Solusi Pengobatan Qur ‘ani by ustadz Danu

Penyakit – 1

1. Hernia pada bayi/anak kecil.

Dibawah perut ada lubang kecil, salah satunya ada yg sobek. Ini terjadi biasanya krn ortu (salah satu dr suami/isteri) punyakeinginan yg kuat/keras kepala/kaku. Hernia ini mudah sembuh sebab elastis.

Solusinya:

– bayi ditidurkan pd posisi terlentang.
– minta kesembuhan & ampunan pada Allah
– memperbanyak sholat tahajud (dg tdk meninggalkan sholat wajib)

2. Tidak bisa jalan krn lutut kiri bengkak & tangan kanan bagian atas sakit (cekot2…bhs jawanya).

Untuk lutut kiri, biasanya berhubungan dg pekerja dirumah yg ingin dilakukan, tapi takut menyatakan dg terus terang. Untuk tangan kanan yg sakit, biasanya jika menyuruh orang
(baik itu pd keluarga sendiri/orang lain) untuk melakukan suatu
pekerjaan sering dengan emosi/marah.

Solusinya:

– mohon ampunan banyak2 pd Allah
– berjanji merubah tabiat/prilaku
– tidak meninggalkan sholat wajib, + sholat tahajut.

3. Gatal-gatal.

Lymphanya tidak bagus. Biasanya problem ini akan muncul krn keinginan yg sangat kuat khususnya dalam situasi rumah tangga/keluarga.

Solusinya: banyak2 istigfar, dan merubah sikap. Tidak meninggalkan sholat wajib

4.Gondok.

Biasanya ini keinginan bicara yg “ingin menang sendiri”, tapi

karena takut bicara, maka kelenjar thyroid membengkak.

Solusinya:

– Banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
– Sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.
– Mohon kesembuhan dari Allah

5. Kanker Rahim (stadium 3)

(jika bermasalah dg hal yg berhubungan dg “rahim/indung telur” biasanya ini menyangkut masalah terhadap orangtua, khususnya dengan IBU).
Untuk kanker rahim ini, biasanya muncul karena keseringan emosi/suka marah2/jengkel khususnya pada keluarga (anak2/suami/isteri/ibu kandung), namun disimpan saja.

Solusinya:

– Minta maaf pada orang2 yg disakiti
– Belajar untuk tdk marah2
– Bertobat pada Allah & mohon kesembuhannya
– Sholat wajib & tahajud.

6. Kelainan jantung.

Klep-nya bocor/terbuka. Biasanya ini dikarenakan sering menyimpan “emosi” yg kuat.

Solusinya:

– Banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
– Sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.
– Mohon kesembuhan dari Allah

7. Sakit Kuning.

Ini empedunya bermasalah. Biasanya karena terlalu banyak ngomong sehingga cenderung menyakiti orang lain.

Solusinya:

– Banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
– Sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.
– Mohon kesembuhan dari Allah

8. Sakit lever.

Biasanya punya dendam yg masih tersimpan.

Solusinya:

– Hilangkan dendam terlebih dahulu.
– Memaafkan orang yg dianggap bersalah.
– Banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
– Sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.
– Mohon kesembuhan dari Allah

9.Pengapuran di tulang belakang & kaki kiri bawah lutut & pinggang sakit.

Biasanya sering marah2/jengkel yg disimpan dan sering berobat ke dukun/paranormal.

Solusinya:

– harus merubah sikap
– kalau marah2 harus segera istigfar, dan sebaliknya memaafkan orang2 yg membuatnya jengkel/ marah.
– Banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
– Sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.
– Mohon kesembuhan dari Allah

10.Sakit Ginjal (sudah 10 tahun)

Biasanya ini sering marah2 pada isteri/suami/keluarga.

Solusinya:

– Banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
– Sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.
– Mohon kesembuhan dari Allah

11. Keluar darah dari hidung.

(Baik ini dikarenakan oleh polip maupun tumor). Biasanya ini berhubungan dengan “emosi” yg berkenaan dengan lingkungan (penciuman), misalnya krn tdk menyukais esuatu, maka emosi.

Solusinya:

– Banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
– Sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.
– Mohon kesembuhan dari Allah

12. Pusing/Migraine yang hebat.

Biasanya punya pikiran banyak dan sering su’udzon (negative thinking).

