kerendah-hatian. Hanya dengan itu kita bisa mencapai hadirat Allah swt.
Orang-orang yang suka mengaji juga dapat jatuh kepada ujub. Mereka

merasa telah memiliki ilmu yang banyak. Suatu hari, seseorang datang

kepada Nabi saw, “Ya Rasulallah, aku rasa aku telah banyak mengetahui

syariat Islam. Apakah ada hal lain yang dapat kupegang teguh?” Nabi

menjawab, :”Katakanlah: Tuhanku Allah, kemudian ber-istiqamah-lah kamu.”
Ujub seringkali terjadi di kalangan orang yang banyak beribadat. Orang

sering merasa ibadat yang ia lakukan sudah lebih dari cukup sehingga ia

menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan. Ia menganggap

ibadat sebagai investasi. Orang yang gemar beribadat cenderung jatuh

pada perasaan tinggi diri. Ibadat dijadikan cara untuk meningkatkan

statusnya di tengah masyarakat. Orang itu akan amat tersinggung bila

tidak diberikan tempat yang memadai statusnya. Sebagai seorang ahli

ibadat, ia ingin disambut dalam setiap majelis dan diberi tempat duduk

yang paling utama.
Tulisan ini saya tutup dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam

Ahmad dalam musnad-nya; Suatu hari, di depan Rasulullah saw Abu Bakar

menceritakan seorang sahabat yang amat rajin ibadatnya. Ketekunannya

menakjubkan semua orang. Tapi Rasulullah tak memberikan komentar

apa-apa. Para sahabat keheranan. Mereka bertanya-tanya, mengapa Nabi tak

menyuruh sahabat yang lain agar mengikuti sahabat ahli ibadat itu.

Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu lewat di hadapan majelis Nabi. Ia

kemudian duduk di tempat itu tanpa mengucapkan salam. Abu Bakar berkata

kepada Nabi, “Itulah orang yang tadi kita bicarakan, ya Rasulallah.”

Nabi hanya berkata, “Aku lihat ada bekas sentuhan setan di wajahnya.”
Nabi lalu mendekati orang itu dan bertanya, “Bukankah kalau kamu datang

di satu majelis kamu merasa bahwa kamulah orang yang paling salih di

majelis itu?” Sahabat yang ditanya menjawab, “Allahumma, na’am. Ya

Allah, memang begitulah aku.” Orang itu lalu pergi meninggalkan majelis

Nabi.
Setelah itu Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Siapa di

antara kalian yang mau membunuh orang itu?” “Aku,” jawab Abu Bakar.
Abu Bakar lalu pergi tapi tak berapa lama ia kembali lagi, “Ya

Rasulallah, bagaimana mungkin aku membunuhnya? Ia sedang ruku’.”
Nabi tetap bertanya, “Siapa yang mau membunuh orang itu?” Umar bin

Khaththab menjawab, “Aku.” Tapi seperti juga Abu Bakar, ia kembali tanpa

membunuh orang itu, “Bagaimana mungkin aku bunuh orang yang sedang

bersujud dan meratakan dahinya di atas tanah?” Nabi masih bertanya,

“Siapa yang akan membunuh orang itu?” Imam Ali bangkit, “Aku.” Ia lalu

keluar dengan membawa pedang dan kembali dengan pedang yang masih

bersih, tidak berlumuran darah, “Ia telah pergi, ya Rasulullah.” Nabi

kemudian bersabda, “Sekiranya engkau bunuh dia. Umatku takkan pecah

sepeninggalku….” Dari kisah ini pun kita dapat mengambil hikmah: Selama

di tengah-tengah kita masih terdapat orang yang merasa dirinya paling

salih, paling berilmu, dan paling benar dalam pendapatnya, pastilah

terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin. Nabi memberikan pelajaran

bagi umatnya bahwa perasaan ujub akan amal salih yang dimiliki adalah

penyebab perpecahan di tengah orang Islam. Ujub menjadi penghalang

naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Penawarnya hanya satu,

belajarlah menghinakan diri kita. Seperti yang dinasihatkan Bayazid

Al-Busthami kepada santrinya.

  Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam

yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan

manusia. Ia mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak dalam berhujjah,

sehingga ia digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Ia

sangat dihormati karena keluasan ilmunya. Banyak sekali karya besarnya,

antara lain : Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama) ygmerupakan

karyanya yang terkenal; Kimiya as-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan); Misykah

al-Anwar ; Maqasid al-Falasifah; Tahafut al-Falasifah; Al-Mushtasfa min

Ilm al-Ushul; Miyar al-Ilm;
al-Qistas al-Mustaqim serta Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq dlsb.
Pada suatu ketika Imam al-Ghazali menulis kitab. Pada waktu itu orang

menulis menggunakan tinta dan sebatang pena. Pena itu harus dicelupkan

dulu kedalam tinta baru kemudian dipaakai untuk menulis, jika habis di

celup lagi dan menulis lagi. Begitu seterusnya.
Ditengah kesibukan menulis itu, tiba-tiba terbanglah seekor lalat dan

hinggap di mangkuk tinta Imam al- Ghazali. Lalat itu tampaknya sedang

kehausan. Ia meminum tinta dimangkuk itu.
Melihat lalat yang kehausan itu, Imam al-Ghazali membiarkan saja lalat

itu meminum tintanya. Lalat juga makhluk Allah yang harus diberikan

kasih sayang, pikir Al-Ghazali.
Ketika Al-Ghazali wafat, selang beberapa hari kemudian,seorang Ulama

yang merupakan sahabat dekat beliau bermimpi. Dalam mimpi itu terjadilah

dialog. Sahabatnya itu bertanya, ” Wahai Hujattul Islam, Apa yang telah

diperbuat Allah kepadamu? “.
Al-Ghazali menjawab, ” Allah telah menempatkanku di tempat yang paling

baik “.
“Gerangan apakah sampai engkau ditempatkan Allah ditempat yang paling

baik itu ? Apakah itu karena kealimanmu dan banyaknya kitab-kitab

bermanfaat yang telah kau tulis?” tanya sahabatnya.
Al-Ghazali menjawab, “Tidak, Allah memberiku tempat yg terbaik, hanya

karena pada saat aku menulis aku memberikan kesempatan kepada seekor

lalat untuk meminum tintaku karena kehausan. Aku lakukan itu karena aku

sayang pada makhluk Allah. ”
Sahabatku,
Dari kisah sufi tersebut memberi kita hikmah bahwa hanya tidak ada

salahnya jika kita menolong mahluk Allah. Bayangkan hanya sekedar

membiarkan lalat yang kehausan untuk minum saja menjadikan sebab

seseorang masuk surga, apalagi memberi makan kepada sesama manusia.

