Berpuasa Sepanjang Masa

ibadah-jawa

 

 

 

Puasa adalah ibadah yang pahala langsung untuk Allah, karena mahluk tidak tidak bisa mengesan ibadah seseorang. Yang tahu puasa hanya dia sendiri dan Allah swt. Pahala puasa satu hari dapat menghalangi atau menjadi tameng api neraka sejauh selama 70 tahun perjalanan.

 

Setiap orang yang beriman pastilah berkeinginan untuk puasa sepanjang masa , tapi siapa yang bisa melakukannya. Dari berbagai jenis puasa sunat seperti puasa sunah senin- kamis, puasa daud yaitu sehari puasa sehari buka, puasa maryam yaitu puasa dua hari buka dua hari, puasa yang diganjar dengan puasa seolah olah sepanjang masa adalah ada dua yaitu barang siapa berpuasa ramadhan dan diringi dengan puasa 6 di bulan syawal maka di ganjar seolah olah sepanjang tahun.  Barang siapa puasa tiga hari dihari putih  yaitu puasa tiga hari sertiap bulan di tanggal 13,14 dan 15 kalender hijrah. Karena setiap amal puasa di kali ganda 10 kali. Satu hari puasa sama dengan puasa 10 hari . Tiga hari puasa sama dengan puasa satu bulan. Bila dilakukan secara istiqomah maka kita sama dengan puasa sepanjang masa. mari kita amalkan dan berdoa kepada Allah Swt semoga dapat mengamalkan dan mengharap ridho dan pahala.

Iklan

Bersedekah yang Paling Utama

manis

Dalam sebuah hadits terdapat penjelasan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengenai aktifitas bersedekah yang paling utama alias afdhol.

Tidak semua bentuk bersedekah bernilai afdhol. Bagi orang yang berusia muda dan sedang energik tentunya bersedekah memiliki nilai lebih tinggi di sisi Allah daripada bersedekahnya seorang yang telah lanjut usia, sakit-sakitan, dan sudah menjelang meninggal dunia.

Untuk itulah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memberikan gambaran kepada ummatnya mengenai sedekah yang paling afdhol.

“Seseorang bertanya kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling afdhol?” Beliau menjawab: “Kau bersedekah ketika kau masih dalam keadaan sehat lagi loba, kau sangat ingin menjadi kaya, dan khawatir miskin. Jangan kau tunda hingga ruh sudah sampai di kerongkongan, kau baru berpesan :”Untuk si fulan sekian, dan untuk si fulan sekian.” Padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli waris).” (HR Bukhary)

Coba lihat betapa detilnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan ciri orang yang paling afdhol dalam bersedekah. Sekurangnya kita temukan ada empat kriteria: (1) Dalam keadaan sehat lagi loba alias berambisi mengejar keuntungan duniawi; (2) dalam keadaan sangat ingin menjadi kaya; (3) dalam keadaan sangat khawatir menjadi miskin dan (4) tidak dalam keadaan sudah menjelang meninggal dunia dan bersiap-siap membuat aneka wasiat soal harta yang bakal terpaksa ditinggalkannya.

Pertama, orang yang paling afdhol dalam bersedekah ialah orang yang dalam keadaan sehat lagi loba alias tamak alias berambisi sangat mengejar keuntungan duniawi.

Artinya, ia masih muda lagi masa depan hidupnya masih dihiasi aneka ambisi dan perencanaan untuk menjadi seorang yang sukses, mungkin dalam karirnya atau bisinisnya.

Dalam keadaan seperti ini biasanya seseorang akan merasakan kesulitan dan keengganan bersedekah karena segenap potensi harta yang ia miliki pastinya ingin ia pusatkan dan curahkan untuk modal menyukseskan berbagai perencanaan dan proyeknya.

Dengan dalih masih dalam tahap investasi, maka ia akan selalu menunda dan menunda niat bersedekahnya dari sebagian harta yang ia miliki. Karena setiap ia memiliki kelebihan harta sedikit saja, ia akan segera menyalurkannya ke pos investasinya.

Setiap uang yang ia miliki segera ia tanam ke dalam bisnisnya dan ia katakan ke dalam dirinya bahwa jika ia bersedekah dalam tahap tersebut maka sedekahnya akan terlalu sedikit, lebih baik ditunda bersedekah ketika nanti sudah sukses sehingga bisa bersedekah dalam jumlah ”signifikan” alias berjumlah banyak. Akhirnya ia tidak kunjung pernah mengeluarkan sedekah selama masih dalam masa investasi tersebut.

Kedua, bersedekah ketika dalam keadaan sedang sangat ingin menjadi kaya. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam seolah ingin menggambarkan bahwa orang yang dalam keadaan tidak ingin menjadi kaya berarti bersedekahnya kurang bernilai dibandingkan orang yang dalam keadaan berambisi menjadi kaya. Sebab bila seorang yang sedang berambisi menjadi kaya bersedekah berarti ia bukanlah tipe orang yang hanya ingin menikmati kekayaan untuk dirinya sendiri.

Ia sejak masih bercita-cita menjadi kaya sudah mengembangkan sifat dan karakter dermawan. Hal ini menunjukkan bahwa jika Allah izinkan dirinya benar-benar menjadi orang kaya, maka dalam kekayaan itu dia bakal selalu sadar ada hak kaum yang kurang bernasib baik yang perlu diperhatikan.

Sekaligus kebiasaan bersedekah yang dikembangkan sejak seseorang baru pada tahap awal merintis bisnisnya, maka hal itu mengindikasikan bahwa si pelaku bisnis itu sadar sekali bahwa rezeki yang ia peroleh seluruhnya berasal dari Yang Maha Pemberi Rezeki, Allah Ar-Razzaq.

Hal ini sangat berbeda dengan orang kaya dari kaum kafir seperti Qarun, misalnya. Qarun adalah tokoh kaya di zaman dahulu yang di dalam meraih keberhasilan bisnisnya menyangka bahwa kekayaan yang ia peroleh merupakan buah dari kepiawaiannya dalam berbisnis semata.

Ia tidak pernah mengkaitkan kesuksesan dirinya dengan Yang Maha Pemberi Rezeki, Allah swt.

“Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”.(QS Al-Qshshash ayat 78)

Ketiga, sedekah menjadi afdhol bila si pemberi sedekah berada dalam keadaan khawatir menjadi miskin. Walaupun ia dalam keadaan khawatir menjadi miskin, namun hal ini tidak mempengaruhi dirinya. Ia tetap berkeyakinan bahwa bersedekah dalam keadaan seperti itu merupakan bukti ke-tawakkal-annya kepada Allah.

Ia sadar bahwa jika Allah kehendaki, maka mungkin sekali dirinya menjadi kaya atau menjadi miskin. Itu terserah Allah. Yang pasti keadaan apapun yang dialaminya tidak mempengaruhi sedikitpun kebiasaannya bersedekah.

Ia sudah menjadikan bersedekah sebagai salah satu karakter penting di dalam keseluruhan sifat dirinya. Persis gambarannya seperti orang bertaqwa di dalam Al-Qur’an:

”… yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.” (QS Ali Imran ayat 133-134)

Keempat, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sangat mewanti-wanti agar jangan sampai seseorang baru berfikir untuk bersedekah ketika ajal sudah menjelang. Sehingga digambarkan oleh beliau bahwa orang itu kemudian baru menyuruh seorang pencatat menginventarisasi siapa-siapa saja fihak yang berhak menerima harta miliknya yang hendak disedekahkan alias diwasiatkan.

Ini bukanlah bentuk bersedekah yang afdhol. Sebab pada hakikatnya, seorang yang bersedekah ketika ajal sudah menjelang, berarti ia melakukannya dalam keadaan sudah dipaksa oleh keadaan dirinya yang sudah tidak punya pilihan lain.

Bila seseorang bersedekah dalam keadaan ia bebas memilih antara mengeluarkan sedekah atau tidak, berarti ia lebih bermakna daripada seseorang yang bersedekah ketika tidak ada pilihan lainnya kecuali harus bersedekah.