Solusinya:

– Banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
– Sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.
– Mohon kesembuhan dari Allah
13. Komplikasi. (asam lambung tinggi, hati gelisah susah tidur sehingga hrs menggunakan obat tidur)

Biasanya karena banyak masalah, misalnya memikirkan anak2, kangen dg anak yg jauh, dsb.

Solusinya:

– Banyak2 bersyukur pada Allah
– Minta maaf pada semuanya (keluarga & orang lain yg disakiti)
– Banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
– Sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.
– Mohon kesembuhan dari Allah

14. Herpes (di pinggang setengah lingkar sebelah kiri) & ginjal sebelah kiri ada kista.

Secara kedokteran memang penyebab Herpes adalah virus. Namun ini berhubungan dengan permasalahan dalam keluarga. Dalam “cara melihat” permasalahan dlm keluarga, disikapi dg kejengkelan/kekecewaan/amarah yang dipendam, dan terus menerus.

Solusinya:

– Belajar memahami masalah, dimusyawarahkan.
– Banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
– Sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.
– Mohon kesembuhan dari Allah

15. Bau Mulut.

Penyebabnya, jarang bicara. Jadi bakteri dlm mulut terus bekerja, sedang O2 tdk leluasa bekerja dg baik. Biasanya mempunyai sifat yg bicaranya tidak enak/suka bikin tersinggung/menyakiti/asbun.

Solusinya:

– Banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
– Sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.
– Mohon kesembuhan dari Allah

16. Bau Badan.

Biasanya orang ini gampang tersinggung, kalau dinasihati langsung “nyerang”, dan malas!

Solusinya:

– Jangan malas untuk mandi/membersihkan diri.
– Banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
– Sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.
– Mohon kesembuhan dari Allah

17. Benjolan di Leher (sebesar telur puyuh, dan sudah 6tahun);Mata Rabun; Ada benjolan di kemaluan.

Biasanya jarang bicara, tapi sekali bicara pedas. Ketika dulu,kalau ada kata/perlakuan yg tidak baik, disimpan saja, sehingga kelenjar thyroid membesar yg akhirnya menjadi benjolan besar.

Solusinya:

– Segala sesuatu hrs disikapi dengan sabar.
– Sifat yg takut bicara harus dirubah, ajak musyawarah.
– Sangan merasa paling benar
– Harus lemah lembut
– Banyak2 mohon ampun/istigfar pada Allah
– Sholat wajib tdk boleh ditinggalkan, ditambah sholat tahajud.
– Mohon kesembuhan dari Allah

18.Alergi
Keinginan yang kuat di barengi dengan kejengkelan, ada amalan untuk keselamatan

19.Batu ginjal 
Ketika istri melakukan kesalahan dan suami ngerti bahwa itu salah kemudian diam dan jengkel.

20. Pendengaran kurang
Tidak mendengarkan nasehat orang terutama orang yang terdekat.

21.Katarak
Memandang pasangan terlalu rendah dan tidak menuruti nasehat baik pasangannya.

22.Janin Sungsang
Ketika ada masalah sama suami kemudian istrinya diam dan jengkel.

23. Dismenor
Dengan suami/anak/orang lain kalau ada masalah sering uring-uringan.

24. Anak nakal
Orang tuanya juga sering marah-marah/uring-uringan/emosi.

25.Tumor ovarium
Punya rasa jengkel banget sama orang tua atau suami.

26.Nyeri perut
Punya amalan-amalan atau selalu mempunyai ke inginan yang kuat dan kalu tidak terpenuhi akan jengkel.

27. Kanker payudara 
Sering marah-marah sama suami atau anak.

28.Asam urat
Tidak luwes dalam keluarga.

29.Nyeri lutut
Mempunyai keinginan yang kuat dan kalau tidak terlaksana akan jengkel atau marah.

30. Nyeri lengan atas kanan
Memberikan nasehat yang baik kepada seseorang kemudian jengkel karena orang tersebut tidak mampu melaksanakannya.

31. Tumor tulang
Mempunyai keinginan yang kuat tapi diam dan jengkel.

32.Tumor
Orangnya ketaka ada masalah kemudian diam tapi dalam hatinya emosi.

33.Diabetes melitus
Suka memerintah terutama sama orang yang dekat dan kalau tidak di laksanakan akan marah/jengkel.