bersedekah bagi sesama yang benar-benar membutuhkan.
Dalam hadits lain, diriwayatkan bahwa Nabi bercerita ada seorang pelacur

bisa masuk Surga karena memberi minum seekor Anjing. Juga jangan

remehkan dosa kecil karena dalam hadits diriwayatkan bahwa ada seorang

wanita masuk neraka karena memelihara seekor kucing lalu mendzaliminya.
So, jangan remehkan amal kecil karena sebesar dzarroh pun akan

diperhitungkan di akhirat kelak.
Allah Swt berfirman :”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat

dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang

mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat

(balasan)nya pula” (QS. 99: 7-8)
Sahabatku,
Kisah di atas juga mengajari kita untuk tidak atau jangan pernah

meremehkan amalan (kebaikan) sekecil apapun, karena sesungguhnya kita

tidak pernah tahu, bisa jadi amalan yang kita anggap kecil tersebut

berarti besar di hadapan Allah Swt, dan justru amalan tersebutlah yang

akan mengantarkan kita ke Surga. Sebaliknya kita juga tidak tahu bahwa

mungkin dosa (yang dianggap kecil) bisa menjerumuskan kita ke lembah

kehinaan, Neraka Jahanam. a’udzubillahimindzalik.
Akan tetapi, terkadang kita terlalu mengejar amal-amal besar dan

meremehkan amal kecil, padahal ketika beramal kecil seringkali kita

malah bisa sangat ikhlas.
Kebaikan (Amal) itu tidak selalu kita menyumbang ke Masjid, tapi sekedar

menyingkirkan duri di jalanan atau sekedar memungut sampah permen,

sekedar mengucap salam kepada sesama muslim yang belum kita kenal,

sekedar senyum pada sahabat kita, tidak ada yang sia-sia. Jika kita bisa

melakukan amal-amal ringan, kenapa harus menunggu kesempatan untuk

beramal besar? Bukankah juga Allah itu menyukai amalan yang

berkelanjutan meskipun sedikit?
Boleh jadi amalan kecil yang pernah kita lakukan adalah amalan paling

ikhlas sehingga bisa menyelamatkan kita di hari akhirat kelak. Boleh

jadi amalan kecil tsb menjadi pelindung kita dari siksa kubur, dan boleh

jadi amalan kecil tsb bisa menjadi perantara bagi dikabulkannya doa-doa

kita. Boleh jadi juga amalan kecil tersebut menjadi penghapus dosa-dosa

kita.
Karena itu marilah sejak saat ini, lakukanlah secara dawam (konsisten)

suatu amal ibadah yang kecil yang dilakukan ikhlas karena Allah Swt semata.
Allah Swt senang terhadap amalan yang dilakukan secara dawam, dan ketika

kita berhalangan (uzur syar’i) dan kita tidak dapat melakukan amal yang

biasa kita dawamkan tersebut, Insya Allah, Allah SWT akan tetap memberi

pahala seperti kita melakukan amalan tersebut di hari lainnya.
Semoga Allah Swt memudahkan kita dan anak2 keturunan kita untuk

melakukan amalan-amalan kecil secara dawam dan memberikan keistiqamahan

kepada kita menjalaninya dalam kehidupan ini, sehingga dapat mengundang

keridhaan dan kasih sayang dari Allah Swt, Dan semoga Allah Swt menerima

dan melipatgandakan pahala amalan2 kita baik yang kecil maupun yang

besar,. Aamiin.
Semangat Pagi sahabatku, Selamat beraktifitas menjemput rezeki dan

jangan lupa untuk saling berlomba dalam kebaikan dan saling berpesan

dalam kebenaran dan kesabaran.
Untuk Anda yg sedang dilanda musibah/sakit, Semoga Allah segera

mengangkat musibah/ penyakitnya dan menggantinya dgn kesehatan dan

kebahagiaan. Amin YRA
Semoga tulisan sederhana ini membawa manfaat bagi diri saya, keluarga

dan kita semua. Amin YRA
Mutiara Hikmah <http://www.jadzab.com/&gt;

   Dikisahkan, di sebuah kota besar bernama Merv, hiduplah seorang pemuda

yang begitu mencintai kemewahan dunia. Setiap hari, yang ia lakukan

adalah bersenang-senang dengan berbagai cara. Jika sudah bosan dengan

cara yang satu, ia akan mencari cara lain.
Ia tidak peduli dengan apapun yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya

tersebut. Juga, tidak peduli dengan segala aturan dan hukum yang berlaku

di sana. Baginya, yang terpenting adalah bisa merasa senang.
Hingga, suatu hari, kala Bisyr mengadakan perjalanan menuju tempat

pesta, ia bertemu dengan seorang bijak. “Wahai saudaraku, aku ingin

menyampaikan pesan untukmu,” ucap seorang bijak yang ternyata juga sufi,

setelah mengucap salam.
“Pesan dari siapa?” tanya Bisyr tanpa berbasa basi. “Pesan dari Allah,”

jawab si sufi. “Ah, apakah itu berarti aku akan segera mati? Adakah yang

dapat mencegah kematianku barang sedetik saja agar aku bisa pamit kepada

teman-teman pestaku? Adakah yang dapat menolongku agar terhindar dari

kematian?” serbunya dengan tanya.
“Allah memerintahkanku, agar segera mengislamkanmu,” jawab sufi dengan

sangat tenang.
“Ada begitu banyak orang yang bernama Bisyr di kota ini. Ada yang

Yahudi, Kristen, dan ada juga yang Magi. Dan, namaku juga Bisyr. Lantas,

mengapa hanya Bisyr-ku yang menerima anugerah islam, sedangkan Bisyr

Bisyr yang lain tidak mendapat anugerah yang begitu besar itu?” selidik

Bisyr.
“Anugerah bisa datang kepada siapa saja. Pada Bisyr-mu atau Bisyr Bisyr

yang lain. Namun, begitulah Allah ketika berkehendak. Dia akan

mengundang siapa saja untuk memasuki istana-Nya (Islam),” ucap sang bijak.
“Kau masih ingat peristiwa beberapa bulan lalu, wahai Anak Muda, saat

kau menyelamatkan secarik kertas berlafadz, Dengan menyebut Nama Allah

yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang?” lanjutnya.
Bisyr mengerutkan dahi, bertanda sedang berpikir, “Ya, aku masih ingat.