Itulah sebabnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam lebih menghargai orang yang masih muda lagi sehat bersedekah daripada orang yang sudah tua dan menjelang ajal baru berfikir untuk bersedekah.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersedekah yang paling afdhol. Terimalah, ya Allah, segenap infaq dan sedekah kami di jalanMu. Amin . – http://www.eramuslim.com

Kisah Nabi Sulaiman

 

Nabi Sulaiman adalah salah seorang putera Nabi Daud. Sejak ia masih kanak-kanak berusia sebelas tahun, ia sudah menampakkan tanda-tanda kecerdasan, ketajaman otak, kepandaian berfikir serta ketelitian di dalam mempertimbangkan dan mengambil sesuatu keputusan.

Nabi Sulaiman Seorang Juri

Sewaktu Daud, ayahnya menduduki tahta kerajaan Bani Isra’il ia selalu mendampinginnya dalam tiap-tiap sidang peradilan yang diadakan untuk menangani perkara-perkara perselisihan dan sengketa yang terjadi di dalam masyarakat. Ia memang sengaja dibawa oleh Daud, ayahnya menghadiri sidang-sidang peradilan serta menyekutuinya di dalam menangani urusan-urusan kerajaan untuk melatihnya serta menyiapkannya sebagai putera mahkota yang akan menggantikanya memimpin kerajaan, bila tiba saatnya ia harus memenuhi panggilan Ilahi meninggalkan dunia yang fana ini. Dan memang Sulaimanlah yang terpandai di antara sesama saudara yang bahkan lebih tua usia daripadanya.

Suatu peristiwa yang menunjukkan kecerdasan dan ketajaman otaknya iaitu terjadi pada salah satu sidang peradilan yang ia turut menghadirinya. dalam persidangan itu dua orang datang mengadu meminta Nabi Daud mengadili perkara sengketa mereka, iaitu bahawa kebun tanaman salah seorang dari kedua lelaki itu telah dimasuki oleh kambing-kambing ternak kawannya di waktu malam yang mengakibatkan rusak binasanya perkarangannya yang sudah dirawatnya begitu lama sehingga mendekati masa menuainya. Kawan yang diadukan itu mengakui kebenaran pengaduan kawannya dan bahawa memang haiwan ternakannyalah yang merusak-binasakan kebun dan perkarangan kawannya itu.

Dalam perkara sengketa tersebut, Daud memutuskan bahawa sebagai ganti rugi yang dideritai oleh pemilik kebun akibat pengrusakan kambing-kambing peliharaan tetangganya, maka pemilik kambing-kambing itu harus menyerahkan binatang peliharaannya kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi yang disebabkan oleh kecuaiannya menjaga binatang ternakannya. Akan tetapi Sulaiman yang mendengar keputusan itu yang dijatuhkan oleh ayahnya itu yang dirasa kurang tepat berkata kepada si ayah: “Wahai ayahku, menurut pertimbanganku keputusan itu sepatut berbunyi sedemikian : Kepada pemilik perkarangan yang telah binasa tanamannya diserahkanlah haiwan ternak jirannya untuk dipelihara, diambil hasilnya dan dimanfaatkan bagi keperluannya, sedang perkarangannya yang telah binasa itu diserahkan kepada tetangganya pemilik peternakan untuk dipugar dan dirawatnya sampai kembali kepada keadaan asalnya, kemudian masing-masing menerima kembali miliknya, sehingga dengan cara demikian masing-masing pihak tidak ada yang mendapat keuntungan atau kerugian lebih daripada yang sepatutnya.”

Kuputusan yang diusulkan oleh Sulaiman itu diterima baik oleh kedua orang yang menggugat dan digugat dan disambut oleh para orang yang menghadiri sidang dengan rasa kagum terhadap kecerdasan dan kepandaian Sulaiman yang walaupun masih muda usianya telah menunjukkan kematangan berfikir dan keberanian melahirkan pendapat walaupun tidak sesuai dengan pendapat ayahnya.
Peristiwa ini merupakan permulaan dari sejarah hidup Nabi Sulaiman yang penuh dengan mukjizat kenabian dan kurnia Allah yang dilimpahkan kepadanya dan kepada ayahnya Nabi Daud.

Sulaiman Menduduki Tahta Kerajaan Ayahnya

Sejak masih berusia muda Sulaiman telah disiapkan oleh Daud untuk menggantikannya untuk menduduki tahta singgahsana kerajaan Bani Isra’il.
Abang Sulaiman yang bernama Absyalum tidak merelakan dirinya dilangkahi oleh adiknya .Ia beranggapan bahawa dialah yang sepatutnya menjadi putera mahkota dan bukan adiknya yang lebih lemah fizikalnya dan lebih muda usianya srta belum banyak mempunyai pengalaman hidup seperti dia. Kerananya ia menaruh dendam terhadap ayahnya yang menurut anggapannya tidak berlaku adil dan telah memperkosa haknya sebagai pewaris pertama dari tahta kerajaan Bani Isra’il.

Absyalum berketetapan hati akan memberotak terhadap ayahnya dan akan berjuang bermati-matian untuk merebut kekuasaan dari tangan ayahnya atau adiknya apa pun yang harus ia korbankan untuk mencapai tujuan itu. Dan sebagai persiapan bagi rancangan pemberontakannya itu, dari jauh-jauh ia berusaha mendekati rakyat, menunjukkan kasih sayang dan cintanya kepada mereka menolong menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi serta mempersatukan mereka di bawah pengaruh dan pimpinannya. Ia tidak jarang bagi memperluaskan pengaruhnya, berdiri didepan pintu istana mencegat orang-orang yang datang ingin menghadap raja dan ditanganinya sendiri masalah-masalah yang mereka minta penyelesaian.

Setelah merasa bahawa pengaruhnya sudah meluas di kalangan rakyat Bani Isra’il dan bahawa ia telah berhasil memikat hati sebahagian besar dari mereka, Absyalum menganggap bahawa saatnya telah tiba untuk melaksanakan rencana rampasan kuasa dan mengambil alih kekuasaan dari tangan ayahnya dengan paksa. Lalu ia menyebarkan mata-matanya ke seluruh pelosok negeri menghasut rakyat dan memberi tanda kepada penyokong-penyokong rencananya, bahawa bila mereka mendengar suara bunyi terompet, maka haruslah mereka segera berkumpul, mengerumuninya kemudian mengumumkan pengangkatannya sebagai raja Bani Isra’il menggantikan Daud ayahnya.

Syahdan pada suatu pagi hari di kala Daud duduk di serambi istana berbincang-bincang dengan para pembesar dan para penasihat pemerintahannya, terdengarlah suara bergemuruh rakyat bersorak-sorai meneriakkan pengangkatan Absyalum sebagai raja Bani Isra’il menggantikan Daud yang dituntut turun dari tahtanya. Keadaan kota menjadi kacau-bilau dilanda huru-hara keamanan tidak terkendalikan dan perkelahian terjadi di mana-mana antara orang yang pro dan yang kontra dengan kekuasaan Absyalum.

Nabi Daud merasa sedih melihat keributan dan kekacauan yang melanda negerinya, akibat perbuatan puterannya sendiri. Namun ia berusaha menguasai emosinya dan menahan diri dari perbuatan dan tindakan yang dapat menambah parahnya keadaan. Ia mengambil keputusan untuk menghindari pertumpahan darah yang tidak diinginkan, keluar meninggalkan istana dan lari bersama-sama pekerjanya menyeberang sungai Jordan menuju bukit Zaitun. Dan begitu Daud keluar meninggalkan kota Jerusalem, masuklah Absyalum diiringi oleh para pengikutnya ke kota dan segera menduduki istana kerajaan. Sementara Nabi Daud melakukan istikharah dan munajat kepada Tuhan di atas bukit Zaitun memohon taufiq dan pertolongan-Nya agar menyelamatkan kerajaan dan negaranya dari malapetaka dan keruntuhan akibat perbuatan puteranya yang durhaka itu.