34.Ketuban pecah dini
Istri mempunyai rasa jenkel banget sama orang tuanya terutama ibunya dan suaminya ada rasa marah sama bapaknya.

35. Stroke dan hipertensi, Hidrosepalus
Suka marah-marah tapi marahnya di dalam hati atau marahnya tidak keluar.

36.Mata minus
Memandang sesuatu selalu serius.

37. Penebalan Kulit
Ada amalan-amalan yang selalu di baca ketika ngelamun atau lagi beraktifitas.

38.Susah punya anakKurang cekatan/agresif dalam beribadah dan kurang mesra terhadap pasangan atau sudah dingin.

Iklan

Rahasia Kekuatan Doa

wpid-img_20151006_153554.jpg

 

Kami tidak akan membahas mengenai etika berdoa, karena dalam setiap agama tentunya sudah diajarkan mengenai tata cara dan etika berdoa, kami yakin para pembaca sudah lebih memahaminya.  Tujuan kami menulis jauh dari maksudmenggurui, semata hanya ingin berbagi pengalaman. Dengan kata lain, apa yang kami sampaikan juga pernah kami lakukan dan rasakan. Tujuan kami menulis adalah untuk berbagi kepada sesama, barangkali dapat memberi sedikit manfaat untuk para pembaca yang budiman. Dengan menggunakan akal budi dan hati nurani (nur/cahaya dalam hati) yang penuh keterbatasan kami berusaha mencermati, mengevaluasi dan kemudian menarik benang merah, berupa nilai-nilai  (hikmah) dari setiap kejadian dan pengalaman dalam doa-doa kami.

 

Berkaitan dengan Waktu dan tempat yang dianggap mustajab untuk berdoa, kiranya setiap orang memiliki kepercayaan dan keyakinan yang berbeda-beda. Kedua faktor itu berpengaruh pula terhadap kemantapan hati dan tekad dalam mengajukan permemohonan kepada Tuhan YME. Namun bagi saya pribadi semua tempat dan waktu adalah baik untuk melakukan doa. Pun banyak juga orang meyakini bahw doanya akan dikabulkan Tuhan, walaupun doanya bersifat verbal atau sebatas ucapan lisan saja. Hal ini sebagai konsekuensi, bahwa dalam berdoa hendaknya kita selalu berfikir positif (prasangka baik) pada Tuhan. Kami tetap menghargai pendapat demikian.

 

SULITNYA MENILAI KESUKSESAN DOA

 

Banyak orang merasa doanya tidak/belum terkabulkan. Tetapi banyak pula yang merasa bahwa Tuhan telah mengabulkan doa-doa tetapi dalam kadar yang masih minim, masih jauh dari target yang diharapkan. Itu hanya kata perasaan, belum tentu akurat melihat kenyataan sesunggunya. Memang sulit sekali mengukur prosentase antara doa yang dikabulkan dengan yang tidak dikabulkan. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor berikut ;