Lantas apa hubungannya dengan anugerah keislamanku?” “Kau apakan kertas

itu?” tanya sufi, tanpa menjawab pertanyaan si pemuda.
“Aku menyimpannya dengan baik-baik di bawah bantalku, dan setiap malam

sebelum tidur aku membacanya secara berulang-ulang hingga akhirnya

kantuk itu menyerangkutanpa aku tahu apa maksud kalimat itu.” Jawab Bisyr.
Guru bijak itu tersenyum, lalu berkata, “Itulah yang Allah karuniakan

untukmu, Anak Muda. Awalnya aku mengira bahwa kamu tidak lebih dari

seorang pemuda yang gemar melakukan maksiat, namun ternyata kau mampu

mengagungkan-Nya melebihi para ahli ibadah. Allah mengundangmu sebagai

tamu-Nya melalui Islam.”
Mendengar ungkapan itu, Bisyr pun langsung tersungkur. Ia menangis

sembari dituntun mengucap syahadat. Ia bersyukur karena mendapat

kesempatan untuk memeluk Islam sebelum ajal menjemputnya.
Lantas, bagaimana dengan kita (yang sudah mengaku Islam sejak lahir)?

Apakah kita mampu memanfaatkan anugerah terbesar bagi manusia itu?

Sudahkah kita bersyukur dan mengoptimalkan kesempatan panggilan-Nya guna

merasakan nikmatnya menjadi tamu istana-Nya (Islam)? 

Fariduddin Atthar berkisah tentang Bisyr Ibnu al Harits. Seorang ahli

sufi yang pernah hidup sekitar tahun 150 H hingga 227 H. Konon, dahulu

kala Bisyr merupakan pemuda kaya raya yang gemar melakukan maksiat.

Namun, pertemuannya dengan Sufi Agung telah membawanya pada jalan

hidayah. Hingga kemudian ia dijuluki sebagai Si Telanjang Kaki, akibat

meninggalkan keduniaannya guna mengabdikan seluruh hidupnya pada Tuhan.
Ia sangat dikagumi oleh Ahmad Ibnu Hanbal dan Khalifah al Mamun sebagai

panutan.
Mutiara Hikmah <http://www.jadzab.com/&gt;

   Dikisahkan, di sebuah kota besar bernama Merv, hiduplah seorang pemuda

yang begitu mencintai kemewahan dunia. Setiap hari, yang ia lakukan

adalah bersenang-senang dengan berbagai cara. Jika sudah bosan dengan

cara yang satu, ia akan mencari cara lain.
Ia tidak peduli dengan apapun yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya

tersebut. Juga, tidak peduli dengan segala aturan dan hukum yang berlaku

di sana. Baginya, yang terpenting adalah bisa merasa senang.
Hingga, suatu hari, kala Bisyr mengadakan perjalanan menuju tempat

pesta, ia bertemu dengan seorang bijak. “Wahai saudaraku, aku ingin

menyampaikan pesan untukmu,” ucap seorang bijak yang ternyata juga sufi,

setelah mengucap salam.
“Pesan dari siapa?” tanya Bisyr tanpa berbasa basi. “Pesan dari Allah,”

jawab si sufi. “Ah, apakah itu berarti aku akan segera mati? Adakah yang

dapat mencegah kematianku barang sedetik saja agar aku bisa pamit kepada

teman-teman pestaku? Adakah yang dapat menolongku agar terhindar dari

kematian?” serbunya dengan tanya.
“Allah memerintahkanku, agar segera mengislamkanmu,” jawab sufi dengan

sangat tenang.
“Ada begitu banyak orang yang bernama Bisyr di kota ini. Ada yang

Yahudi, Kristen, dan ada juga yang Magi. Dan, namaku juga Bisyr. Lantas,

mengapa hanya Bisyr-ku yang menerima anugerah islam, sedangkan Bisyr

Bisyr yang lain tidak mendapat anugerah yang begitu besar itu?” selidik

Bisyr.
“Anugerah bisa datang kepada siapa saja. Pada Bisyr-mu atau Bisyr Bisyr

yang lain. Namun, begitulah Allah ketika berkehendak. Dia akan

mengundang siapa saja untuk memasuki istana-Nya (Islam),” ucap sang bijak.
“Kau masih ingat peristiwa beberapa bulan lalu, wahai Anak Muda, saat

kau menyelamatkan secarik kertas berlafadz, Dengan menyebut Nama Allah

yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang?” lanjutnya.
Bisyr mengerutkan dahi, bertanda sedang berpikir, “Ya, aku masih ingat.

Lantas apa hubungannya dengan anugerah keislamanku?” “Kau apakan kertas

itu?” tanya sufi, tanpa menjawab pertanyaan si pemuda.
“Aku menyimpannya dengan baik-baik di bawah bantalku, dan setiap malam

sebelum tidur aku membacanya secara berulang-ulang hingga akhirnya

kantuk itu menyerangkutanpa aku tahu apa maksud kalimat itu.” Jawab Bisyr.
Guru bijak itu tersenyum, lalu berkata, “Itulah yang Allah karuniakan

untukmu, Anak Muda. Awalnya aku mengira bahwa kamu tidak lebih dari

seorang pemuda yang gemar melakukan maksiat, namun ternyata kau mampu

mengagungkan-Nya melebihi para ahli ibadah. Allah mengundangmu sebagai

tamu-Nya melalui Islam.”
Mendengar ungkapan itu, Bisyr pun langsung tersungkur. Ia menangis

sembari dituntun mengucap syahadat. Ia bersyukur karena mendapat

kesempatan untuk memeluk Islam sebelum ajal menjemputnya.
Lantas, bagaimana dengan kita (yang sudah mengaku Islam sejak lahir)?

Apakah kita mampu memanfaatkan anugerah terbesar bagi manusia itu?

Sudahkah kita bersyukur dan mengoptimalkan kesempatan panggilan-Nya guna

merasakan nikmatnya menjadi tamu istana-Nya (Islam)? 

Fariduddin Atthar berkisah tentang Bisyr Ibnu al Harits. Seorang ahli

sufi yang pernah hidup sekitar tahun 150 H hingga 227 H. Konon, dahulu

kala Bisyr merupakan pemuda kaya raya yang gemar melakukan maksiat.

Namun, pertemuannya dengan Sufi Agung telah membawanya pada jalan

hidayah. Hingga kemudian ia dijuluki sebagai Si Telanjang Kaki, akibat

meninggalkan keduniaannya guna mengabdikan seluruh hidupnya pada Tuhan.
Ia sangat dikagumi oleh Ahmad Ibnu Hanbal dan Khalifah al Mamun sebagai

panutan.

