Rahasia Kekuatan Doa

wpid-img_20151006_153554.jpg

 

Kami tidak akan membahas mengenai etika berdoa, karena dalam setiap agama tentunya sudah diajarkan mengenai tata cara dan etika berdoa, kami yakin para pembaca sudah lebih memahaminya.  Tujuan kami menulis jauh dari maksudmenggurui, semata hanya ingin berbagi pengalaman. Dengan kata lain, apa yang kami sampaikan juga pernah kami lakukan dan rasakan. Tujuan kami menulis adalah untuk berbagi kepada sesama, barangkali dapat memberi sedikit manfaat untuk para pembaca yang budiman. Dengan menggunakan akal budi dan hati nurani (nur/cahaya dalam hati) yang penuh keterbatasan kami berusaha mencermati, mengevaluasi dan kemudian menarik benang merah, berupa nilai-nilai  (hikmah) dari setiap kejadian dan pengalaman dalam doa-doa kami.

 

Berkaitan dengan Waktu dan tempat yang dianggap mustajab untuk berdoa, kiranya setiap orang memiliki kepercayaan dan keyakinan yang berbeda-beda. Kedua faktor itu berpengaruh pula terhadap kemantapan hati dan tekad dalam mengajukan permemohonan kepada Tuhan YME. Namun bagi saya pribadi semua tempat dan waktu adalah baik untuk melakukan doa. Pun banyak juga orang meyakini bahw doanya akan dikabulkan Tuhan, walaupun doanya bersifat verbal atau sebatas ucapan lisan saja. Hal ini sebagai konsekuensi, bahwa dalam berdoa hendaknya kita selalu berfikir positif (prasangka baik) pada Tuhan. Kami tetap menghargai pendapat demikian.

 

SULITNYA MENILAI KESUKSESAN DOA

 

Banyak orang merasa doanya tidak/belum terkabulkan. Tetapi banyak pula yang merasa bahwa Tuhan telah mengabulkan doa-doa tetapi dalam kadar yang masih minim, masih jauh dari target yang diharapkan. Itu hanya kata perasaan, belum tentu akurat melihat kenyataan sesunggunya. Memang sulit sekali mengukur prosentase antara doa yang dikabulkan dengan yang tidak dikabulkan. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor berikut ;

  1. Kita sering tidak mencermati, bahkan lupa, bahwa anugrah yang kita rasakan hari ini, minggu ini, bulan ini, adalah merupakan “jawaban” Tuhan atas doa yang kita panjatkan sepuluh atau dua puluh Tahun yang lalu. Apabila sempat terlintas fikiran atau kesadaran seperti itu, pun kita masih meragukan kebenarannya. Karena keragu-raguan yang ada di hati kita, akan memunculah asumsi bahwa hanya sedikit doa ku yang dikabulkan Tuhan.
  2. Doa yang kita pinta pada Tuhan Yang Mahatunggal tentu menurut ukuran kita adalah baik dan ideal, akan tetapi apa yang baik dan ideal menurut kita, belum tentu baik dalam perspektif Tuhan. Tanpa kita sadari bisa saja Tuhan mengganti permohonan dan harapan kita dalam bentuk yang lainnya, tentu saja yang paling baik untuk kita. Tuhan Sang Pengelola Waktu, mungkin akan mengabulkan doa kita pada waktu yang tepat pula. Ketidaktahuan dan ketidaksadaran kita akan bahasa dan kehendak Tuhan (rumus/kodrat alam), membuat kita menyimpulkan bahwa doa ku tidak dikabulkan Tuhan.
  3. Prinsip kebaikan meliputi dua sifat atau dimensi, universal dan spesifik. Kebaikan universal, akan berlaku untuk semua orang atau makhluk. Kebaikan misalnya keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, dan ketentraman hidup. Sebaliknya, kebaikan yang bersifat spesifik artinya, baik bagi orang lain, belum tentu baik untuk diri kita sendiri. Atau, baik untuk diri kita belum tentu baik untuk orang lain. Kebaikan spesifik meliputi pula dimensi waktu, misalnya tidak baik untuk saat ini, tetapi baik untuk masa yang akan datang. Memang sulit sekali untuk memastikan semua itu. Tetapi paling tidak dalam berdoa, kemungkinan-kemungkinan yang bersifat positif tersebut perlu kita sadari dan terapkan dalam benak. Kita butuh kearifan sikap, kecermatan batin, kesabaran, dan ketabahan dalam berdoa. Jika tidak kita sadari kemungkinan-kemungkinan itu, pada gilirannya akan memunculkan karakter buruk dalam berdoa, yakni; sok tahu. Misalnya berdoa mohon berjodoh dengan si A, mohon diberi rejeki banyak, berdoa supaya rumah yang ditaksirnya dapat jatuh ke tangannya.  Jujur saja, kita belum tentu benar dalam memilih doa dan berharap-harap akan sesuatu. Kebaikan spesifik yang kita harapkan belum tentu menjadi berkah buat kita. Maka kehendak Tuhan untuk melindungi dan menyelamatkan kita, justru dengan cara tidak mengabulkan doa kita. Akan tetapi, kita sering tidak mengerti bahasa Tuhan, lantas berburuk sangka, dan tergesa menyimpulkan bahwa doaku tidak dikabulkan Tuhan.