Setelah mengadakan istikharah dan munajat yang tekun kepada Allah, akhirnya Daud mengambil keputusan untuk segera mengadakan kontra aksi terhadap puteranya dan dikirimkanlah sepasukan tentera dari para pengikutnya yang masih setia kepadanya ke Jerusalem untuk merebut kembali istana kerajaan Bani Isra’il dari tangan Absyalum. Beliau berpesan kepada komandan pasukannya yang akan menyerang dan menyerbu istana, agar bertindak bijaksana dan sedapat mungkin menghindari pertumpahan darah dan pembunuhan yang tidak perlu, teristimewa mengenai Absyalum, puteranya, ia berpesan agar diselamatkan jiwanya dan ditangkapnya hidup-hidup. Akan tetapi takdir telah menentukan lain daripada apa yang si ayah inginkan bagi puteranya. Komandan yang berhasil menyerbu istana tidak dapat berbuat lain kecuali membunuh Absyalum yang melawan dan enggan menyerahkan diri setelah ia terkurung dan terkepung.

Dengan terbunuhnya Absyalum kembalilah Daud menduduki tahtanya dan kembalilah ketenangan meliputi kota Jerusalem sebagaimana sediakala. Dan setelah menduduki tahta kerajaan Bani Isra’il selama empat puluh tahun wafatlah Nabi Daud dalam usia yang lanjut dan dinobatkanlah sebagai pewarisnya Sulaiman sebagaimana telah diwasiatkan oleh ayahnya.

Kekuasaan Sulaiman Atas Jin dan Makhluk Lain

Nabi Sulaiman yang telah berkuasa penuh atas kerajaan Bani Isra’il yang makin meluas dan melebar, Allah telah menundukkan baginya makhluk-makhluk lain, iaitu Jin angin dan burung-burung yang kesemuanya berada di bawah perintahnya melakukan apa yang dikehendakinya dan melaksanakan segala komandonya. Di samping itu Allah memberinya pula suatu kurnia berupa mengalirnya cairan tembaga dari bawah tanah untuk dimanfaatkannya bagi karya pembangunan gedung-gedung, perbuatan piring-piring sebesar kolam air, periuk-periuk yang tetap berada diatas tungku yang dikerjakan oleh pasukan Jin-Nya.

Sebagai salah satu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada Sulaiman ialah kesanggupan beliau menangkap maksud yang terkandung dalam suara binatang-binatang dan sebaliknya binatang-binatang dapat pula mengerti apa yang ia perintahkan dan ucapkan.
Demikianlah maka tatkala Nabi Sulaiman berpergian dalam rombongan kafilah yang besar terdiri dari manusia, jin dan binatang-binatang lain, menuju ke sebuah tempat bernama Asgalan ia melalui sebuah lembah yang disebut lembah semut. Disitu ia mendengar seekor semut berkata kepada kawan-kawannya: “Hai semut-semut, masuklah kamu semuanya ke dalam sarangmu, agar supaya kamu selamat dan tidak menjadi binasa diinjak oleh Sulaiman dan tenteranya tanpa ia sedar dan sengaja.

Nabi Sulaiman tersenyum tertawa mendengar suara semut yang ketakutan itu. Ia memberitahu hal itu kepada para pengikutnya seraya bersyukur kepada Allah atas kurnia-Nya yang menjadikan ia dapat mendengar serta menangkap maksud yang terkandung dalam suara semut itu. Ia merasa takjud bahawa binatang pun mengerti bahawa nabi-nabi Allah tidak akan mengganggu sesuatu makhluk dengan sengaja dan dalam keadaan sedar.

Sulaiman dan Ratu Balqis

Setelah Nabi Sulaiman membangunkan Baitulmaqdis dan melakukan ibadah haji sesuai dengan nadzarnya pergilah ia meneruskan perjalannya ke Yeman. Setibanya di San’a – ibu kota Yeman ,ia memanggil burung hud-hud sejenis burung pelatuk untuk disuruh mencari sumber air di tempat yang kering tandus itu. Ternyata bahawa burung hud-hud yang dipanggilnya itu tidak berada diantara kawasan burung yang selalu berada di tempat untuk melakukan tugas dan perintah Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman marah dan mengancam akan mengajar burung Hud-hud yang tidak hadir itu bila ia datang tanpa alasan dan uzur yang nyata.

Berkata burung Hud-hud yang hinggap didepan Sulaiman sambil menundukkan kepala ketakutan:: “Aku telah melakukan penerbangan pengintaian dan menemukan sesuatu yang sangat penting untuk diketahui oleh paduka Tuan. Aku telah menemukan sebuah kerajaan yang besar dan mewah di negeri Saba yang dikuasai dan diperintah oleh seorang ratu. Aku melihat seorang ratu itu duduk di atas sebuah tahta yang megah bertaburkan permata yang berkilauan. Aku melihat ratu dan rakyatnya tidak mengenal Tuhan Pencipta alam semesta yang telah mengurniakan mereka kenikmatan dan kebahagian hidup. Mereka tidak menyembah dan sujud kepada-Nya, tetapi kepada matahari. Mereka bersujud kepadanya dikala terbit dan terbenam. Mereka telah disesatkan oleh syaitan dari jalan yang lurus dan benar.”

Berkata Sulaiman kepada Hud-hud: “Baiklah, kali ini aku ampuni dosamu kerana berita yang engkau bawakan ini yang aku anggap penting untuk diperhatikan dan untuk mengesahkan kebenaran beritamu itu, bawalah suratku ini ke Saba dan lemparkanlah ke dalam istana ratu yang engkau maksudkan itu, kemudian kembalilah secepat-cepatnya, sambil kami menanti perkembangan selanjutnya bagaimana jawapan ratu Saba atas suratku ini.”
HUd-hud terbang kembali menuju Saba dan setibanya di atas istana kerajaan Saba dilemparkanlah surat Nabi Sulaiman tepat di depan ratu Balqis yang sedang duduk dengan megah di atas tahtanya. Ia terkejut melihat sepucuk surat jatuh dari udara tepat di depan wajahnya. Ia lalu mengangkat kepalanya melihat ke atas, ingin mengetahui dari manakah surat itu datang dan siapakah yang secara kurang hormat melemparkannya tepat di depannya. Kemudian diambillah surat itu oleh ratu, dibuka dan baca isinya yang berbunyi: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, surat ini adalah daripadaku, Sulaiman. Janganlah kamu bersikap sombong terhadapku dan menganggap dirimu lebih tinggi daripadaku. Datanglah sekalian kepadaku berserah diri.”

Setelah dibacanya berulang kali surat Nabi Sulaiman Ratu Balqis memanggil para pembesarnya dan para penasihat kerajaan berkumpul untuk memusyawarahkan tindakan apa yang harus diambil sehubungan dengan surat Nabi Sulaiman yang diterimanya itu.
Berkatlah para pembesar itu ketika diminta petimbangannya: “Wahai paduka tuan ratu, kami adalah putera-putera yang dibesarkan dan dididik untuk berperang dan bertempur dan bukan untuk menjadi ahli pemikir atau perancang yang patut memberi pertimbangan atau nasihat kepadamu. Kami menyerahkan kepadamu untuk mengambil keputusan yang akan membawa kebaikan bagi kerajaan dan kami akan tunduk dan melaksanakan segala perintah dan keputusanmu tanpa ragu. Kami tidak akan gentar menghadapi segala ancaman dari mana pun datangnya demi menjaga keselamatanmu dam keselamatan kerajaanmu.”