  1. Kita sering tidak mencermati, bahkan lupa, bahwa anugrah yang kita rasakan hari ini, minggu ini, bulan ini, adalah merupakan “jawaban” Tuhan atas doa yang kita panjatkan sepuluh atau dua puluh Tahun yang lalu. Apabila sempat terlintas fikiran atau kesadaran seperti itu, pun kita masih meragukan kebenarannya. Karena keragu-raguan yang ada di hati kita, akan memunculah asumsi bahwa hanya sedikit doa ku yang dikabulkan Tuhan.
  2. Doa yang kita pinta pada Tuhan Yang Mahatunggal tentu menurut ukuran kita adalah baik dan ideal, akan tetapi apa yang baik dan ideal menurut kita, belum tentu baik dalam perspektif Tuhan. Tanpa kita sadari bisa saja Tuhan mengganti permohonan dan harapan kita dalam bentuk yang lainnya, tentu saja yang paling baik untuk kita. Tuhan Sang Pengelola Waktu, mungkin akan mengabulkan doa kita pada waktu yang tepat pula. Ketidaktahuan dan ketidaksadaran kita akan bahasa dan kehendak Tuhan (rumus/kodrat alam), membuat kita menyimpulkan bahwa doa ku tidak dikabulkan Tuhan.
  3. Prinsip kebaikan meliputi dua sifat atau dimensi, universal dan spesifik. Kebaikan universal, akan berlaku untuk semua orang atau makhluk. Kebaikan misalnya keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, dan ketentraman hidup. Sebaliknya, kebaikan yang bersifat spesifik artinya, baik bagi orang lain, belum tentu baik untuk diri kita sendiri. Atau, baik untuk diri kita belum tentu baik untuk orang lain. Kebaikan spesifik meliputi pula dimensi waktu, misalnya tidak baik untuk saat ini, tetapi baik untuk masa yang akan datang. Memang sulit sekali untuk memastikan semua itu. Tetapi paling tidak dalam berdoa, kemungkinan-kemungkinan yang bersifat positif tersebut perlu kita sadari dan terapkan dalam benak. Kita butuh kearifan sikap, kecermatan batin, kesabaran, dan ketabahan dalam berdoa. Jika tidak kita sadari kemungkinan-kemungkinan itu, pada gilirannya akan memunculkan karakter buruk dalam berdoa, yakni; sok tahu. Misalnya berdoa mohon berjodoh dengan si A, mohon diberi rejeki banyak, berdoa supaya rumah yang ditaksirnya dapat jatuh ke tangannya.  Jujur saja, kita belum tentu benar dalam memilih doa dan berharap-harap akan sesuatu. Kebaikan spesifik yang kita harapkan belum tentu menjadi berkah buat kita. Maka kehendak Tuhan untuk melindungi dan menyelamatkan kita, justru dengan cara tidak mengabulkan doa kita. Akan tetapi, kita sering tidak mengerti bahasa Tuhan, lantas berburuk sangka, dan tergesa menyimpulkan bahwa doaku tidak dikabulkan Tuhan.

Tidak gampang memahami apa “kehendak” Tuhan. Diperlukan kearifan sikap dan ketajaman batin untuk memahaminya. Jangan pesimis dulu, sebab siapapun yang mau mengasah ketajaman batin, ia akan memahami apa dan bagaimana “bahasa” Tuhan. Dalam khasanah spiritual Jawa disebut “bisa nggayuh kawicaksanane Gusti”.

 

HAKEKAT DIBALIK KEKUATAN DOA

Agar doa menjadi mustajab (tijab/makbul/kuat) dapat kita lakukan suatu kiat tertentu. Penting untuk memahami bahwa doa sesungguhnya bukan saja sekedar permohonan (verbal). Lebih dari itu, doa adalah usaha yang nyatanetepi rumus/kodrat/hukum Tuhan sebagaimana tanda-tandanya tampak pula pada gejala kosmos. Permohonan kepada Tuhan dapat ditempuh dengan lisan. Tetapi PALING PENTING adalah doa butuh penggabungan antara dimensi batiniah dan lahiriah (laten dan manifesto) metafisik dan fisik. Doa akan menjadi mustajab dan kuat bilamana doa kita berada pada aras hukum atau kodrat Tuhan;

 