Tidak gampang memahami apa “kehendak” Tuhan. Diperlukan kearifan sikap dan ketajaman batin untuk memahaminya. Jangan pesimis dulu, sebab siapapun yang mau mengasah ketajaman batin, ia akan memahami apa dan bagaimana “bahasa” Tuhan. Dalam khasanah spiritual Jawa disebut “bisa nggayuh kawicaksanane Gusti”.

 

HAKEKAT DIBALIK KEKUATAN DOA

Agar doa menjadi mustajab (tijab/makbul/kuat) dapat kita lakukan suatu kiat tertentu. Penting untuk memahami bahwa doa sesungguhnya bukan saja sekedar permohonan (verbal). Lebih dari itu, doa adalah usaha yang nyatanetepi rumus/kodrat/hukum Tuhan sebagaimana tanda-tandanya tampak pula pada gejala kosmos. Permohonan kepada Tuhan dapat ditempuh dengan lisan. Tetapi PALING PENTING adalah doa butuh penggabungan antara dimensi batiniah dan lahiriah (laten dan manifesto) metafisik dan fisik. Doa akan menjadi mustajab dan kuat bilamana doa kita berada pada aras hukum atau kodrat Tuhan;

 

  1. Dalam berdoa seyogyanya menggabungkan 4 unsur dalam diri kita; meliputi; hati, pikiran, ucapan, tindakan. Dikatakan bahwa Tuhan berjanji akan mengabulkan setiap doa makhlukNya? tetapi mengapa orang sering merasa ada saja doa yang tidak terkabul ?  Kita tidak perlu berprasangka buruk kepada Tuhan. Bila terjadi kegagalan dalam mewujudkan harapan, berarti ada yang salah dengan diri kita sendiri. Misalnya kita berdoa mohon kesehatan. Hati kita berniat agar jasmani-rohani selalu sehat. Doa juga diikrarkan terucap melalui lisan kita. Pikiran kita juga sudah memikirkan bagaimana caranya hidup yang sehat.Tetapi tindakan kita tidak sinkron, justru makan jerohan, makanan berkolesterol, dan makan secara berlebihan. Hal ini merupakan contoh doa yang tidak kompak dan tidak konsisten. Doa yang kuat dan mustajab harus konsisten dan kompak melibatkan empat unsur di atas. Yakni antara hati (niat), ucapan (statment), pikiran (planning), dan tindakan (action) jangan sampai terjadi kontradiktori. Sebab kekuatan doa yang paling ideal adalah doa yang diikuti dengan PERBUATAN (usaha) secara konkrit.
  2. Untuk hasil akhir, pasrahkan semuanya kepada “kehendak”  Tuhan, tetapi ingat usaha mewujudkan doa merupakan tugas manusia. Berdoa harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh, bahwa manusia bertugas mengoptimalkan prosedur dan usaha, soal hasil atau targetnya sesuai harapan atau tidak, biarkan itu menjadi kebijaksanaan dan kewenangan Tuhan. Dengan kata lain, tugas kita adalah berusaha maksimal, keputusan terakhir tetap ada di tangan Tuhan. Saat ini orang sering keliru mengkonsep doa. Asal sudah berdoa, lalu semuanya dipasrahkan kepada Tuhan. Bahkan cenderung berdoa hanya sebatas lisan saja. Selanjutnya doa dan harapan secara mutlak dipasrahkan pada Tuhan. Hal ini merupakan kesalahan besar dalam memahami doa karena terjebak oleh sikap fatalistis. Sikap fatalis menyebabkan kemalasan, perilaku tidak masuk akal dan mudah putus asa. Ujung-ujungnya Tuhan akan dikambinghitamkan, dengan menganggap bahwa kegagalan doanya memang sudah menjadi NASIB yang digariskan Tuhan. Lebih salah kaprah, bilamana dengan gegabah menganggap kegagalannya sebagai bentuk cobaan dari Tuhan (bagi orang yang beriman). Sebab kepasrahanitu artinya pasrah akan penentuan kualitas dan kuantitas hasil akhir. Yang namanya ikhtiar atau usaha tetap menjadi tugas dantanggungjawab manusia.
  3. Berdoa jangan menuruti harapan dan keinginan diri sendiri, sebaliknya berdoa  itu pada dasarnya menetapkan perilaku dan perbuatan kita ke dalam rumus (kodrat) Tuhan. Kesulitannya adalah mengetahui apakah doa atau harapan kita itu baik atau tidak untuk kita. Misalnya walaupun kita menganggap doa yang kita pintakan adalah baik. Namun kenyataannya kita juga tidak tahu persis, apakah kelak permintaan kita jika terlaksana akan membawa kebaikan atau sebaliknya membuat kita celaka.
  4. Berdoa secara spesifik dan detil dapat mengandung resiko. Misalnya doa agar supaya tender proyek jatuh ke tangan kita,  atau berdoa agar kita terpilih menjadi Bupati. Padahal jika kita bener-bener menjadi Bupati tahun ini, di dalam struktur pemerintahan terdapat orang-orang berbahaya yang akan “menjebak” kita melakukan korupsi. Apa jadinya jika permohonan kita terwujud. Maka dalam berdoa sebaiknya menurut kehendak Tuhan, atau dalam terminologi Jawa “berdoa sesuai kodrat alam” atau hukum alamiah. Caranya, di dalam doa hanya memohon yang terbaik untuk diri kita. Sebagai contoh;  ya Tuhan, andai saja proyek itu memberi kebaikan kepada diriku, keluargaku, dan orang-orang disekitarku, maka perkenankan proyek itu kepadaku, namun apabila tidak membawa berkah untuk ku, jauhkanlah. Dengan berdoa seperti itu, kita serahkan jalan cerita kehidupan ini kepada Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Bijaksana.
  5. Doa yang ideal dan etis adalah doa yang tidak menyetir/mendikte Tuhan, doa yang tidak menuruti kemauan diri sendiri, doa yang pasrah kepada Sang Maha Pengatur. Niscaya Tuhan akan meletakkan diri kita pada rumus dan kodrat yang terbaik…untuk masing-masing orang ! Sayangnya, kita sering lupa bahwa doa kita adalah doa sok tahu, pasti baik buat kita, dan doa yang telah menyetir atau mendikte kehendak Tuhan. Dengan pola berdoa seperti ini, doa hanya akan menjadi nafsu belaka, yakni nuruti rahsaning karep.