Ratu Balqis menjawab: “Aku memperoleh kesan dari uraianmu bahwa kamu mengutamakan cara kekerasan dan kalau perlu kamu tidak akan gentar masuk medan perang melawan musuh yang akan menyerbu. Aku sangat berterima kasih atas kesetiaanmu kepada kerajaan dan kesediaanmu menyabung nyawa untuk menjaga keselamatanku dan keselamatan kerajaanku. Akan tetapi aku tidak sependirian dengan kamu sekalian. Menurut pertimbanganku, lebih bijaksana bila kami menempuh jalan damai dan menghindari cara kekerasan dan peperangan. Sebab bila kami menentang secara kekerasan dan sampai terjadi perang dan musuh kami berhasil menyerbu masuk kota-kota kami, maka nescaya akan berakibat kerusakan dan kehancuran yang sgt menyedihkan. Mereka akan menghancur binasakan segala bangunan, memperhambakan rakyat dan merampas segala harta milik dan peninggalan nenek moyang kami. Hal yang demikian itu adalah merupakan akibat yang wajar dari tiap peperangan yang dialami oleh sejarah manusia dari masa ke semasa. Maka menghadapi surat Sulaiman yang mengandung ancaman itu, aku akan cuba melunakkan hatinya dengan mengirimkan sebuah hadiah kerajaan yang akan terdiri dari barang-barang yang berharga dan bermutu tinggi yang dapat mempesonakan hatinya dan menyilaukan matanya dan aku akan melihat bagaimana ia memberi tanggapan dan reaksi terhadap hadiahku itu dan bagaimana ia menerima utusanku di istananya.

Selagi Ratu Balgis siap-siap mengatur hadiah kerajaan yang akan dikirim kepada Sulaiman dan memilih orang-orang yang akan menjadi utusan kerajaan membawa hadiah, tibalah hinggap di depan Nabi Sulaiman burung pengintai Hud-hud memberitakan kepadanya rancangan Balqis untuk mengirim utusan membawa hadiah baginya sebagai jawaban atas surat beliau kepadanya.
Setelah mendengar berita yang dibawa oleh Hud-hud itu, Nabi Sulaiman mengatur rencana penerimaan utusan Ratu Balqis dan memerintahkan kepada pasukan Jinnya agar menyediakan dan membangunkan sebuah bangunan yang megah yang tiada taranya ya akan menyilaukan mata perutusan Balqis bila mereka tiba.

Tatkala perutusan Ratu Balqis datang, diterimalah mereka dengan ramah tamah oleh Sulaiman dan setelah mendengar uraian mereka tentang maksud dan tujuan kedatangan mereka dengan hadiah kerajaan yang dibawanya, berkatalah Nabi Sulaiman: “Kembalilah kamu dengan hadiah-hadiah ini kepada ratumu. Katakanlah kepadanya bahawa Allah telah memberiku rezeki dan kekayaan yang melimpah ruah dan mengurniaiku dengan kurnia dan nikmat yang tidak diberikannya kepada seseorang drp makhluk-Nya. Di samping itu aku telah diutuskan sebagai nabi dan rasul-Nya dan dianugerahi kerajaan yang luas yang kekuasaanku tidak sahaja berlaku atas manusia tetapi mencakup juga jenis makhluk Jin dan binatang-binatang. Maka bagaimana aku akan dapat dibujuk dengan harta benda dan hadiah serupa ini? Aku tidak dapat dilalaikan dari kewajiban dakwah kenabianku oleh harta benda dan emas walaupun sepenuh bumi ini. Kamu telah disilaukan oleh benda dan kemegahan duniawi, sehingga kamu memandang besar hadiah yang kamu bawakan ini dan mengira bahawa akan tersilaulah mata kami dengan hadiah Ratumu. Pulanglah kamu kembali dan sampaikanlah kepadanya bahawa kami akan mengirimkan bala tentera yang sangat kuat yang tidak akan terkalahkan ke negeri Saba dan akan mengeluarkan ratumu dan pengikut-pengikutnya dari negerinya sebagai- orang-orang yang hina-dina yang kehilangan kerajaan dan kebesarannya, jika ia tidak segera memenuhi tuntutanku dan datang berserah diri kepadaku.”

Perutusan Balqis kembali melaporkan kepada Ratunya apa yang mereka alami dan apa yang telah diucapkan oleh Nabi Sulaiman. Balqis berfikir, jalan yang terbaik untuk menyelamatkan diri dan kerajaannya ialah menyerah saja kepada tuntutan Sulaiman dan datang menghadap dia di istananya.
Nabi Sulaiman berhasrat akan menunjukkan kepada Ratu Balqis bahawa ia memiliki kekuasaan ghaib di samping kekuasaan lahirnya dan bahwa apa yang dia telah ancamkan melalui rombongan perutusan bukanlah ancaman yang kosong. Maka bertanyalah beliau kepada pasukan Jinnya, siapakah diantara mereka yang sanggup mendatangkan tahta Ratu Balqis sebelum orangnya datang berserah diri.

Berkata Ifrit, seorang Jin yang tercerdik: “Aku sanggup membawa tahta itu dari istana Ratu Balqis sebelum engkau sempat berdiri dari tempat dudukimu. Aku adalah pesuruhmu yang kuat dan dapat dipercayai.
Seorang lain yang mempunyai ilmu dan hikmah nyeletuk berkata: “Aku akan membawa tahta itu ke sini sebelum engkau sempat memejamkan matamu.”
Ketika Nabi Sulaiman melihat tahta Balqis sudah berada didepannya, berkatalah ia: Ini adalah salah satu kurnia Tuhan kepadaku untuk mencuba apakah aku bersyukur atas kurnia-Nya itu atau mengingkari-Nya, kerana barang siapa bersyukur maka itu adalah semata-mata untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa mengingkari nikmat dan kurnia Allah, ia akan rugi di dunia dan di akhirat dan sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

Menyonsong kedatangan Ratu Balqis, Nabi Sulaiman memerintahkan orang-orangnya agar mengubah sedikit bentuk dan warna tahta Ratu itu yang sudah berada di depannya kemudian setelah Ratu itu tiba berserta pengiring-pengiringnya, bertanyalah Nabi Sulaiman seraya menundingkan kepada tahtanya: “Serupa inikah tahtamu?” Balqis menjawab: “Seakan-akan ini adalah tahtaku sendiri,” seraya bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana mungkin bahawa tahtanya berada di sini padahal ia yakin bahawa tahta itu berada di istana tatkala ia bertolak meninggalkan Saba.

Selagi Balgis berada dalam keadaan kacau fikiran, kehairanan melihat tahta kerajaannya sudah berpindah ke istana Sulaiman, ia dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang sengaja dibangun untuk penerimaannya. Lantai dan dinding-dindingnya terbuat dari kaca putih. Balqis segera menyingkapkan pakaiannya ke atas betisnya ketika berada dalam ruangan itu, mengira bahawa ia berada di atas sebuah kolam air yang dapat membasahi tubuh dan pakaiannya.
Berkata Nabi Sulaiman kepadanya: “Engkau tidak usah menyingkap pakaianmu. Engkau tidak berada di atas kolam air. Apa yang engkau lihat itu adalah kaca-kaca putih yang menjadi lantai dan dinding ruangan ini.”

“Oh,Tuhanku,” Balqis berkata menyedari kelemahan dirinya terhadap kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang dipertunjukkan oleh Nabi Sulaiman, “aku telah lama tersesat berpaling daripada-Mu, melalaikan nikmat dan kurnia-Mu, merugikan dan menzalimi diriku sendiri sehingga terjatuh dari cahaya dan rahmat-Mu. Ampunilah aku. Aku berserah diri kepada Sulaiman Nabi-Mu dengan ikhlas dan keyakinan penuh. Kasihanilah diriku wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

Demikianlah kisah Nabi Sulaiman dan Balqis Ratu Saba. Dan menurut sementara ahli tafsir dan ahli sejarah nabi-nabi, bahawa Nabi Sulaiman pada akhirnya kahwin dengan Balqis dan dari perkahwinannya itu lahirlah seorang putera.
Menurut pengakuan maharaja Ethiopia Abessinia, mereka adalah keturunan Nabi Sulaiman dari putera hasil perkahwinannya dengan Balqis itu. Wallahu alam bisshawab.