Kisah Nabi Yusuf As

Mimpi Nabi Yusuf
Sajadah Muslim – Yusuf adalah putra Nabi Ya’qub, diantara dua belas orang anak-anak Ya’qub, Yusuf dan Bunyaminlah yang paling dicintai. Hal ini menimbulkan iri hati saudara-saudaranya yang lain. Yusuf wajahnya sangat tampan, lebih tampan dari pada saudara-saudaranya yang lain. Bentuk tubuhnya sangat bagus. Terlebih setelah ibunya (Rahil) meninggal dunia maka ia makin disayang oleh ayahnya. Pada suatu malam ia bermimpi, ia melihat sebelas bintang bulan dan matahari bersujud kepadanya. Esok harinya ia ceritakan hal itu kepada ayahnya. “Sebelas bintang adalah saudara-saudaramu. Matahari adalah ayahmu, bulan adalah ibumu. Semua akan menghormatimu, kelak kau akan jadi orang besar, maka jangan sampai saudara-saudaram tahu. Jika saudamu tahu mereka akan mencelakakanmu.”

Kisah-Nabi-Yusuf

Namun tanpa setahu Yusuf dan ayahnya ternyata salah seorang saudaranya mengetahu pembicaraan ayahnya itu. Sejak saat itu mereka makin membenci Yusuf dan selalu berusaha mencelakakannya. Pada suatu hari mereka meminta izin kepada Nabi Ya’qub untuk mengajak Yusuf berburu binatang. Mula-mula Nabi Ya’qub tidak mengijinkan, tapi setelah mereka menunjukkan kesanggupannya menjaga Yusuf dai bahaya maka Nabi Ya’qub tidak melarangnya lagi. Yusuf boleh ikut berburu, tinggal bunyamin yang menemani Nabi Ya’qub dirumah. Di tengah hutan, setelah berburu tiba-tiba mereka menangkap Yusuf. “Hei, mau kalian apakan aku ini ? protes Yusuf. “Diam ! “bentak salah seorang kakaknya. Mereka hendak membunuh Yusuf, namun tidak sampai hati, salah seorang mengusulkan agar dimasukkan saja ke dalam sumur. Pasti ada khalifah yang akan mengambilnya dan Yusuf pasti akan dijual sebagai budak. Dengan demikian Yusuf tersingkir dari keluarga Ya’qub, usul itu disetujui.

Demikianlah Yusuf yang masih kecil tak berdaya ketika saudara-saudaranya yang lebih besar memasukkannya ke dalam sumu. Sebelumnya baju Yusuf telah dilepas. Mereka kemudian membunuh hewan, darahnya ditumpahkan ke baju Yusuf, setelah pulang mereka berkata bahwa Yusuf telah dimakan serigala hingga bajunya berlumuran darah. Nabi Ya’qb sangat sedih mendengar hal itu, demikian sangat kesedihannya sehingga selalu menangis dan sampai-sampai matanya menjadi buta.
Yusuf Menjadi Budak Belian
Tidak berapa lama Yusuf di dalam sumur, ada serombongan Kafilah yang hendak mengambil air. Mereka menemukan Yusuf, maka Yusuf dibawaii sebagai tawanan, mereka akan menjualnya di negeri Mesir. Sesampai di Mesir Yusuf benar-benar dijual sebagai budak, pembelinya seorang menteri kerajaan bernama Kitfir, kemudian menteri tersebut menyerahkan Yusuf kepada istrinya yaitu Zulaiha. Kitfir dan Zulaiha tidak mempunyai anak, mereka brmaksud mnjadikan Yusuf sebagai anak angkatnya. Kini Yusuf hidup dilingkungan istana Kerajaan Mesir, makin lama makin tampaklah bahwa Yusuf seorang pemuda yang tampan lagi cerdas. Zulaiha kemudian mengangkatnya sebagai kepala pelayan di istana.
Zulaikha Tergoda Ketampanan Nabi Yusuf
Sebagai pemuda yang tampan dan ramah Yusuf telah menarik perhatian Zulaiha, bukan sebagai ibu dan anak, Zulaiha tertarik kepada Yusuf sebagai seorang wanita kepada lelaki dewasa. Pada suatu hari, disaat suaminya pergi, Zulaiha mengenakan pakaiannya yang terbaik, bau parfum tersebar diseluruh tubuhnya, ia menghampiri Yusuf di kamarnya. Yusuf berdebar kencang saat melihat penampilan Zulaiha yang lain dari biasanya. Begitu menyolok dan merangsang. Berkata Zulaiha kepada Yusuf : “Marilah Yusuf, seluruh jiwa dan ragaku kuserahkan kepadamu. “Yusuf hampir tergoda, namun ia segera ingat kepada Tuhan, ia pun berkata : “Aku berlindung kepada Allah dai perbuatan maksiat ini. Bagaimanakah aku akan melakukan perbuatan ini, sedang suamimu adalah Tuanku yang telah memuliakan dan berbuat baik kepadaku, adalah tidak patut jika suatu kebaikan dibalas dengan penghinaan.”

Akan tetap hati dan pikiran Zulaiha telah dikuasai nafsu dan tergoda bujukan iblis. Ia tak menghiraukan peringatan Yusuf. “Yusuf” desah Zulaiha sambil menghambur dan memeluk Yusuf erat-erat. Tidak seorang pun melihat kita. Tidak ada yang mengetahui perbuatan kita. “Allah mengetahuinya ! “Jawab Yusuf sambil berontak melepaskan diri, buru-buru ia melahikan diri dari dalam kamar. Zulaiha mengejar dan berhasil memegang baju belakang Yusuf. Ia berharap Yusuf akan berhenti dan mau melayaninya. Tapi Yusuf terus berlari sehingga bajunya robek dibagian belakang. Di saat demikian tiba-tiba Kitfir dating, Zulaiha segera menghampiri suaminya dan berkata : “Yusuf hendak memaksaku melakukan perbuatan mesum. “Tidak ! “Sahut Yusuf. “Dialah yang memaksa saya untuk melakukan perbuatan keji itu.”