 

DOA MERUPAKAN PROYEKSI PERBUATAN KITA,

AMAL KEBAIKAN KITA PADA SESAMA MENJADI DOA

TAK TERUCAP YANG MUSTAJAB.

 

Kalimat sederhana ini merupakan kata kunci memahami misteri kekuatan doa;  doa adalah seumpama cermin !! Doa kita akan terkabul atau tidak tergantung dari amal kebaikan yang pernah kita lakukan terhadap sesama. Dengan kata lain terkabul atau gagalnya doa-doa kita merupakan cerminan akan amal kebaikan yang pernah kita lakukan pada orang lain. Jika kita secara sadar atau tidak sering mencelakai orang lain maka doa mohon keselamatan akan sia-sia. Sebaliknya, orang yang selalu menolong dan membantu sesama, kebaikannya sudah menjadi “doa” sepanjang waktu, hidupnya selalu mendapat kemudahan dan mendapat keselamatan. Kita gemar dan ikhlas mendermakan harta kita untuk membantu orang-orang yang memang tepat untuk dibantu. Selanjutnya cermati apa yang akan terjadi pada diri kita, rejeki seperti tidak ada habisnya! Semakin banyak beramal, akan semakin banyak pula rejeki kita. Bahkan sebelum kita mengucap doa, Tuhan sudah memenuhi apa-apa yang kita harapkan. Itulah pertanda, bahwa perbuatan dan amal kebaikan kita pada sesama, akan menjadi doa yang tak terucap, tetapi sungguh yang mustajab.  Ibarat sakti tanpa kesaktian. Kita berbuat baik pada orang lain, sesungguhnya perbuatan itu seperti doa untuk kita sendiri.

Dalam tradisi spiritual Jawa terdapat suatu rumus misalnya :

  1. Siapa gemar membantu dan menolong orang lain, maka ia akan  selalu mendapatkan kemudahan.
  2. Siapa yang memiliki sikap welas asih pada sesama, maka ia akan disayang sesama pula.
  3. Siapa suka mencelakai sesama, maka hidupnya akan celaka.
  4. Siapa suka meremehkan sesama maka ia akan diremehkan banyak orang.
  5. Siapa gemar mencaci dan mengolok orang lain, maka ia akan menjadi orang hina.
  6. Siapa yang gemar menyalahkan orang lain, sesungguhnya ialah orang lemah.
  7. Siapa menanam “pohon” kebaikan maka ia akan menuai buah kebaikan itu.

Semua itu merupakan contoh kecil, bahwa perbuatan yang kita lakukan merupakan doa untuk kita sendiri. Doa ibarat cermin, yang akan menampakkan gambaran asli atas apa yang kita lakukan. Sering kita saksikan orang-orang yang memiliki kekuatan dalam berdoa,  dan kekuatan itu terletak pada konsistensi dalam perbuatannya. Selain itu, kekuatan doa ada pada ketulusan kita sendiri. Sekali lagi ketulusan ini berkaitan erat dengan sikap netral dalam doa, artinya kita tidak menyetir atau mendikte Tuhan.

 

Berikut ini merupakan “rumus” agar supaya kita lebih cermat dalam mengevaluasi diri kita sendiri;

  1. Jangan pernah berharap-harap kita menerima (anugrah), apabila kita enggan dalam memberi.
  2. Jangan pernah berharap-harap akan selamat, apabila kita sering membuat orang lain celaka.
  3. Jangan pernah berharap-harap mendapat limpahan harta, apabila kita kurang peduli terhadap sesama.
  4. Jangan pernah berharap-harap mendapat keuntungan besar, apabila kita selalu menghitung untung rugi dalam bersedekah.
  5. Jangan pernah berharap-harap meraih hidup mulia, apabila kita gemar menghina sesama.

Lima “rumus” di atas hanya sebagian contoh. Silahkan para pembaca yang budiman mengidentifikasi sendiri rumus-rumus selanjutnya, yang tentunya tiada terbatas jumlahnya.