Wafatnya Nabi Sulaiman

Al-Quran mengisahkan bahawa tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kematian Sulaiman kecuali anai-anai yang memakan tongkatnya yang ia sandar kepadanya ketika Tuhan mengambil rohnya. Para Jin yang sedang mengerjakan bangunan atas perintahnya tidak mengetahui bahawa Nabi Sulaiman telah mati kecuali setelah mereka melihat Nabi Sulaiman tersungkur jatuh di atas lantai, akibat jatuhnya tongkat sandarannya yang dimakan oleh anai-anai. Sekiranya para Jin sudah mengetahui sebelumnya, pasti mereka tidak akan tetap meneruskan pekerjaan yang mereka anggap sebagai seksaan yang menghinakan.

Berbagai cerita yang dikaitkan orang pada ayat yang mengisahkan matinya Nabi Sulaiman, namun kerana cerita-cerita itu tidak ditunjang dikuatkan oleh sebuah hadis sahih yang muktamad, maka sebaiknya kami berpegang saja dengan apa yang dikisahkan oleh Al-Quran dan selanjutnya Allahlah yang lebih Mengetahui dan kepada-Nya kami berserah diri.

Kisah Nabi Sulaiman dapat dibaca di dalam Al-Quran, surah An-Naml ayat 15 sehingga ayat 44

 
 

 

 Gambar

DOA

Berikut ini merupakan “rumus” agar supaya kita lebih cermat dalam mengevaluasi diri kita sendiri;
Jangan pernah berharap-harap kita menerima (anugrah), apabila kita enggan dalam memberi.
Jangan pernah berharap-harap akan selamat, apabila kita sering membuat orang lain celaka.
Jangan pernah berharap-harap mendapat limpahan harta, apabila kita kurang peduli terhadap sesama.
Jangan pernah berharap-harap mendapat keuntungan besar, apabila kita selalu menghitung untung rugi dalam bersedekah.
Jangan pernah berharap-harap meraih hidup mulia, apabila kita gemar menghina sesama.

Kunci kesuksesan pergaulan

“MUTIARA KATA”
KIAT SUKSES DALAM PERGAULAN DAN BERMASYARAKAT

Kaidah 1
Ora ånå wóng kang ingaranan uríp, kêjabanê kang mikír sartå trêsnå marang wóng kang ringkíh lan nandhang påpå cintråkå.
Biså mèlu ngrasakakê kasusahanê sartå lårå lapanê wóng liyå.
Kanthi pangråså kang mangkono mau atêgês biså nggadhúh kêkuwatan kang tanpå watês, pêrlu kanggo mitulungi sapådhå-pådhå kang kahananê luwíh nrênyúhakê katimbang dhiri pribadinê. “Pakarti mono darbèk kita dhêwê, nanging wóhê pakarti mau dadi kagunganê Kang Gawê Urip”, mangkono sabdanê sawijinê Pujånggå kalokå.

SABDA PUJANGGA
(Tiada orang disebut hidup, kecuali yang peduli serta belas kasih kepada sesama yang tak berdaya dan menderita. Dapat merasakan penderitaan serta kesengsaraan orang lain. Dengan dimilikinya rasa seperti itu, berarti mampu memelihara kekuatan yang tiada batasnya, diperlukan untuk menolong sesama yang keadaannya lebih mengenaskan ketimbang diri pribadinya. Perbuatan adalah milik kita sendiri, namun buah dari perbuatan kita menjadi milik Tuhan. Begitulah sabdanya salah satu Pujangga terkenal.)

Kaidah 2
Wóng kang baút mawas dhiri iku wóng kang biså manjíng ajúr ajèr, ngêrti êmpan papan laras karo rèh swasånå sakupêngê tanpå ninggalakê subåsitå.
Paribasanê wóng kang baút ngadisarirå, åjå múng kalimpút êdiníng busånå baê, nangíng bisowå tansah mêrsudi marang padhangíng sêmu lan manisíng wicårå tanpå nglírwakakê marang alús lan luwêsíng solah båwå.

ESENSI MAWAS DIRI
(Orang yang pandai membawa diri itu orang yang bisa menyatu, melebur, dan meleleh, memahami situasi dan kondisi, selaras dengan suasana disekelilingnya tanpa meninggalkan sopan santun. Peribahasanya orang yang pandai mempercantik diri, jangan hanya terfokus dengan keindahan pakaian saja. Namun dapatlah selalu berusaha bermuka ramah dan tutur kata manis tanpa meninggalkan perilaku yang lembut dan pantas)

Kaidah 3
Kêcandhakíng sawijiníng idham-idhaman iku ora cukúp múng dibandang móncèr lan pêpakíng ilmu lan kawrúh baê.
Nangíng ånå syarat siji kang ora kênå kalirwakakê, yaiku kapintêran ing bab sêsrawungan.
Såpå kang bisa tumindak ajúr-ajèr lan biså nuwúhakê råså rêsèp marang liyan, prasasat wis êntúk pawitan kanggo nandangi sakèhíng pagawêyan åpådênê nggayúh idham-idhamanê.

TIDAK HARUS HARTA
(Tercapainya suatu cita-cita tidak cukup hanya bermodalkan kemewahan dan lengkapnya ilmu dan pengetahuan saja. Namun ada satu syarat yang tak boleh ditinggalkan yakni kepandaian dalam bergaul. Siapa yang bisa beradaptasi dan dapat menumbuhkan rasa tenteram kepada orang lain, sebenarnya sudah mendapat modal untuk melaksanakan banyak pekerjaan dan menggapai cita-citanya)

Kaidah 4
Nindakakê kabêcikan mono ora mêsthi kudu cucúl wragad, nanging biså ditindakakê sarånå pakarti-pakarti liyanê sing sêjatinê akèh bangêt caranê.
Saugêr biså gawê sênênging liyan, upamanê baê måwå ulat sumèh tangkêp srawúng kang sumanak, bisa manjíng ajúr-ajèr ing madyaníng bêbrayan, lan biså dadi patuladhan laku utåmå.
Kabèh mau klêbu êwóníng tindak kabêcikan kang ajinê nglêluwihi wragad dêdånå kang diwènèhakê utåwå dipotangakê, apamanèh lamún anggónê mènèhi utåwå ngutangi iku sinamudånå kêbak pamríh.

LEBIH BERHARGA DARIPADA EMAS PERHIASAN
(Melakukan kebaikan tidak harus mengeluarkan beaya, namun dapat dilakukan dengan perbuatan-perbuatan lain yang sebenarnya banyak sekali caranya. Asal bisa membuat senang dan tenteram orang lain, umpama saja dengan bermuka ramah serta bergaul dengan hangat, bisa beradaptasi di tengah pergaulan, dan dapat menjadi percontohan perilaku yang utama. Semua itu termasuk berbuat kebaikan yang nilainya melebihi sedekah harta yang diberikan ataupun yang dipinjamkan, apalagi disertai dengan pamrih)

Kaidah 5
Yèn kowê arêp rêmbugan, pikirên luwih dhisík têtêmbungan síng arêp kók wêtókakê. Åpå wís ngênggoni têlúng prêkårå : bênêr, manís, migunani.
Êwå sêmono síng bênêr iku isih pêrlu dithinthingi manèh yèn gawê gêndranê liyan prayogå wurúngnå.
Dênê têmbúng manís mono ora duwê pamríh, pamrihê biså gawê sênêngê liyan kang tundhónê migunani tumrapê jagadíng bêbrayan.