Terjadilah saling tuduh menuduh, disaat demikian datanglah tetangga dekat sekaligus sebagai penengah, berkata tetangga itu : “Kita lihat saja, jika baju Yusuf robek dibagian depan berarti dia hendak memaksa Zulaiha berbuat mesum. Jika bajunya robek dibelakang itu pertanda Zulaiha yang memaksa Yusuf berbuat maksiat. “Kitfir memeriksa dan ternyata baju Yusuf robek di bagian belakang, betapa malu pembesar kerajaan Mesir itu. Ternyata istrinya sendiri yang telah berbuat salah. Kitfir menghampiri Yusuf dan berkata : “Rahasiakanlah peristiwa ini, simpan baik-baik, jangan ada orang yang tahu, dan kamu Zulaiha mohonlah ampun kepada Tuhanmu atas dosa yang telah kau lakukan, bertaubatlah Kepada-Nya dengan Taubat yang sebenarnya.”
Para Wanita Terpesona Dengan Nabi Yusuf
Walau sudah diusahakan agar tidak bocor tapi peristiwa Zulaiha dengan anak angkatnya itu akhirnya terdengar juga oleh tetangga kanan kiri. Para wanita baik tua maupun muda sama mempergunjungkannya. Zulaiha merasa malu, dalam hati ia berkata : “Mereka belum pernah melihat Yusuf karena selama ini Yusuf selalu berada di dalam rumah. Coba andakata mereka sudah melihatnya, pasti lebih tergila-gila dari pada aku. “Pada suatu hai Zulaiha mengundang para wanita yang telah mempergunjingkannya, setiap wanita yang dating diberi buah-buahan dan sebilah pisau yang tajam untuk mengupas buah-buahan yang dihidangkan itu. Disaat para wanita itu asyik mengpas buah dengan pisau ditangannya, Zulaiha memerintahkan pelayan untuk memanggil Yusuf agar berjalan diruang tamu.

Semua orang terbelalak kagum ketika melihat penampilan Yusuf yang ganteng dan tampan itu. Semua tercengang dan sejenak lupa diri. “Inilah pemuda yang kalian gunjingkan, ternyata kalian juga mengagumi kegantengannya, sehingga tanpa sadar kalian telah mengupas kulit tangan kalian sendiri, “Kata Zulaiha. Yusuf segera masuk ke dalam, pada saat itulah para wanita tadi baru tersadar bahwa yang mereka kupas bukan buah yang dipegangnya tapi tangan mereka sendiri, darah bercucuran, suasana jadi panic, dengan tersipu malu mereka segera kembali pulang ke rumah masng-masing. Namun issu tentang Zulaiha dan Yusuf masih terus merebak ke seluruh penjuru. Para wanita masih mempergunjingkannya. Untuk menutupi rasa malunya maka Kitfir akhirnya memasukkan Yusuf ke dalam penjara. Hal ini dilakukan secara terpaksa bahwa walaupun Yusuf benar dan Zulaiha salah namun Yusuf yang masuk penjara.
Nabi Yusuf Dipenjara
Memang tak ada jalan lain bagi Kitfir, Yusuf harus dipenjara, jika tidak Zulaiha akan terus tergoda dan siapa tahu lama-lama Yusuf tidak mampu mempertahankan kesuciannya ? Berangkat dari pemikiran inilah Kitfir menjebloskan Yusuf ke dalam jeruji besi. Di dalam penjara ada dua orang pelayan raja, yang pertama bernama Nabo kepala bagian minuman. Kedua bernama Malhab kepala bagian makanan kue-kue. Keduanya dituduh hendak membunuh Raja dengan menaruh racun dalam makanan dan minuman. Di dalam penjara Yusuf mengajak kedua orang itu untuk bertaubat, beribadah kepada Allah saja.

Pada suatu hari Nabo menceritakan mimpinya kepada Yusuf : “Aku bermimpi memeras anggur yang akan kujadikan khamar. “ Nabo minta Yusuf mengartikan mimpi itu, dengan tenang dan yakin Yusuf menerangkan arti mimpi Nabo : “Bergembiralah kau Nabo. Sebentar lagi kau akan dibebaskan dari penjara, kau akan diterima lagi sebagai kepala bagian minuman Raja karena tuduhan terhadapmu tidak terbukti. “Malhab menceritakan mimpinya dan meminta Yusuf mengartikannya : “AKu telah bermimpi membawa kue di atas kepalaku, ketika itulah seekor burung datang memakan kue itu. “Sayang sekali Malhab, kata Yusuf, “Kau akan mengalami nasib buruk, tuduhan terhadapmu terbukti : Raka akan menghukum kau sampai mati di tiang salib. Mayatmu akan dimakan burung buas mulai dari kepalamu.”

Beberapa hari kemudian tafsir mimpi itu terbukti kebenarannya, Nabo dibebaskan dari tuduhan dan diperbolehkan bekerja di istana lagi, sedang Malhab dihukum mati karena terbukti kesalahannya hendak meracuni Raja. Sebelum keluar dari penjara, Yusuf telah berpesan kepada Nabo agar menyampaikan keadaannya di dalam penjara. Ia ingin raja meninjau kembali keputusannya karena sesungguhnya ia tidak bersalah. Justru Zulaihalah yang bersalah. Namun setan membuat Nabo jadi lupa sehingga Yusuf tetap berada di dalam penjara selama beberapa tahun lagi.
Nabi Yusuf Menafsirkan Mimpi Raja Mesir
Pada suatu hari Raja Mesir memanggil semua penasihat dan tukang ramalnya, tadi malam sang Raja bermimpi melihat tujuh ekor lembu kurus memakan tujuh ekor lembu yang gemuk-gemuk. Dan melihat tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai gandum kering. Para penasihat, dukun, tukang ramal diperintah untuk mengartikan mimpi sang Raja. Namun tidak ada seorang pun yang mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Raja sangat kecewa, untunglah Nabo ingat akan kepandaian Yusuf sewaktu berada dipenjara. Ia mengatakan hal itu kepada Raja. Bahwa ada seorang pemuda yang pandai mengartikan mimpi dengan tepat.

Raja kemudian mengutus Nabo untuk menemui Yusuf dipenjara dan minta Yusuf agar mau mengartikan mimpi tersebut. Yusuf bukan hanya bersedia mengartikan mimpi tersebut, ia malah menerangkan jalan keluar dari arti mimpi sang Raja itu. Berkata Yusuf : “Mesir akan mengalami masa subur selama tujuh tahun dan mengalami masa paceklik selama tujuh tahun. “Oleh sebab itu, “sambung Yusuf, hasil panen selama tujuh tahun dimasa subur harus disimpan baik-baik, jangan dihambur-hamburkan. Untuk persediaan tujuh tahun masa paceklik. “Nabo kembali menghadap Raja, setelah disampaikan arti mimpi itu sang Raja merasa senang. Disaat itulah Nabo menyampaikan pesan Yusuf agar sang Raja mau mengadili Yusuf dengan seadil-adilnya karena sesungguhnya ia tidak bersalah. Perkara Yusuf pun diselidiki dan setelah terbukti ia tidak bersalah sang raja membebaskannya dari penjara.
Nabi Yusuf Menjadi Menteri Ekonomi Kerajaan Mesir
Setelah Sang Raja mengetahui kebenaran dan kesucian Yusus, ia makin tertarik. Terlebih setelah diketahuinya bahwa Yusuf itu orang yang cerdas sehingga mampu memberikan jalan keluar persoalan Ekonomi kerajaan Mesir, maka sang Raja akhirnya memanggil Yusuf untuk diangkat sebagai Menteri Ekonomi. Yusuflah yang mengepalai perbendaharaan Negara, ia menjadi kepala gudang aga dapat menanggulangi keserakahan para pejabat korup dan penindasan mereka terhadap rakyat kecil terutama jika nanti tiba musim paceklik.
Paceklik di Tanah Mesir
Apa yang diucapkan Yusuf menjadi kenyataan, sesudah berlangsung masa subur selama tujuh tahun maka datanglah masa paceklik. Masa paceklik itu juga melanda daerah Palestina tempat tinggal Nabi Ya’qub dan saudara-saudara Yusuf. Negeri Palestina yang tidak tahu menahu bakal datangnya kemarau panjang itu tentu kelabakan. Rakyatnya banyak yang menderita kelaparan. Mereka mendengar di Negeri Mesir banyak tersedia bahan makanan dan boleh ditukar dengan emas oleh umum, anak-anak Nabi Ya’qub bermaksud pergi ke Mesir. Pada waktu itu Bunyamin tidak ikut serta. Sewaktu mereka tiba di Mesir dan menukar emasnya dengan gandum mereka sama sekali tidak mengira bahwa kepala gudang perbendaharaan Negeri Mesir adalah Yusuf saudara mereka sendiri. Yusuf mengetahui mereka namun pura-pura tidak mengetahuinya.