  1. Dalam berdoa seyogyanya menggabungkan 4 unsur dalam diri kita; meliputi; hati, pikiran, ucapan, tindakan. Dikatakan bahwa Tuhan berjanji akan mengabulkan setiap doa makhlukNya? tetapi mengapa orang sering merasa ada saja doa yang tidak terkabul ?  Kita tidak perlu berprasangka buruk kepada Tuhan. Bila terjadi kegagalan dalam mewujudkan harapan, berarti ada yang salah dengan diri kita sendiri. Misalnya kita berdoa mohon kesehatan. Hati kita berniat agar jasmani-rohani selalu sehat. Doa juga diikrarkan terucap melalui lisan kita. Pikiran kita juga sudah memikirkan bagaimana caranya hidup yang sehat.Tetapi tindakan kita tidak sinkron, justru makan jerohan, makanan berkolesterol, dan makan secara berlebihan. Hal ini merupakan contoh doa yang tidak kompak dan tidak konsisten. Doa yang kuat dan mustajab harus konsisten dan kompak melibatkan empat unsur di atas. Yakni antara hati (niat), ucapan (statment), pikiran (planning), dan tindakan (action) jangan sampai terjadi kontradiktori. Sebab kekuatan doa yang paling ideal adalah doa yang diikuti dengan PERBUATAN (usaha) secara konkrit.
  2. Untuk hasil akhir, pasrahkan semuanya kepada “kehendak”  Tuhan, tetapi ingat usaha mewujudkan doa merupakan tugas manusia. Berdoa harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh, bahwa manusia bertugas mengoptimalkan prosedur dan usaha, soal hasil atau targetnya sesuai harapan atau tidak, biarkan itu menjadi kebijaksanaan dan kewenangan Tuhan. Dengan kata lain, tugas kita adalah berusaha maksimal, keputusan terakhir tetap ada di tangan Tuhan. Saat ini orang sering keliru mengkonsep doa. Asal sudah berdoa, lalu semuanya dipasrahkan kepada Tuhan. Bahkan cenderung berdoa hanya sebatas lisan saja. Selanjutnya doa dan harapan secara mutlak dipasrahkan pada Tuhan. Hal ini merupakan kesalahan besar dalam memahami doa karena terjebak oleh sikap fatalistis. Sikap fatalis menyebabkan kemalasan, perilaku tidak masuk akal dan mudah putus asa. Ujung-ujungnya Tuhan akan dikambinghitamkan, dengan menganggap bahwa kegagalan doanya memang sudah menjadi NASIB yang digariskan Tuhan. Lebih salah kaprah, bilamana dengan gegabah menganggap kegagalannya sebagai bentuk cobaan dari Tuhan (bagi orang yang beriman). Sebab kepasrahanitu artinya pasrah akan penentuan kualitas dan kuantitas hasil akhir. Yang namanya ikhtiar atau usaha tetap menjadi tugas dantanggungjawab manusia.
  3. Berdoa jangan menuruti harapan dan keinginan diri sendiri, sebaliknya berdoa  itu pada dasarnya menetapkan perilaku dan perbuatan kita ke dalam rumus (kodrat) Tuhan. Kesulitannya adalah mengetahui apakah doa atau harapan kita itu baik atau tidak untuk kita. Misalnya walaupun kita menganggap doa yang kita pintakan adalah baik. Namun kenyataannya kita juga tidak tahu persis, apakah kelak permintaan kita jika terlaksana akan membawa kebaikan atau sebaliknya membuat kita celaka.
  4. Berdoa secara spesifik dan detil dapat mengandung resiko. Misalnya doa agar supaya tender proyek jatuh ke tangan kita,  atau berdoa agar kita terpilih menjadi Bupati. Padahal jika kita bener-bener menjadi Bupati tahun ini, di dalam struktur pemerintahan terdapat orang-orang berbahaya yang akan “menjebak” kita melakukan korupsi. Apa jadinya jika permohonan kita terwujud. Maka dalam berdoa sebaiknya menurut kehendak Tuhan, atau dalam terminologi Jawa “berdoa sesuai kodrat alam” atau hukum alamiah. Caranya, di dalam doa hanya memohon yang terbaik untuk diri kita. Sebagai contoh;  ya Tuhan, andai saja proyek itu memberi kebaikan kepada diriku, keluargaku, dan orang-orang disekitarku, maka perkenankan proyek itu kepadaku, namun apabila tidak membawa berkah untuk ku, jauhkanlah. Dengan berdoa seperti itu, kita serahkan jalan cerita kehidupan ini kepada Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Bijaksana.
  5. Doa yang ideal dan etis adalah doa yang tidak menyetir/mendikte Tuhan, doa yang tidak menuruti kemauan diri sendiri, doa yang pasrah kepada Sang Maha Pengatur. Niscaya Tuhan akan meletakkan diri kita pada rumus dan kodrat yang terbaik…untuk masing-masing orang ! Sayangnya, kita sering lupa bahwa doa kita adalah doa sok tahu, pasti baik buat kita, dan doa yang telah menyetir atau mendikte kehendak Tuhan. Dengan pola berdoa seperti ini, doa hanya akan menjadi nafsu belaka, yakni nuruti rahsaning karep.

 

DOA MERUPAKAN PROYEKSI PERBUATAN KITA,

AMAL KEBAIKAN KITA PADA SESAMA MENJADI DOA

TAK TERUCAP YANG MUSTAJAB.