 

Resume

Doa akan memiliki kekuatan (mustajab), asalkan kita mampu memadukan empat unsur di atas yakni : hati, ucapan, pikiran, dan perbuatan nyata. Dengan syarat perbuatan kita tidak bertentangan dengan isi doa. Di lain sisi amal kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan menjadi doa mustajab sepanjang waktu, hanya jika, kita melakukannya dengan ketulusan. Setingkat dengan ketulusan kita di pagi hari saat “membuang ampas makanan” tak berarti.

 

 

JIKA INGIN DIBERI,

MEMBERILAH TERLEBIH DAHULU !

 

Dahulu saya pernah mengalami kebanyakan asa, lalu giat sekali berdoa bermacam-macam hal. Siang-malam berdoa isinya permohonan apa saja yang diinginkan. Waktu berdoa pun hanya pada  waktu tertentu yang dianggap tijab. Tetapi  saya masih merasakan kehampaan dalam hidup. Bahkan dirasakan realitas yang terjadi justru semakin menjauh dari harapan seperti yang terucap dalam setiap doa. Lama-kelamaan muncul kesadaran ada yang tidak beres dalam prinsip pemahaman saya ini.

Kesadaran diri muncul lagi manakala merasa sangat kurang dalam melakukan amal kebaikan terhadap sesama. Kami berfikir, betapa buruknya tabiat ini, yang selalu banyak meminta-minta, tetapi sedikit “memberi”. Coba mengingat apa saja kebaikan yang pernah kami lakukan pada sesama, Parah…sepertinya kok nggak ada… atau kami yang sudah lupa. Namun yang teringat justru keburukan dan kesalahan yang pernah kami lakukan pada teman, keluarga, orang tua, dan pada orang lain. Kami menjadi resah sendiri, merasa dalam kehidupan ini kami tidak bermanfaat samasekali untuk orang banyak, sementara kami nggak tahu malu dengan selalu meminta-minta terus Hyang Widhi. Egois, maunya enaknya sendiri. Berharap-harap memperoleh pemenuhan hak-hak sebagai manusia ciptaan Tuhan, tetapi enggan memenuhi kewajiban untuk beramal baik pada sesama.

Hingga pada suatu saat kami mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berarti, paling tidak menurut diri kami sendiri. Sejak itu, terjadilah perubahan paradigma dalam memandang dan memahami rumus Tuhan. Doa (harapan) adalah perbuatan konkrit. Sejak saat itu, dengan sekuat tenaga setiap saat ada kesempatan kami melakukan sesuatu yang kira-kira ada manfaat untuk orang lain. Dimulai dari hal-hal sepele, sampai yang tidak sepele. Dasar pemikiran kami adalah kesadaran sebagai makhluk Tuhan yang telah menerima sekian puluh atau ratus anugrah dalam setiap detiknya. Namun kenyataannya manusia tiada rasa “malu” setiap saat selalu meminta pada Tuhan. Lantas kapan bersukurnya ? Jika berdoa memohon sesuatu, kami lebih banyak melakukannya untuk mendoakan teman, kerabat, keluarga. Sedangkan untuk diri sendiri, tiada yang pantas dilakukan selain lebih banyak mensyukuri nikmat dan anugrah Tuhan.

Banyak mengucapkan syukur di bibir saja tidak cukup. Kami harus lebih pandai mensyukuri nikmat dan anugrah Tuhan. Rasa bersyukur serta doa-doa melebur dan mewujud ke dalam satu perbuatan. Rasa sukur termanifestasikan kedalam perbuatan yang bermanfaat untuk banyak orang. Demikian pula cara berdoa tidak sekedar terucap melalui mulut, namun lebih penting adalah mewujud dalam perbuatan nyata.

Cara kami berdoa seperti itu mungkin terasa “aneh dan nyleneh” bagi beliau-beliau yang telah berilmu tinggi dan menguasai ajaran agama secara teksbook. Akan tetapi prinsip dan cara-cara itulah yang kami pribadi rasa paling pas. Maklum saya ini orang bodoh yang masih belajar ke sana-kemari. Tetapi paling tidak, kami secara pribadi telah membuktikan manfaat dan hasilnya. Mohon maaf apabila banyak kata dan ucapan yang kurang berkenan, saya menyadari sebagai orang yang masih bodoh banyak kekurangan, tetapi memaksa diri untuk menulis.

Iklan

Jauhilah 20 Dosa-dosa Besar Untuk Mendapat Keredhaan Allah.

Jauhilah 20 Dosa-dosa Besar Untuk Mendapat Keredhaan Allah.

Jauhilah 20 Dosa-dosa Besar Untuk Mendapat Keredhaan Allah.

 

by Abu Basyer on Thursday, October 21, 2010 at 11:24am

 

 

Sahabat yang dirahmati Allah,

Apabila kita lihat keadaan umat Islam hari ini kita merasakan amat sedih dan dukacita kerana perbuatan maksiat yang membawa kepada dosa berlaku merata tempat . Umat Islam sudah berani melakukan dosa-dosa besar  secara terang-terangan, mereka tidak takut lagi kemurkaan Allah s.w.t

 

Kemungkinan bala bencana yang berlaku ketika ini ada kaitannya dengan kerosakkan yang di lakukan oleh tangan-tangan manusia , seperti penyakit HIV, selsema babi, selsema burung, demam denggi berdarah, jerebu, cuaca panas , kemarau , ribut taufan dan lain-lain lagi.