Yusuf memperlakukan mereka sebagai tamu terhormat, dijamu dengan makanan yang lezat-lezat, mereka juga diberi bekal pejalanan pulang. Ketika mereka bersiap-siap hendak pulang ke Palestina, Yusuf berkata kepada mereka : “Bawalah saudaramu yang seayah (maksudnya Bunyamin) jika tidak kamu bawa lain kali kalian tidak kuperbolehkan masuk negeri Mesir dan tidak boleh membeli bahan makanan disini. Mereka kaget mendengar ucapan sang menteri. Tak disangka sang menteri mengetahui bahwa mereka masih mempunyai saudara lagi yaitu Bunyamin.
Bunyamin Bertemu Yusuf
Ketika mereka tiba di rumah dan membuka karung gandum, ternyata emas-emas yang mereka tukarkan berada di dalam karung bersama gandum. Mereka heran dan segera melaporkan kepada ayah mereka Nabi Ya’qub. “Sungguh aneh ? “gumam Nabi Ya’qub. Ketika merekan mengatakan keinginan Menteri Ekonomi agar mereka mau membawa Bunyamin ke Mesir, Nabi Ya’qub langsung menolak. Ia kuatir Bunyamin akan mengalami nasib serupa Yusuf dahulu. “Jika kami tidak boleh membawa Bunyamin maka kam tidak boleh memasuki Negeri Mesir dan tidak boleh membeli bahan makanan lagi, “kata mereka. “Nabi Ya’qub tetap tidak memperbolehkan Bunyamin dibawa pergi. Trauma atas kehilangan Yusuf masih menghantui dirinya. Namun ketika persediaan bahan makanan semakin menipis, maka tak bisa tidak mereka harus pergi ke Mesir lagi.

“Bersumpalah atas Nama Tuhan, “Kata Nabi Ya’qub. “Bahwa kalian harus melindungi Bunyamin dengan segenap jiwa raga kalian. Jika terjadi sesuatu kalian harus membelanya sampai titik darah terakhir. “Mereka serentak menyatakan kesedihannya untuk melindungi Bunyamin dan bersumpah demi Allah akan membela dan membawa Bunyamin kembali. Demikianlah, untuk kali yang kedua mereka pergi ke Mesir. Yusuf sebenarnya tak kuat menahan diri begitu melihat saudara-saudaranya datang membawa Bunyamin. Ia ingin segera memeluk Bunyamin erat-erat karena sudah lama tidak bertemu dengan adik kandungnya itu. Namun untuk sementara ia tidak ingin saudara-saudaranya yang lain tahu bahwa ia adalah Yusuf yang pernah mereka masukkan ke dalam sumur. Ia mencari cara agar Bunyamin dapat tinggal di istana. Tidak ikut pulang ke Palestina. Yusuf kemudian meletakkan piala raja yang terbuat dari emas di karung Bunyamin.

Untuk sementara Yusuf membiarkan saudara-saudaranya berjalan ke luar kota. Namun tidak lama kemudian ia memerintahkan prajurit untuk menyusul rombongan saudara-saudaranya itu. Mereka terkejut ketika serombongan prajurit menyusul dan memintanya berhenti. “Raja kami kehilangan piala yang terbuat dari emas. Apakah kalian mengetahuinya, siapa yang menemukan piala itu akan diberi hadiah gandum satu tunggangan unta. Kami datang ke Mesir bukan untuk membuat kerusuhan, “Kata saudara-saudara Yusuf. Dan kami bukanlah termasuk orang-orang yang mencuri. Para prajurit berkata : Apakah hukuman bagi orang yang melakukan pencurian itu ? Hukumannya adalah menjadi budak, itulah tebusan dari perbuatannya, jawab saudara-saudara Yusuf.

Prajurit itu kemudian menggeledah tiap karung dari saudara-saudara Yusuf. Tiba-tiba mereka menemukannya di dalam karung Bunyamin, tanpa kompromi lagi, Bunyamin dibawa menghadap Menteri Perekonomian yaitu Yusuf. Saudara-saudara Bunyamin yang lain diperbolehkan pulang. Yahudza tak ikut pulang, ia merasa malu kepada ayahnya karena telah berjanji melindungi Bunyamin dari segala marabahaya, nyatanya Bunyamin sekarang tak bisa ia bawa pulang. Yahudza bersumpah tidak akan pulang sebelum membawa Bunyamin atau ayahnya sendiri memanggilnya pulang. Sementara itu Bunyamin gemetar saat dihadapkan kepada Menteri Ekonomi Mesir. Baru kali ini ia berhadapan dengan pejabat tinggi di istana kerajaan. Wajahnya pucat pasi, tap hal itu tak berlangsung lama karena Yusuf segera memeluknya dan mengatakan siapa sebenarnya sang Menteri Ekonomi itu. Pertemuan kakak beradik itu benar-benar mengharukan, Bunyamin menangis terisak-isak, ia segera menceritakan nasib ayahnya di Palestina. Betapa menderitanya sang ayah sejak ditinggal Yusuf setiap hari ayahnya menangis sampai matanya menjadi putih dan tak dapat melihat lagi.
Impian Nabi Yusuf Menjadi Kenyataan
Begitu mengetahui Sembilan orang anaknya pulang tanpa membawa Bunyamin, Nabi Ya’qub terpukul jiwanya. Ia bnear-benar sedih. Sudah kehilangan Yusuf kini Bunyamin dijadikan budak oleh penguasa Negeri Mesir. Dari hari ke hari tampak nian kesedihan Nabi Ya’qub, kini ia lebih suka menyendiri di mihrabnya (tempat ibadah). Hanya Tuhan tempatnya mengadu dan berkeluh kesah. Pada suatu hari ia mendapat ilham bahwa Yusuf itu masih hidup dan tak lama lagi ia akan berjumpa dengan anak yang sangat dicintainya itu. Nabi Ya’qub kemudian memerintahkan anak-anaknya mengembara ke Mesir : “ Carilah kabar tentang Yusuf di Mesir dan berusahalah membebaskan Bunyamin agar dapat pulang. Karena tak sampai hati melihat penderitaan ayahnya, anak-anak Nabi ya’qub itu akhirnya pergi ke Mesir lagi. Mereka langsung menghadap Menteri Ekonomi. Di samping hendak meminta bantuan makanan mereka juga meminta agar penguasa Mesir mau membebaskan Bunyamin.