 

Kalimat sederhana ini merupakan kata kunci memahami misteri kekuatan doa;  doa adalah seumpama cermin !! Doa kita akan terkabul atau tidak tergantung dari amal kebaikan yang pernah kita lakukan terhadap sesama. Dengan kata lain terkabul atau gagalnya doa-doa kita merupakan cerminan akan amal kebaikan yang pernah kita lakukan pada orang lain. Jika kita secara sadar atau tidak sering mencelakai orang lain maka doa mohon keselamatan akan sia-sia. Sebaliknya, orang yang selalu menolong dan membantu sesama, kebaikannya sudah menjadi “doa” sepanjang waktu, hidupnya selalu mendapat kemudahan dan mendapat keselamatan. Kita gemar dan ikhlas mendermakan harta kita untuk membantu orang-orang yang memang tepat untuk dibantu. Selanjutnya cermati apa yang akan terjadi pada diri kita, rejeki seperti tidak ada habisnya! Semakin banyak beramal, akan semakin banyak pula rejeki kita. Bahkan sebelum kita mengucap doa, Tuhan sudah memenuhi apa-apa yang kita harapkan. Itulah pertanda, bahwa perbuatan dan amal kebaikan kita pada sesama, akan menjadi doa yang tak terucap, tetapi sungguh yang mustajab.  Ibarat sakti tanpa kesaktian. Kita berbuat baik pada orang lain, sesungguhnya perbuatan itu seperti doa untuk kita sendiri.

Dalam tradisi spiritual Jawa terdapat suatu rumus misalnya :

  1. Siapa gemar membantu dan menolong orang lain, maka ia akan  selalu mendapatkan kemudahan.
  2. Siapa yang memiliki sikap welas asih pada sesama, maka ia akan disayang sesama pula.
  3. Siapa suka mencelakai sesama, maka hidupnya akan celaka.
  4. Siapa suka meremehkan sesama maka ia akan diremehkan banyak orang.
  5. Siapa gemar mencaci dan mengolok orang lain, maka ia akan menjadi orang hina.
  6. Siapa yang gemar menyalahkan orang lain, sesungguhnya ialah orang lemah.
  7. Siapa menanam “pohon” kebaikan maka ia akan menuai buah kebaikan itu.

Semua itu merupakan contoh kecil, bahwa perbuatan yang kita lakukan merupakan doa untuk kita sendiri. Doa ibarat cermin, yang akan menampakkan gambaran asli atas apa yang kita lakukan. Sering kita saksikan orang-orang yang memiliki kekuatan dalam berdoa,  dan kekuatan itu terletak pada konsistensi dalam perbuatannya. Selain itu, kekuatan doa ada pada ketulusan kita sendiri. Sekali lagi ketulusan ini berkaitan erat dengan sikap netral dalam doa, artinya kita tidak menyetir atau mendikte Tuhan.

 

Berikut ini merupakan “rumus” agar supaya kita lebih cermat dalam mengevaluasi diri kita sendiri;

  1. Jangan pernah berharap-harap kita menerima (anugrah), apabila kita enggan dalam memberi.
  2. Jangan pernah berharap-harap akan selamat, apabila kita sering membuat orang lain celaka.
  3. Jangan pernah berharap-harap mendapat limpahan harta, apabila kita kurang peduli terhadap sesama.
  4. Jangan pernah berharap-harap mendapat keuntungan besar, apabila kita selalu menghitung untung rugi dalam bersedekah.
  5. Jangan pernah berharap-harap meraih hidup mulia, apabila kita gemar menghina sesama.

Lima “rumus” di atas hanya sebagian contoh. Silahkan para pembaca yang budiman mengidentifikasi sendiri rumus-rumus selanjutnya, yang tentunya tiada terbatas jumlahnya.

 

Resume

Doa akan memiliki kekuatan (mustajab), asalkan kita mampu memadukan empat unsur di atas yakni : hati, ucapan, pikiran, dan perbuatan nyata. Dengan syarat perbuatan kita tidak bertentangan dengan isi doa. Di lain sisi amal kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan menjadi doa mustajab sepanjang waktu, hanya jika, kita melakukannya dengan ketulusan. Setingkat dengan ketulusan kita di pagi hari saat “membuang ampas makanan” tak berarti.

 

 

JIKA INGIN DIBERI,

MEMBERILAH TERLEBIH DAHULU !