 

Setiap hari kita baca berita di dada akhbar arus perdana menceritakan kisah-kisah gejala sosial dan jenayah yang di lakukan oleh umat Islam. Kes rogol , sumbang mahram , pembunuhan kejam, ragut ,penderaan fizikal , jenayah along , menjual dan menghisap dadah , rompakan , penculikan, membuang bayi hasil perzinan , pelacuran , perdagangan manusia dan lain-lain lagi. Ini tidak termasuk lagi kes-kes seperti rasuah , penyalagunaan kuasa , khalwat , bersekedudukan , sumpah palsu , minum arak , main judi , fitnah- menfitnah dan perzinaan.

 

Faktor penting yang menyebabkan kesemua keadaan ini berlaku kerana umat Islam telah meninggalkan ajaran Islam yang di bawa oleh Rasulullah s.a.w. Mereka terlupa bahawa kehidupan mereka di dunia ini hanya lah persingahan sementara untuk menuju kehidupan akhirat yang kekal abadi.

 

Mereka telah dikuasai oleh runtunan hawa nafsu amarah dan terpedaya dengan hasutan syaitan. Alangkan ruginya jika semasa hidup di dunia yang sementara ini diisi dengan dosa-dosa besar yang membawa kemurkaan Allah s.w.t. Jika ditakdirkan seseorang pelaku dosa besar ini mati sebelum bertaubat maka amat malang sekali perjalanan hidupnya selepas kematian kerana akan mengalami kesengsaraan yang  berpanjangan di alam barzakh, Padang Mahsyar, timbangan amal. dan siratul mustaqim akhir sekali dihumbankan ke dalamn Neraka Jahannam, nauzubillahiminzalik.

 

Di senaraikan 20 dosa-dosa besar yang wajib dijauhi supaya kita mendapat keredhaan Allah s.w.t di dunia dan akhirat.

 

Dosa-dosa besar tersebut adalah seperti berikut :

 

1. Syirik (Menyekutukan Allah s.w.t.)

 

Syirik adalah dosa besar yang paling utama sekali. Seseorang yang syrik kepada Allah s.w.t tidak akan diampunkan dosanya di hari akhirat nanti.

 

Tentang hal ini Allah s.w.t. berfirman maksudnya :”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki- Nya”.(Surah An Nisaa ayat 48).

 

Dan Allah s.w.t berfirman maksudnya :”Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Syurga”.(Surah Al Maaidah ayat 72)

 

Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud :“ Dosa yang paling besar ialah mensyrikkan Allah , derhaka pada ibu bapa dan membunuh orang”(Hadis riwayat Anas bin Malik)

 

2. Berputus asa dari mendapatkan rahmat Allah s.w.t.

 

Seseorang yang putus asa dan kecewa adalah manusia yang tidak redha dengan qadha’ dan qadar Allah s.w.t. Orang Mukmin menganggap segala bala dan musibah adalah ujian daripada Allah s.w.t.

 

Tentang hal ini Allah s.w.t.berfirman maksudnya :”Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.(Surah Yuusuf: 87).

 

3. Merasa aman dari ancaman Allah s.w.t.

 

Jiwa yang tidak rasa takut dan gementar dengan Neraka dan azab Allah s.w.t di hari akhirat nanti adalah jiwa yang sombong dan takbur. Dia akan menyesal dan mendapat kerugian nanti kerana di dunia meremehkan ancaman Allah s.w.t.

 

Tentang hal ini Allah s.w.t.berfirman maksudnya :”Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”(Surah Al A’raaf ayat 99)

 

4. Berbuat durhaka kepada kedua orang tua.

 

Anak yang derhaka kepada ibu bapanya tidak akan mendapat redha Allah  s.w.t.kerana keredhaan-Nya adalah bergantung kepada redha kedua ibu bapa. Balasan yang akan diterima di dunia lagi sebelum mendapat azab yang pedih di hari akhirat nanti.

 

Firman Allah s.a.w. bermaksud: “Tuhanmu telah memerintahkan, supaya kamu tidak menyembah selain Allah, dan hendaklah berbuat santun terhadap kedua orang tua. Jika salah seorang telah lanjut usianya, atau kedua-duanya telah tua, janganlah sekali-kali engkau berani berkata cis! terhadap mereka dan janganlah engkau suka menggertak mereka. Tetapi berkatalah dengan sopan santun dan lemah lembut.(Surah al-Israk, ayat 23).

 

Nabi s.a.w. bersabda yang maksudnya: “Tidak masuk Syurga orang suka mengungkit-ungkit pemberiannya, orang yang derhaka kepada kedua ibu bapanya dan orang yang gemar minum minuman keras” (Hadis Riwayat Imam Ahmad).

 

Sabda Nabi s.a.w kepada Sayyidina Ali k.w : “Wahai Ali ! Saya melihat tulisan pada pintu Syurga yang berbunyi “Syurga itu diharamkan bagi setiap orang yang bakhil (kedekut), orang yang derhaka kepada kedua orang tuanya, dan bagi orang yang suka mengadu domba (mengasut).”

 

5. Membunuh manusia tanpa hak.

 

Dosa membunuh manusia lain tanpa hak adalah dosa yang sangat besar, kedudukannya adalah selepas syirik kepada Allah s.w.t.