BICARALAH YANG BENAR, MANIS, BERMANFAAT
(Bila kamu akan berembug, pikirkan terlebih dulu kata-kata dan kalimat yang akan kamu ucapkan. Apakah sudah memperhatikan 3 kaidah penting; benar, manis, bermanfaat. Walau begitu, yang benar itu masih perlu ditimbang lagi, jika mengakibatkan masalah untuk orang lain lebih baik urungkan. Lain halnya dengan tutur kata manis, tidak punya pamrih, pamrihnya hanya dapat membuat bahagia orang lain, akhirnya bermanfaat untuk kehidupan bersama)

Kaidah 6
Sugíh ómóng kanggo nggayêngakê pasamuwan pancèn apík.
Nangíng ngómóng múng golèk suwurê awakê dhêwê sók kêtrucút miyak wêwadinê dhêwê.
Pirå baê cacahê wóng kang kêplèsèt uripê múng margå sukå anggónê sugíh ómóng.
Mulå sabêcik-bêcikê wóng iku ora kåyå wóng kang mênêng.
Nangíng mênêngê wóng kang darbê bóbót kang antêb síng biså dadi panjujuganê pårå pawóngan kang mbutúhakê rêmbúg lan pitudúh.

TIDAK SETIAP DIAM ITU EMAS
(Banyak bicara untuk menghidupkan suasana pertemuan memang baik, namun bicara hanya untuk mencari perhatian dan simpati pada diri sendiri, akan sering lepas kontrol dan membuka aib diri sendiri. Sudah seberapapun orang terpeleset hidupnya hanya gara-gara gemar membual. Maka sebaik-baiknya orang itu bukan seperti orang yang diam, namun diamnya orang yang memiliki bobot yang dapat menjadi tempat yang tepat bagi orang yang membutuhkan nasehat dan petunjuk)

Kaidah 7
Ing jagadíng sêsrawungan mono nyirík marang sêsipatan kang gumêdhê lan wêwatakan kang tansah ngêgúngakê dhiri.
Sipat lan wêwatakan mau adhakanê banjúr nuwúhakê råså ora lilå yèn nyipati ånå liyan síng luwíh katimbang dhèwèkê.
Mulå saibå bêcikê samångså såpå kang rumangsa pintêr dhêwê, sugíh dhêwê, lan kuwåså dhêwê iku gêlêma nglaras dhiri lan nglêrêmakê cíptanê kang wêning, yèn sêjatinê isíh ånå manèh kang Måhå Pintêr, Måhå Sugih, lan Måhå Luhúr.
Klawan mangkono råså pangråså dumèh lan takabúr kang dadi sandhungan pasrawungan biså sumingkír.

MERASA DIRI PALING ADALAH PINTU KEHANCURAN
(Dalam dunia pergaulan seyogyanya menghindari sifat sombong dan watak yang selalu membesar-besarkan diri sendiri. Sifat dan watak tersebut biasanya menimbulkan perasaan tidak rela jika menemukan orang lain yang lebih dari dirinya. Maka alangkah baiknya bilamana siapapun yang merasa paling pinter, paling kaya, dan paling berkuasa hendaklah mengendapkan hati, mengheningkan cipta, bahwa sebenarnya masih ada lagi yang Maha Pandai, Yang Maha Kaya, Yang Maha Tinggi. Dengan begitu sikap mentang-mentang dan takabur yang menjadi batu sandungan dalam pergaulan akan menyingkir).

Kaidah 8
Luwih bêcík makarti tanpå sabåwå kang anjóg marang karahayóníng bêbrayan, katimbang tumindakê wóng kang rêkanê nindakakê panggawê luhúr nangíng disambi udúr.
Yêktinê tåtå têntrêm iku ora bakal biså kagayúh yèn tå ora adhêdhasar kêrukunan, dênê kêrukunan iku múng biså kêcandhak yèn siji lan sijinê pådhå biså aji-ingajènan lan móng-kinêmóng.

KASIH SAYANG ADALAH KUNCI KESUKSESAN
(Lebih baik bekerja tanpa perilaku yang dapat merusak keharmonisan pergaulan, daripada tindakan orang yang maksudnya melaksanakan perbuatan mulia tetapi sambil bertengkar. Sebenarnya ketentraman itu tidak akan terwujud bila tanpa didasari kerukunan, sedangkan kerukunan itu hanya bisa diciptakan jika satu sama lain saling hormat menghormati dan asih-mengasihi).

Kaidah 9
Yèn atimu wis gilíg arêp gawé kabêcikan kanggo karaharjaníng bêbrayan, bêratên råså uwas marang pandakwå ålå kang ora nyåtå. Srananånå kanthi jêmbaríng dhådhå lan sabaríng nålå, amríh bisa nuwúhaké gêdhéníng prabåwå lan cabaríng sakèhíng piålå.

MENGATASI TUDUHAN BURUK
(Bila hatimu sudah bertekat bulat akan berbuat kebaikan untuk kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat, jangan hiraukan kekhawatiran akan tuduhan buruk yang tidak benar. Landasilah dirimu dengan dada yang lapang, hati yang sabar, supaya dapat menumbuhkan besarnya wibawa dan sirnanya semua keburukan)

Kaidah 10
Wicårå kang wêtuné kanthi tinåtå runtút kang awujúd sêsulúh kang amót piwulang bêcík, ajiné pancèn ngungkuli mas picís råjåbrånå, biså nggugah budi lan nguripaké pikír. Nangíng kawuningånå yèn grêngsênging pikír lan uripíng jiwå iku ora biså yèn múng kagugah sarånå wicårå baé.
Kang wigati yaiku wicårå kang måwå tandang minångkå tulådhå.
Jêr tulådhå mono síng biså nuwúhaké kapitayan.
Luwíh-luwíh mungguhíng pårå manggalaníng pråjå kang wís pinracåyå ngêmbani nuså lan bångså.

NASEHAT TERBAIK ADALAH PERBUATAN
(Tutur kata yang keluar secara tertata runtut yang berupa nasehat tentang ajaran yang baik, nilainya memang melebihi emas perhiasan, dapat menggugah budipekerti dan menghidupkan fikiran. Tapi perhatikanlah, bahwa semangat berfikir dan hidupnya jiwa itu tidak dapat hanya sekedar dibangun melalui tutur kata saja. Yang lebih penting yakni tutur kata yang dibarengi perbuatan sebagai suri tauladan)

Kaidah 11
Luwíh bêcík ngasóraké rågå tinimbangané ngóngasaké kapintêran kang sêjatiné isíh nguciwani bangêt.
Ngóngasaké kapintêran iku satêmêné múng kanggo nutupi kabodhowané, jêr kabèh mau mêrga råså samar lan was sumêlang yèn ta kungkulan déníng sapêpadhané.
Tindak mangkono mau malah dadi sawijiníng godhå kang múng bakal ngrêrêndhêti lakuníng kêmajuwané dhéwé ing jagadíng bêbrayan.

CIRIKHAS ORANG LEMAH GEMAR UNJUK DIRI
(Lebih baik bersikap merendah daripada unjuk kepandaian yang kenyataannya masih mengecewakan sekali. Unjuk kepandaian itu sesungguhnya hanya untuk menutupi kebodohannya, semua itu karena perasaan khawatir dan was-was pabila ada orang lain yang mengunggulinya. Tabiat seperti itu menjadi salah satu godaan yang hanya akan menghambat kemajuannya sendiri dalam pergaulan).

Kaidah 12
Såpå wóngé síng ora sênêng yèn éntúk pangalêmbånå. Nangíng thukulíng pangalêmbånå iku ora gampang.
Kudu disranani kanthi pakarti kang bêcik lan murakabi marang wóng akèh.
Yèn múng disranani båndhå, pangalêmbanané múng kandhêg ing lambé baé ora tumús ing ati.
Déné yèn disranani pênggawé kang lêlamisan, ing pamburiné malah bakal kasingkang-singkang kasingkíraké såkå jagadíng pasrawungan.

MANAJEMEN PUJIAN
(Siapa yang tidak suka jika mendapat pujian. Tetapi tumbuhnya pujian itu tidak mudah. Harus ditempuh melalui perbuatan yang baik dan bermanfaat buat orang banyak. Jika hanya ditempuh dengan harta, pujian hanya sampai di bibir saja tidak menyentuh di hati. Jika ditempuh dengan perbuatan demi pamrih, di belakangnya hari akan tersingkir dan disingkirkan dalam pergaulan).