 

Dahulu saya pernah mengalami kebanyakan asa, lalu giat sekali berdoa bermacam-macam hal. Siang-malam berdoa isinya permohonan apa saja yang diinginkan. Waktu berdoa pun hanya pada  waktu tertentu yang dianggap tijab. Tetapi  saya masih merasakan kehampaan dalam hidup. Bahkan dirasakan realitas yang terjadi justru semakin menjauh dari harapan seperti yang terucap dalam setiap doa. Lama-kelamaan muncul kesadaran ada yang tidak beres dalam prinsip pemahaman saya ini.

Kesadaran diri muncul lagi manakala merasa sangat kurang dalam melakukan amal kebaikan terhadap sesama. Kami berfikir, betapa buruknya tabiat ini, yang selalu banyak meminta-minta, tetapi sedikit “memberi”. Coba mengingat apa saja kebaikan yang pernah kami lakukan pada sesama, Parah…sepertinya kok nggak ada… atau kami yang sudah lupa. Namun yang teringat justru keburukan dan kesalahan yang pernah kami lakukan pada teman, keluarga, orang tua, dan pada orang lain. Kami menjadi resah sendiri, merasa dalam kehidupan ini kami tidak bermanfaat samasekali untuk orang banyak, sementara kami nggak tahu malu dengan selalu meminta-minta terus Hyang Widhi. Egois, maunya enaknya sendiri. Berharap-harap memperoleh pemenuhan hak-hak sebagai manusia ciptaan Tuhan, tetapi enggan memenuhi kewajiban untuk beramal baik pada sesama.

Hingga pada suatu saat kami mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berarti, paling tidak menurut diri kami sendiri. Sejak itu, terjadilah perubahan paradigma dalam memandang dan memahami rumus Tuhan. Doa (harapan) adalah perbuatan konkrit. Sejak saat itu, dengan sekuat tenaga setiap saat ada kesempatan kami melakukan sesuatu yang kira-kira ada manfaat untuk orang lain. Dimulai dari hal-hal sepele, sampai yang tidak sepele. Dasar pemikiran kami adalah kesadaran sebagai makhluk Tuhan yang telah menerima sekian puluh atau ratus anugrah dalam setiap detiknya. Namun kenyataannya manusia tiada rasa “malu” setiap saat selalu meminta pada Tuhan. Lantas kapan bersukurnya ? Jika berdoa memohon sesuatu, kami lebih banyak melakukannya untuk mendoakan teman, kerabat, keluarga. Sedangkan untuk diri sendiri, tiada yang pantas dilakukan selain lebih banyak mensyukuri nikmat dan anugrah Tuhan.

Banyak mengucapkan syukur di bibir saja tidak cukup. Kami harus lebih pandai mensyukuri nikmat dan anugrah Tuhan. Rasa bersyukur serta doa-doa melebur dan mewujud ke dalam satu perbuatan. Rasa sukur termanifestasikan kedalam perbuatan yang bermanfaat untuk banyak orang. Demikian pula cara berdoa tidak sekedar terucap melalui mulut, namun lebih penting adalah mewujud dalam perbuatan nyata.

Cara kami berdoa seperti itu mungkin terasa “aneh dan nyleneh” bagi beliau-beliau yang telah berilmu tinggi dan menguasai ajaran agama secara teksbook. Akan tetapi prinsip dan cara-cara itulah yang kami pribadi rasa paling pas. Maklum saya ini orang bodoh yang masih belajar ke sana-kemari. Tetapi paling tidak, kami secara pribadi telah membuktikan manfaat dan hasilnya. Mohon maaf apabila banyak kata dan ucapan yang kurang berkenan, saya menyadari sebagai orang yang masih bodoh banyak kekurangan, tetapi memaksa diri untuk menulis.