“Ayah kam sangat bersedih sejak kehilangan Yusuf, terlebih setelah Bunyamin juga tak dapat kembali pulang. Kami benar-benar mengharap belas kasih Paduka agar mau membebaskan Bunyamin sehingga dapat mengurangi penderitaan ayah kami. Akhirnya Yusuf tak sampai hati mendengar penuturan saudara-saudaranya tentang ayahnya yang menderita. Sambil tersenyum ia berkata : “Masih ingatkah kalian, kepada saudaramu Yusuf yang kalian lemparkan ke dalam sumur tanpa belas kasih. Kalian meninggalkannya seorang diri seperti barang yang tak berharga. Tak kalian hiraukan ratap tangisnya dan kalian terus saja pulang tanpa merasa bersalah. Mendengar ucapan sang menteri mereka terkejut, bagaimana menteri itu bisa mengetahu perkara rahasia yang tak pernah mereka bocorkan. Mereka saling pandang. Perlahan-lahan mereka mengamati wajah sang menteri. Senyumnya, wajahnya, bentuk tubuhnya dari atas hingga bawah, dan akhirnya hamper berbarengan mereka berucap : “Engkau Yusuf !”

“Benarlah ! “Jawab Yusuf, “akulah Yusuf dan inilah adikku Bunyamin. Allah dengan Rahmat-Nya telah mengakhiri penderitaanku dan ujian berat yang telah kualami. Dan dengan rahmat-Nya pula kami dikaruniai rezeki berlimpah ruah dan penghidupan yang sejahtera. Demikianlah barang siapa yang bersabar, bertakwa dan bertawakkal tidaklah akan luput dari pahala dan ganjaran-Nya. “Saudara-saudara Yusuf gemetar mendengar pengakuan itu ? Terbayang kembali perbuatan mereka saat memasukkan Yusuf ke dalam sumur. Mereka kuatir bila Yusuf membalas dendam. Tapi ternyata Yusuf bukanlah orang yang pendendam, mereka dimaafkan. Yusuf kemudian mengambil baju gamisnya dan diserahkan kepada saudara-saudaranya.

“Usapkanlah baju ini pada kedua belah mata ayah, insya Allah beliau dapat melihat kembali. Kemudia ajaklah ayah dan ibu ke Mesir secepatnya. Aku sudah tak sabar untuk bertemu. “Demikianlah, setelah mereka datang di Palestina, baju gamis Yusuf segera diusapkan di kedua belah mata ayahnya, atas kehendak Allah Nabi Ya’qub yang buta bisa melihat kembali. Nabi ya’qub dan keluarganya kemudian pindah ke Mesir memenuhi permintaan Yusuf. Kini lengkaplah sudah kebahagiaan Yusuf karena dapat berkumpul dengan seluruh keluarganya, Yusuf menaikkan ayah dan ibu (tirinya) ke singgasananya. Apa yang pernah diimpikannya dul sekarang menjadi nyata.
Terima Kasih Sudah Membaca: Kisah Nabi Yusuf AS Yang Sebenarnya

Nabi Khidir A.S dan Nabi Musa A.S

Cover Nabi Khidir

Kisah Musa dan Khaidir dituturkan oleh Al-Qur’an dalam Surah Al-Kahf ayat 65-82. Menurut Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab menceritakan bahwa beliau mendengar nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya pada
suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling berilmu?” Jawab Nabi Musa, “Aku” Lalu Allah menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, “Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.”

Lantas Musa pun bertanya, “Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?” Allah pun berfirman, “Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu.” Sesungguhnya teguran Allah itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang sholeh itu. Di samping itu, Nabi Musa juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut.

Musa kemudiannya menunaikan perintah Allah itu dengan membawa ikan di dalam wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya yang juga merupakan murid dan pembantunya, Yusya bin Nun.

Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh. Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh ke dalam air. Allah SWT membuatkan aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke laut. Yusya` tertegun memperhatikan kebesaran Allah menghidupkan semula ikan yang telah mati itu.

Selepas menyaksikan peristiwa yang sungguh menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya’ tertidur dan ketika terjaga, beliau lupa untuk menceritakannya kepada Musa Mereka kemudiannya meneruskan lagi perjalanan siang dan malamnya dan pada keesokan paginya,
“ Nabi Musa berkata kepada Yusya` “Bawalah ke mari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (Surah Al-Kahfi : 62) ”

Ibn `Abbas berkata, “Nabi Musa sebenarnya tidak merasa letih sehingga baginda melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah supaya menemui hamba-Nya yang lebih berilmu itu.” Yusya’ berkata kepada Nabi Musa,
“ “Tahukah guru bahwa ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak lain yang membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu kembali masuk kedalam laut itu dengan cara yang amat aneh.” (Surah Al-Kahfi : 63) ”

Musa segera teringat sesuatu, bahwa mereka sebenarnya sudah menemukan tempat pertemuan dengan hamba Allah yang sedang dicarinya tersebut. Kini, kedua-dua mereka berbalik arah untuk kembali ke tempat tersebut yaitu di batu yang menjadi tempat persinggahan mereka sebelumnya, tempat bertemunya dua buah lautan.
“ Musa berkata, “Itulah tempat yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (Surah Al-Kahfi : 64) ”

Terdapat banyak pendapat tentang tempat pertemuan Musa dengan Nabi Khaidir as. Ada yang mengatakan bahwa tempat tersebut adalah pertemuan Laut Romawi dengan Parsia yaitu tempat bertemunya Laut Merah dengan Samudra Hindia. Pendapat yang lain mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di tempat pertemuan antara Laut Roma dengan Lautan Atlantik. Di samping itu, ada juga yang mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di sebuah tempat yang bernama Ras Muhammad yaitu antara Teluk Suez dengan Teluk Aqabah di Laut Merah.