Kaidah 13
Généyå akèh wóng kang dhêmên nyatur alaníng liyan lan ngalêmbånå awaké dhéwé? Sêbabé ora liya margå wóng-wóng síng kåyå ngono mau ora ngêrti yèn pênggawé mau klêbu pakarti kang ora prayogå, mula prêlu dingêrtèkaké.
Awít yèn ora énggal-énggal nyingkiri pakarti kang ora bêcík mau, wusanané dhèwèké kang bakal diêmóhi déníng pasrawungan.

TABIAT BURUK PALING POPULER
(Kenyataannya banyak orang yang suka mencela orang lain dan memuji diri sendiri ? Sebabnya tidak lain karena orang-orang seperti itu tidak peduli bila perbuatan itu termasuk watak yang tidak terpuji, makanya perlu diperingatkan. Sebab bila tidak segera menghindari watak yang tidak baik itu, berakibat dia sendiri akan dijauhi dalam pergaulan).

Kaidah 14
Nggayúh kaluhuran liré ngupåyå tataraníng uríp kang luwih dhuwúr.
Dhuwúr laír lan batiné, ya tumrap dhiri pribadiné ugå sumrambah kanggo karaharjaníng bêbrayan.
Nangíng yèn kandhêg salah siji, têgêsé gothang.
Yèn múng nêngênaké kaluhuraníng laír gênah múng ngoyak drajat lan sêmat, isíh miyar-miyur gampang kênå pangaribåwå såkå njåbå.
Yèn ngêmúngaké kaluhuraníng batín, cêtha ora nuhóni jêjêríng manungsa, awít ora tumandang ing gawé kanggo kêpêrluwaníng bêbrayan.
Atêgês tanpå gunå diparingi uríp ing alam donya.

PRINSIP KESEIMBANGAN LAHIR-BATIN
(Menggapai keluhuran artinya berupaya meraih tataran hidup yang lebih tinggi. Luhur lahir dan batinnya, bermanfaat untuk diri sendiri juga berguna untuk keharmonisan dalam pergaulan. Namun bila mandeg salah satunya, artinya pincang. Bila hanya mengutamakan keluhuran lahir sama halnya mengejar derajat dan pangkat, mudah goyah (plin-plan) mudah terpengaruh oleh kemewahan dari luar. Bila menyepelekan keluhuran batin saja, jelas tidak mematuhi hakekatnya sebagai manusia, karena tidak mengindahkan kaidah pergaulan. Berarti tiada guna hidup di dunia).

Kaidah 15
Sing såpå rumangsa nduwèni kaluputan, åjå isín ngowahi kaluputan sing wís kadhúng katindakaké mau.
Jêr ngakóni kaluputan mono wís cêthå dudu tindak kang asór, nangíng malah nuduhaké marang pakarti kang utåmå kang ora gampang linakónan déníng sadhêngah wóng.
Iyå wóng kang wis biså nduwèni watak gêlêm ngakóni kaluputané mangkéné iki pantês sinêbút wóng kang jujúr sartå kasinungan ing budi luhúr.

KEJUJURAN ADALAH ANUGRAH
(Barangsiapa merasa memiliki kesalahan, jangan malu merubah kesalahan yang sudah kadung terjadi. Sedangkan mengakui kesalahan sudah jelas bukan perbuatan hina, namun malah menunjukkan watak yang utama yang tidak mudah dilakukan sementara orang. Orang yang sudah memiliki watak bersedia mengakui kesalahannya adalah pantas disebut orang yang jujur serta mendapat anugrah menjadi orang yang luhur budi pekertinya.

Kaidah 16
Manungså uríp iku dibiså nguwasani kamardikaníng laír lan batín.
Kang dikarêpakê kamardikaníng laír iku wujudê biså nyukupi kabutuhaning uríp ing sabên dinanê såkå wêtuning kringêt lan wóhíng kangèlan dhêwê ora gumantúng ing wóng liyå lan ora dadi sangganíng liyan.
Dênê kamardikaníng batín iku dicakakê sarånå nyingkiri håwå napsu, adóh såkå asór lan nisthaníng pambudi, sêpi ing råså mêlík lan drêngki srèi, sartå tuhu marang paugêran uríp bêbrayan.

SUBSTANSI KEMERDEKAAN
(Manusia itu hidup sebisanya menguasai kemerdekaan lahir dan batin. Kemerdekaan lahir artinya dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari hasil dari keringat sendiri, dan hasil dari jerih payah sendiri tidak tergantung pada orang lain, serta tidak menjadi beban bagi pihak lain. Sedangkan kemerdekaan batin adalah dengan cara menyingkirkan hawa nafsu, jauh dari kehinaan dan kenistaan budi pekerti, tiada berpamrih dan iri dengki, serta setia dan patuh kepada kaidah kerukunan hidup).

Kaidah 17
Yèn kêpéngín diajèni liyan, mulå åjå sók dhêmên martak-martakaké, åpå manèh nganti mamèraké kabisan lan kaluwihanmu.
Pangaji-ajiníng liyan iku sêjatiné ora pêrlu mbók buru, bakal têkå dhéwé. Nudúhaké kêwasisan pancèn kudu bisa milíh papan lan êmpan.
Mulå kang prayoga kêpårå purihên åjå kóngsi wóng liyå biså njajagi.
Nangíng mångså kalané ngadhêpi gawé parigawé kêconggah mrantasi.

RAHASIAKAN KEBISAAN
(Apabila ingin dihormati sesama, jangan suka berkoar-koar, apalagi sampai pamer kebisaan dan kelebihanmu. Penilaian orang lain (padamu) sesungguhnya tidak perlu kamu kejar, karena akan datang dengan sendirinya. Menunjukkan kepandaian memang harus bisa melihat situasi dan kondisi. Maka seyogyanya rahasiakan jangan sampai orang lain dapat menjajagi. Namun pada saatnya menghadapi pekerjaan berhasil menuntaskan).

Kaidah 18
Åjå sók ngluputaké, gêdhéné ngundhat-undhat wóng liyå, samångså kitå ora katêkan åpå kang dadi kêkarêpan kitå.
Bêciké kitå tliti lan kitå golèki sêbab-sêbab ing badan kita dhéwé, amrih kitå biså uwal såkå dayaníng pangirå-irå kang ora prayogå.
Kawruhana, yèn usadané watak apês síng njalari nganti ora katêkan sêdyå kitå iku, ora ånå liya, yå dumunúng ånå ing awak kita dhéwé.

KAMBING HITAM ITU TAK PERNAH ADA
(Jangan suka menyalahkan, bahkan mengungkit-ungkit orang lain, pada saat tidak kesampaian apa yang menjadi kehendak kita. lebih baik kita teliti dan carilah apa yang salah dengan diri kita, supaya kita bisa lepas dari pengaruh prasangka buruk. Ketahuilah, bahwa kelemahan dan kekurangan yang menyebabkan kegagalan harapan kita itu tidak lain berada pada diri kita sendiri)

Kaidah 19
Arang wóng síng bisa mapanaké råså narima marang åpå baé kang wís klakón digayúh. Yèn rumangsa kurang isíh golèk wuwúh, yèn wís olèh banjúr golèk luwíh, yèn wís luwíh tumuli mbudidåyå åjå ånå wóng síng biså madhani.
Wóng kang duwé råså mangkono mau satêmêné mêmêlas.
Uripé tansah ngångså-ångså, ora naté sumèlèh atiné.
Kanggo nuruti råså kang klèru kasêbút sók-sók banjúr tumindak ora samêsthiné lan nalisír såkå pakarti kang bênêr.