Doa Mustajab

Syarat doa mustajab

وَهُوَ الَّذِى يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِۦ وَيَعْفُوا عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,
[QS. Asy-Syura: Ayat 25]

وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَيَزِيدُهُمْ مِّنْ فَضْلِهِۦ ۚ وَالْكٰفِرُونَ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ
dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Orang-orang yang ingkar akan mendapat azab yang sangat keras.
[QS. Asy-Syura: Ayat 26]
لَّيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْءَاخِرِ وَالْمَلٰٓئِكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيِّۦنَ وَءَاتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهِۦ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِى الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلٰوةَ وَءَاتَى الزَّكٰوةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عٰهَدُوا ۖ وَالصّٰبِرِينَ فِى الْبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولٰٓئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
[QS. Al-Baqarah: Ayat 177]
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِى وَلْيُؤْمِنُوا بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.
[QS. Al-Baqarah: Ayat 186]
إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.
[QS. Al-An’am: Ayat 79]

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْىِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتّٰى يَبْلُغَ الْهَدْىُ مَحِلَّهُ ۥ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيضًا أَوْ بِهِۦٓ أَذًى مِّنْ رَّأْسِهِۦ فَفِدْيَةٌ مِّنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَآ أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْىِ ۚ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ أَيَّامٍ فِى الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُ ۥ حَاضِرِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوٓا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Tetapi jika kamu terkepung (oleh musuh), maka (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia wajib berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, maka barang siapa mengerjakan umrah sebelum haji, dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak mendapatkannya, maka dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (musim) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itu seluruhnya sepuluh (hari). Demikian itu, bagi orang yang bukan penduduk Masjidilharam. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.
[QS. Al-Baqarah: Ayat 196]

خُذُوهُ فَغُلُّوهُ
(Allah berfirman), “Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.”
[QS. Al-Haqqah: Ayat 30]

ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ
Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.
[QS. Al-Haqqah: Ayat 31]

ثُمَّ فِى سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ
Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.
[QS. Al-Haqqah: Ayat 32]

إِنَّهُ ۥ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ
Sesungguhnya dialah orang yang tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar.
[QS. Al-Haqqah: Ayat 33]

وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.
[QS. Al-Haqqah: Ayat 34]
فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هٰهُنَا حَمِيمٌ
Maka pada hari ini di sini tidak ada seorang teman pun baginya.
[QS. Al-Haqqah: Ayat 35]

وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ
Dan tidak ada makanan (baginya) kecuali dari darah dan nanah.
[QS. Al-Haqqah: Ayat 36]
لَّا يَأْكُلُهُ ۥ ٓ إِلَّا الْخٰطِئُونَ
Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.
[QS. Al-Haqqah: Ayat 37]
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
[QS. Al-A’raf: Ayat 55]
وَلَا تُفْسِدُوا فِى الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلٰحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.
[QS. Al-A’raf: Ayat 56]

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْءَاصَالِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِينَ
Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.
[QS. Al-A’raf: Ayat 205]

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُولٍ وَلَا نَبِىٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنّٰىٓ أَلْقَى الشَّيْطٰنُ فِىٓ أُمْنِيَّتِهِۦ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ ءَايٰتِهِۦ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi sebelum engkau (Muhammad), melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu. Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu. dan Allah akan menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana,
[QS. Al-Hajj: Ayat 52]

Yang diminta dalam doa

وَمَا تَنْقِمُ مِنَّآ إِلَّآ أَنْ ءَامَنَّا بِئَايٰتِ رَبِّنَا لَمَّا جَآءَتْنَا ۚ رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
dan engkau tidak melakukan balas dendam kepada kami, melainkan karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.” (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu).”
[QS. Al-A’raf: Ayat 126]

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى
Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku,
[QS. Ta Ha: Ayat 25]
وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى
dan mudahkanlah untukku urusanku,
[QS. Ta Ha: Ayat 26]
وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِى
dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,
[QS. Ta Ha: Ayat 27]

يَفْقَهُوا قَوْلِى
agar mereka mengerti perkataanku,
[QS. Ta Ha: Ayat 28]

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۥ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِى وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِى عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan dari mana pun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu) kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu dan agar kamu mendapat petunjuk.
[QS. Al-Baqarah: Ayat 150]
فَاذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِى وَلَا تَكْفُرُونِ
Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.
[QS. Al-Baqarah: Ayat 152]
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصّٰبِرِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.
[QS. Al-Baqarah: Ayat 153]
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
[QS. Al-Fatihah: Ayat 5]

اهْدِنَا الصِّرٰطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus,
[QS. Al-Fatihah: Ayat 6]

وَلَوْلَآ إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَآءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِنْ تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا
Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan “Masya Allah, la quwwata illa billah” (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.
[QS. Al-Kahf: Ayat 39]

Muhammad Tarmin Sarengat Al Lajeri