Setibanya mereka di tempat yang dituju, mereka melihat seorang hamba Allah yang berjubah putih bersih. Nabi Musa as pun mengucapkan salam kepadanya. Nabi Khaidir menjawab salamnya dan bertanya, “Dari mana datangnya kesejahteraan di bumi yang tidak mempunyai kesejahteraan? Siapakah kamu?” Jawab Musa, “Aku adalah Musa.” nabi Khaidir as bertanya lagi, “Musa dari Bani Isra’il?” Nabi Musa as menjawab, “Ya. Aku datang menemui tuan supaya tuan dapat mengajarkan sebagian ilmu dan kebijaksanaan yang telah diajarkan kepada tuan.”

Nabi Khaidir as menegaskan, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku.” (Surah Al-Kahfi : 67) “Wahai Musa, sesungguhnya ilmu yang kumiliki ini ialah sebahagian daripada ilmu karunia dari Allah yang diajarkan kepadaku tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga memiliki ilmu yang diajarkan kepadamu yang tidak kuketahuinya.”
“ Nabi Musa as berkata, “Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun.” (Surah Al-Kahfi : 69) ”
“ Dia (Khaidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Surah Al-Kahfi : 70) ”

Perjalanan Nabi Khaidir as dan Nabi Musa as

Demikianlah seterusnya Nabi Musa as mengikuti Nabi Khaidir as dan terjadilah beberapa peristiwa yang menguji diri Nabi Musa as yang telah berjanji bahwa dia tidak akan bertanya sebab sesuatu tindakan diambil oleh Nabi Khaidir as. Setiap tindakan Nabi Khaidir a.s. itu dianggap aneh dan membuat Nabi Musa as terperanjat.

Kejadian yang pertama adalah saat Nabi Khaidir menghancurkan perahu yang ditumpangi mereka bersama. Nabi Musa as tidak kuasa untuk menahan hatinya untuk bertanya kepada Nabi Khaidir as. Nabi Khaidir as memperingatkan janji Nabi Musa as, dan akhirnya Nabi Musa as meminta maaf karena kalancangannya mengingkari janjinya untuk tidak bertanya terhadap setiap tindakan Nabi Khaidir as.

Selanjutnya setelah mereka sampai di suatu daratan, Nabi Khidir membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannnya. Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Nabi Khidir tersebut membuat Nabi Musa tak kuasa untuk menanyakan hal tersebut kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir kembali mengingatkan janji Nabi Musa, dan beliau diberi kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Khidir, jika masih bertanya lagi maka Nabi Musa harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan bersama Nabi Khidir.

Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu wilayah perumahan. Mereka kelelahan dan hendak meminta bantuan kepada penduduk sekitar. Namun sikap penduduk sekitar tidak bersahabat dan tidak mau menerima kehadiran mereka, hal ini membuat Nabi Musa as merasa kesal terhadap penduduk itu. Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khaidir as malah menyuruh Nabi Musa as untuk bersama-samanya memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak di daerah tersebut. Nabi Musa as tidak kuasa kembali untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khaidir as ini yang membantu memperbaiki tembok rumah setelah penduduk menzalimi mereka. Akhirnya Nabi Khaidir as menegaskan pada Nabi Musa as bahwa beliau tidak dapat menerima Nabi Musa as untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa as tidak diperkenankan untuk terus melanjutkan perjalannya bersama dengan Nabi Khaidir as.

Selanjutnya Nabi Khaidir as menjelaskan mengapa beliau melakukan hal-hal yang membuat Nabi Musa as bertanya. Kejadian pertama adalah Nabi Khaidir as menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya.

Kejadian yang kedua, Nabi Khaidir as menjelaskan bahwa beliau membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang sholeh dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya.

Kejadian yang ketiga (terakhir), Nabi Khaidir as menjelaskan bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Didalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang sholeh. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya. Dipercaya tempat tersebut berada di negeri Antakya, Turki.

Akhirnya Nabi Musa as. sadar hikmah dari setiap perbuatan yang telah dikerjakan Nabi Khaidir as. Akhirya mengerti pula Nabi Musa as dan merasa amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan seorang hamba Allah yang sholeh yang dapat mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu ladunni. Ilmu ini diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Nabi Khaidir as yang bertindak sebagai seorang guru banyak memberikan nasehat dan menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa as, dan Nabi Musa as menerima nasehat tersebut dengan penuh rasa gembira.

Saat mereka didalam perahu yang ditumpangi, datanglah seekor burung lalu hinggap di ujung perahu itu. Burung itu meneguk air dengan paruhnya, lalu Nabi Khaidir as berkata, “Ilmuku dan ilmumu tidak berbanding dengan ilmu Allah, Ilmu Allah tidak akan pernah berkurang seperti air laut ini karena diteguk sedikit airnya oleh burung ini.”

Sebelum berpisah, Nabi Khaidir as berpesan kepada Musa: “Jadilah kamu seorang yang tersenyum dan bukannya orang yang tertawa. Teruskanlah berdakwah dan janganlah berjalan tanpa tujuan. Janganlah pula apabila kamu melakukan kekhilafan, berputus asa dengan kekhilafan yang telah dilakukan itu. Menangislah disebabkan kekhilafan yang kamu lakukan, wahai Ibnu `Imran.”

Hikmah kisah Nabi Khaidir as

Dari kisah Nabi Khaidir as ini kita dapat mengambil pelajaran penting. Diantaranya adalah Ilmu merupakan karunia Allah SWT, tidak ada seorang manusia pun yang boleh mengklaim bahwa dirinya lebih berilmu dibanding yang lainnya. Hal ini dikarenakan ada ilmu yang merupakan anugerah dari Allah SWT yang diberikan kepada seseorang tanpa harus mempelajarinya (Ilmu Ladunni, yaitu ilmu yang dikhususkan bagi hamba-hamba Allah yang sholeh dan terpilih)

Hikmah yang kedua adalah kita perlu bersabar dan tidak terburu-buru untuk mendapatkan kebijaksanaan dari setiap peristiwa yang dialami. Hikmah ketiga adalah setiap murid harus memelihara adab dengan gurunya. Setiap murid harus bersedia mendengar penjelasan seorang guru dari awal hingga akhir sebelum nantinya dapat bertindak diluar perintah dari guru. Kisah Nabi Khaidir as ini juga menunjukan bahwa Islam memberikan kedudukan yang sangat istimewa kepada guru.
Sumber : http://saymr.blogspot.com/2013/06/rahasia-makrifat-nabi-khidir-as-buat.html