 

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud : “Dan barangsiapa yang membunuh searang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam , kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”

(Surah An- Nisaa’ ayat 93)

 

Ayat ini jelas menunjukkan bahawa membunuh dengan senghaja itu akan dikenakan empat macam hukuman: (i) Berkekalan di dalam neraka Jahannam. (ii) Kemurkaan Allah. (iii) Dilaknat atau dikutuk hidupnya (iv) Azab yang sangat pedih dan keras yang akan disediakan oleh Allah baginya di akhirat.

 

Di antara hadis-hadis Rasulullah s.a.w. yang mengancam tentang dosa dan hukum ke atas pembunuh ialah:Sabda Nabi s.a.w. maksudnya :  “Aku (Ubaidullah bin Abu Bakar) mendengar Anas bin Malik berkata: “Rasulullah s.a.w. telah menyebut dosa-dosa besar (atau Baginda ditanya mengenai dosa-dosa besar) “, jawab Baginda: “Menyekutukan Allah, membunuh manusia dan derhaka kepada kedua ibu bapa.” (Hadis riwayat Muslim)

 

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud :“ Orang yang mati terbunuh , akan datang di hari kiamat dengan mengantungkan kepalanya di salah satu tangannya , sambil memegang pembunuhnya dengan tangan yang lain , sedang darah terus mengalir. Apabila mereka berdua sudah ada di hadapan Allah, maka orang yang terbunuh itu berkata : Ya Allah, inilah orang yang telah membunuh aku. Maka Allah berkata kepada sipembunuh : Celakalah engkau, lalu di bawalah orang itu ke neraka.”

 

6. Menuduh wanita baik-baik berbuat zina.

 

Tentang hal ini Allah s.w.t. berfirman maksudnya :”Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar”.(Surah An Nuur ayat 23)

 

7. Memakan riba’.

 

Tentang hal ini Allah s.w.t  berfirman maksudnya :”Orang-orang yang makan (mengambil) riba’ tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila”.

(Surah Al Baqarah ayat 275)

 

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud :“ Selagi akan terjadi dan nyata pada akhir zaman empat macam di kerjakan manusia :

Pertama : orang-orang (mudah sahaja mengerjakan riba’ dan) memakan harta riba’.

Kedua : orang-orang (dengan tak merasa takut-takut) mengerjakan zina.

Ketiga : orang-orang (sering) bersumpah (walau pun palsu , tak ambil peduli)

Keempat : orang-orang (suka) mengurangkan sukatan atau timbangan (pada jual beli)Maka apabila berlaku dan telah nyata (di lakukan orang-orang seperti di lakukan itu) akan bertebaranlah penyakit dan bala yang akan di turunkan Allah dengan perang setengah akan setengahnya.”

 

8.Lari dari medan pertempuran.

 

Maksudnya, saat kaum Muslimin diserang oleh musuh mereka, dan kaum Muslimin maju mempertahankan diri dari serangan musuh itu, kemudian ada seseorang individu Muslim yang melarikan diri dari pertempuran itu.

 

Allah s.w.t berfirman maksudnya :”Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (muslihat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah Neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya”.

(Surah Al Anfaal ayat 16)

 

9. Memakan harta anak yatim.

 

Tentang hal ini Allah s.w.t berfirman maksudnya :”Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (Neraka)”.

(Surah An Nisaa ayat 10)

 

10. Berbuat zina.

 

Dalam satu riwayat Nabi s.a.w ada menceritakan kisah seorang abid di zaman Bani Israel yang beribadah selama 60 tahun di dunia sebelum dia meninggal dunia dia telah melakukan zina dan tidak sempat bertaubat. Apabila ditimbang di akhirat dosa zina dengan ibadahnya selama 60 tahun  maka dosa zina lebih berat daripada pahala beribadah selama 60 tahun.

 

Tentang hal ini Allah s.w.t  berfirman maksudnya :”Barangsiapa yang melakukan demikian itu, nescaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu”.

(Surah Al Furqaan ayat 68-69)

 

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud :“ Jauhilah oleh kamu akan zina, kerana kecelakaannya empat macam iaitu hilang seri (cahaya) pada wajahnya , di sempitkan rezekinya , dan kemurkaan Allah atasnya dan menyebabkan kekal di dalam Neraka.”

(Hadis riwayat Thabrany dan Ibnu Abbas)

 

11. Sumpah palsu.

 

Jika seseorang bersumpah untuk melakukan sesuatu perbuatan, namun ternyata ia tidak melakukan perbuatan itu. atau ia bersumpah tidak akan melakukan sesuatu perbuatan, namun nyatanya ia kemudian melakukan perbuatan itu. Tentang hal ini Allah s.w.t berfirman maksudnya :

 

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih”.

(Surah Ali Imraan ayat 77 )

 

Diriwayatkan oleh Abu Bakrah r.a katanya: Ketika kami bersama Rasulullah s.a.w, baginda telah bersabda maksudnya : “Mahukah aku ceritakan kepada kamu sebesar-besardosa besar? Ianya tiga perkara, iaitu mensyirikkan Allah, mengherdikkedua ibu bapa dan bersaksi palsu atau kata-kata palsu.”

 

12. Meminum arak (minuman keras).

 

Firman Allah lagi yang bermaksud: “Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) mengenai arak dan judi. Katakanlah kepada kedua-duanya ada dosa besar (mudarat) dan ada pula beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa kedua-duanya adalah lebih besar daripada manfaatnya.”

(Surah al-Baqarah, ayat 219)

 

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud :“ Empat ( macam manusia) tidak Allah masukkan mereka itu ke Syurga dan tidak akan merasai kenikmatannya, peminum arak , pemakan riba’ , menzalami (memakan) harta anak yatim dengan tidak hak dan derhaka pada ibu atau bapa.”

(Hadis riwayat Al-Hakim)

 

13. Berjudi.

 

Judi adalah antara amalan termasuk dalam dosa besar kerana ia dikaitkan dengan amalan syaitan. Tegahan berjudi kerana perbuatan itu mendatangkan banyak keburukan bukan saja kepada orang yang suka berjudi, juga mereka yang rapat dengannya.

 

Firman Allah lagi yang bermaksud: “Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) mengenai arak dan judi. Katakanlah kepada kedua-duanya ada dosa besar (mudarat) dan ada pula beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa kedua-duanya adalah lebih besar daripada manfaatnya.”

(Surah al-Baqarah, ayat 219)

 

14. Menilik nasib / mempercayai bomoh.( menggunakan perantaraan jin dan syaitan mengaku boleh mengetahui perkara ghaib)

 

Firman Allah yang bermaksud: “Wahai orang beriman! Sesungguhnya arak, judi, penyembahan berhala dan bertilik nasib adalah najis (haram) dan ia daripada perbuatan syaitan.”

(Surah al-Maidah, ayat 90)

 

Sabda Nabi s.a.w bermaksud: “Barang siapa datang kepada tukang tenung (bomoh), kemudian dia membenarkan perkataannya, maka sembahyangnya tidak diterima oleh Allah selama 40 hari.”

(Hadis Riwayat Muslim).

 

15.  Meninggalkan solat.

 

Tentang hal ini Allah s.w.t. berfirman maksudnya :”Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (Neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan solat”.

(Surah Al Muddats-tsir ayat  42-43 )

 

Nabi s.a.w ada bersabda yang bermaksud :“ Bermula orang yang meninggalkan solat pada hal ia dalam keadaan sihat, maka Allah tidak memandang kepadanya dengan pandangan rahmat, dan baginya kelak azab yang amat hebat melainkan kalau ia bertaubat dari perbuatannya itu”

 

16. Melanggar perjanjian dan memutuskan tali silaturahmi.

 

Tali silaturahmi adalah salah satu ikatan yang diperintahkan oleh Allah s.w.t.untuk disambung.

 

Allah s.w.t  berfirman maksudnya :”(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi”.(Surah Al Baqarah ayat 27 )

 

Nabi s.a.w pernah bersabda yang bermaksud, “Orang yang memutuskan silaturahim tidak akan masuk Syurga.”

(Hadis Riwayat Muttafaq Alaih)

 

17. Melakukan liwath (homoseksual).

 

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :“ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka) , bukan kepada wanita, maka kamu ini adalah kaum yang melampau batas.”

(Surah Al- A’raaf ayat 81)

 

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud :“ Barangsiapa mengerjakan akan perkerjaan kaum Luth (liwaath / homoseksual) maka hendaklah di bunuh yang memperbuat dan yang di perbuat.”

 

18. Tidak menuanikan zakat.

 

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :“ Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya , menyangka bahawa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan di kalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(Surah Al-Imran ayat 180)

 

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud :“Barangsiapa mempunyai emas atau perak senisab, sedang tidak di keluarkan zakatnya, kelak di hari kemudian ia akan di kejar-kejar oleh ular yang besar dan sangat berbisa dari neraka yang mengigit tangannya sehingga terpotong, kemudian tangannya kembali sebagai sediakala, di gigit lagi ular itu, demikianlah setiap masa, sehingga akhirnya orang yang bakhil itu akan di seret ke neraka Jahannam”

 

19. Mengurangkan sukatan timbangan.

 

Firman Allah s.w.t maksudnya : “Tepatkanlah ukuran dan janganlah kalian termasuk golongan orang yang merugi.

(Surah Asy Syu’araa ayat 181).

 

Firman Allah s.w.t maksudnya : “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berjalan atas dasar suka sama suka diantara kamu”

(Surah An-Nisaa ayat 29)

 

20. Membunuh diri sendiri dengan sengaja.

 

Dari Abu Huhairah r.a. Nabi s.a.w bersabda maksudnya : “Sesiapa yang terjun dari bukit membunuh dirinya, dia akan terjun ke dalam neraka jahannam kakal di dalamnya selama-lamanya. Sesiapa yang meminum racun membunuh diiri, racun itu akan berada di dalam gengamannya, dia akan menghirup racun itu di dalam neraka jahannam kekal di dalamnya selama-lamanya. Siapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu akan berada dalam gengamannya, dia akan menikamkannya di perutnya di dalam neraka jahannam, kekal di dalamnya selama-lamanya.”

(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Daripada Thabit bin Dhohak r.a. sabda Nabi s.a.w. maksudnya :  “Sesiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu benda di dunia, dia akan diazabkan dengan benda tersebut di hari kiamat.”

(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Jabir bin Samurah r.a. bahwa seorang laki-laki telah membunuh dirinya sendiri dengan tombak maka Nabi s.a.w. tidak menyembayangkan (jenazahnya)”

(Hadis Riwayat Muslim)

 

Sahabat yang dikasihi,

Setiap dosa-dosa yang kita lakukan sebenarnya ianya akan memberi kesan kepada hati  kita. Hati akan berpenyakit dan dipenuhi oleh selaput hitam yang menutup pintu-pintu hidayah dan kebenaran. Untuk menghilangkan selaput hitam tersebut perlu kepada bertaubat dan beristighfar kepada Allah s.w.t dan sentiasa mengingati mati dan banyak membaca al-Qur’an.

 

Firman Allah s.w.t maksudnya: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, nescaya Kami hapuskan kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Syurga).”

(Surah An-Nisa’ ayat 31)

 

Oleh itu jauhilah semua dosa-dosa kecil atau besar dalam hidup kita dan sentiasa menghidupkan hati kita dengan iman dan taqwa dan sentiasa muraqabah  dengan Allah s.w.t.

 

Semoga kita  semua diampunkan oleh Allah s.w.t  terhadap  dosa-dosa kita yang telah lalu dan akan datang dan di beri-Nya rahmat dan keredhaan-Nya didunia dan akhirat.

70 DOSA BESAR

70 Dosa terbesar menurut agama islam
Untuk Meningkatkan Akidah dan Akhlak kita tidak ada salahnya kita
tau 70 Dosa Besar dalam agama Islam atau kaba’ir dalam Islam

adalah sebagai berikut :
1. Menyekutukan Allah atau Syirik
2. Membunuh Manusia
3. Melakukan Sihir
4. Meninggalkan Shalat
5. Tidak Mengeluarkan Zakat
6. Tidak Berpuasa ketika bulan Ramadhan tanpa alasan yang kuat
7. Tidak Mengerjakan Haji Walaupun Berkecukupan
8. Durhaka Kepada Ibu Bapak
9. Memutuskan Silaturahim
10. Berzina
11. Melakukan Sodomi atau Homoseksual
12. Memakan Riba
13. Memakan Harta Anak Yatim
14. Mendustakan Allah S.W.T dan Rasul-Nya
15. Lari dari Medan Perang
16. Pemimpin Yang Penipu dan Kejam
17. Sombong
18. Saksi Palsu
19. Meminum minuman beralkohol
20. Berjudi
21. Menuduh orang baik melakukan Zina
22. Menipu harta rampasan Perang
23. Mencuri
24. Merampok
25. Sumpah Palsu
26. Berlaku Zalim
27. Pemungut cukai yang Zalim
28. Makan dari harta yang Haram
29. Bunuh Diri
30. Berbohong
31. Hakim yang Tidak adil
32. Memberi dan menerima sogok
33. Wanita yang menyerupai Lelaki dan sebaliknya juga
34. Membiarkan istri, anaknya atau anggota keluarganya yang lain
berbuat mesum dan memfasilitasi anggota keluarganya tersebut
untuk berbuat mesum
35. Menikahi wanita yang telah bercerai agar wanita tersebut
nantinya bisa kembali menikah dengan suaminya terdahulu
36. Tidak melindungi pakaian dan tubuhnya dari terkena hadas kecil
seperti air kencing atau kotoran
37. Riya atau suka pamer
38. Ulama yang memiliki ilmu namun tidak mau mengamalkan
ilmunya tersebut untuk orang lain
39. Berkhianat
40. Mengungkit-Ungkit Pemberian
41. Mangingkari Takdir Allah SWT
42. Mencari-cari Kesalahan Orang lain
43. Menyebarkan Fitnah
44. Mengutuk Umat Islam
45. Mengingkari Janji
46. Percaya Kepada Sihir dan Nujum
47. Durhaka kepada Suami
48. Membuat patung
49. Menamparkan pipi dan meratap jika terkena bala
50. Menggangu Orang lain
51. Berbuat Zalim terhadap yg lemah
52. Menggangu Tetangga
53. Menyakiti dan Memaki Orang Islam
54. Derhaka kepada Hamba Allah S.W.T dan menggangap dirinya
baik
55. Memakai pakaian labuhkan Pakaian
56. Lelaki yang memakai Sutera dan Emas
57. Seorang hamba (budak) yang lari dari Tuannya
58. Sembelihan Untuk Selain Dari Allah S.W.T
59. Seorang yang mengaku bahwa seseorang itu adalah ayahnya
namun dia tahu bahwa itu tidak benar
60. Berdebat dan Bermusuhan
61. Enggan Memberikan Kelebihan Air
62. Mengurangi Timbangan
63. Merasa Aman Dari Kemurkaan Allah S.W.T
64. Putus Asa Dari Rahmat Allah S.W.T
65. Meninggalkan Sholat Berjemaah tanpa alasan yang kuat
66. Meninggalkan Sholat Jum’at tanpa alasan yang kuat
67. Merebut hak warisan yang bukan miliknya
68. Menipu
69. Mengintip Rahasia dan Membuka Rahasia Orang Lain
70. Mencela Nabi dan Para Sahabat Beliauwpid-menguak+rahasia+ahli+surga+-+ilustrasi.jpg.jpeg