PENDERITAAN SEPANJANG MASA
(Jarang ada orang yang merasa puas pada apa yang sudah dapat berhasil dicapai. Bila merasa kurang masih akan menambah, jika telah mendapatkan lantas mencari lebihnya, bila sudah berlebih lantas berupaya agar jangan ada orang lain yang bisa menyamai. Orang yang bertabiat demikian sesungguhnya sangat kasihan. Hidup selalu memaksakan diri, hatinya tidak pernah tenteram. Untuk menuruti watak yang buruk itu kadangkala bertindak tidak semestinya dan meleset dari watak yang benar)

Kaidah 20
Watak narimå mono yêkti dadi sihíng Pangéran, nangíng yèntå nganti klèru ing panyuråså biså nuwúhaké klèruníng tumindak.
Narimå, liré ora ngångså-ångså nangíng ora kurang wêwékå lan tansah mbudidåyå amríh katêkaning sêdyå, dudu atêgês kêbacút lumúh ing gawé, suthík ihtiyar.
Awít yèn mangkono ora jênêng narimå, nagíng kêsèt. Jêr watakíng wóng kêsèt iku múng gêlêm énaké êmóh rêkasané, gêlêm ngêmplók suthík tómbók, satêmah dadi wóng ora wêrúh ing wirang, siningkiraké såkå jagadíng bêbrayan.

SIKAP MENERIMA BUKANLAH MALAS
(Watak menerima tentu menjadi kekasih Tuhan, namun apabila sampai keliru memahaminya bisa menimbulkan kesalahan dalam bertindak. Menerima, artinya tidak melebihi batas kemampuan tetapi tidak kurang akal dan selalu memberdayakan diri supaya tercapailah cita-cita. Menerima bukan dimaksudkan sebagai tidak mau kerja dan enggan berusaha. Karena yang seperti ini bukanlah arti menerima, melainkan malas. Wataknya pemalas itu hanya mau enaknya saja, tidak mau jerih payahnya, bersedia makan tidak mau modal, sepantasnya lah menjadi orang yang tidak tahu malu, disingkirakn dalam pergaulan).

Kaidah 21
Wóng uríp ing alam bêbrayan iku yêkti angèl, kudu biså ngêrèh pakóné “si aku”, åjå nggugu karêpé dhéwé lan nuruti håwå napsu.
Luwíh-luwíh ing dinå samêngko, alam bêbrayan donyå tansah kêbak pradhóndhi, silíh ungkíh, rêbutan bênêré dhéwé-dhéwé.
Mulå síng baku, wóng uríp kudu biså miyak alíng-alíng kang nutupi pikiran kang wêníng. Liré, sênajanå sajroníng pasulayan, kudu bisa nyandhêt kêmrungsung “si aku” istingarah sakèhíng bédané panêmu biså disawijèkaké.

KE-AKU-AN MENJADI SUMBER KONFLIK
(Hidup dalam kerukunan masyarakat itu memang sulit, harus bisa meredam ke-aku-an, jangan semaunya sendiri dan menuruti hawa nafsu. Terlebih lagi di kelak kemudian hari, dunia pergaulan internasional penuh persoalan, perselisihan silih berganti, berebut benarnya sendiri. Yang paling penting dalam menjalani hidup harus bisa membuka penghalang yang menutup kesadaran fikir. Maksudnya, walaupun dalam perselisihan, harus bisa menahan gejolak ke-aku-an, berikhtiyar agar perbedaan pendapat bisa disatukan).

Kaidah 22
Wóng kang nduwèni watak tansah njalúk bênêré dhéwé iku adaté banjúr kathukulan bêndånå sênêng nênacad lan ngluputaké marang panêmu sartå tindak tanduké wóng liyå. Méndah bêciké yèn wóng síng kåyå mangkono mau kålå-kålå gêlêm nggraitå ing njêro batiné : “mbók mênåwå aku síng klèru, mulå cobå dak tlitiné klawan adíl såpå kang sêjatiné nyåtå-nyåtå bênêr”.

CIRIKHAS INGIN MENANGNYA SENDIRI
(Orang yang mempunyai watak selalu ingin mencari menangnya sendiri itu, tumbuh kebiasaannya buruk senang mencela dan menyalahkan pendapat serta tindak tanduk orang lain. Sangatlah bagus bilamana orang seperti itu kadangkala bersedia mencermati dalam batinnya; jangan-jangan aku yang keliru, maka coba aku teliti secara adil siapa yang sesungguhnya jelas-jelas benar)

Kaidah 23
Rêsêpíng omah iku ora dumunúng ing barang-barang méwah kang larang rêgané, nangíng gumantúng marang panataníng prabót kang prasåjå, sartå pêmasangé rêrênggan kang adóh såkå watak pamèr.
Sêmono ugå rêsêpíng salirå iku ora margå såkå pacakan kang èdi-pèni, nangíng gumantúng ing sandhang pênganggo kang prasåjå, trapsilå solah båwå, lan padhanging polatan.

KUNCI DARI KEINDAHAN
(Keindahan rumah itu bukan terletak pada barang-barang mewah yang mahal harganya, namun tergantung pada penataan perabot yang tidak norak, serta pemasangan hiasan yang jauh terkesan pamer. Begitu pula keindahan diri pribadi itu bukan karena berasal dari tata rias yang indah dan cantik, tapi tergantung pada pakaian yang tidak berlebihan, perilaku yang sopan berwibawa, dan raut wajah yang bersinar)

Kaidah 24
Yèn kowé kêpênêr lagi srêngên lan nêsu, prayogané wóng síng kók nêsóni lan kók srêngêni mau kóngkónên énggal sumingkír.
Utåwå kowé dhéwé sumingkirå sauntårå, aja têtêmónan karo wóng liya.
Sabanjuré mênêngå lan étúng-étúngå kanthi sarèh wiwít siji têkan sêpulúh.
Klawan mêngkono atimu bakal bisa nimbang-nimbang åpå nêsu lan srêngênmu marang wóng mau bênêr, åpå malah dudu kowé dhéwé síng lupút.

KIAT MEREDAM AMARAH
(Bila kamu kebetulan sedang emosi dan marah, seyogyanya orang yang kamu marahi tadi suruhlah segera menyingkir. Atau kamu sendiri menyingkirlah sementara, (sementara) jangan bertemu dengan orang lain. Setelah itu diamlah dan hitunglah dengan tenang mulai dari satu sampai sepuluh. Dengan cara begitu hatimu bakal bisa menimbang apakah kemarahanmu pada orang tadi benar, apa bukan kamu sendiri lah yang salah ?)

Kaidah 25
Jênêng tanpå gunå uripíng manungså kang nganti ora biså nyumurupi marang kang kêdadéyan ing sakiwå têngêné.
Ora biså asúng lêlimbangan lan pamrayogå sakadharé kanggo karahayóníng bêbrayan.
Rupak pandêlêngé ora ånå liyå kang disumurupi kajåbå uripé dhéwé.
Mati pangrasané, jalaran ora kulina kanggo ngrasak-ngrasakaké kang katón ing sabên dinané, wusana dadi cêthèk budiné, jalaran såkå kalêpyan marang têpå palupi kang maédahi ing uripé.

TRAGEDI KEMATIAN PERASAAN
(Adalah hidup tiada guna bagi orang yang tidak mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya. Tidak bisa memberikan imbal balik dan manfaat ala kadarnya untuk keharmonisan pergaulan. Mati perasaannya, disebabkan tidak terbiasa merasakan apa yang terjadi dalam sehari-harinya, sehingga membuat dangkal budi pekertinya, karena lalai akan rasa kepedulian yang berguna dalam hidupnya).

Kaidah 26
Åjå sók nyênyamah luputíng liyan, luwíh bêcík tudúhnå kaluputané kang malah biså ngrumakêtaké råså pasêduluran.
Éwå sêmono åjå nganti kowé kêsusu mbêcíkaké kêlakuwané liyan, yèn awakmu dhéwé rumångså durúng biså ngênggóni råså sabar lan têpa sêlirå.
Såpå kang wís ngêrti lan ngrumangsani marang sakèhíng dosané, iku sawijiníng wóng kang wís ngêrti marang jêjêríng kamanungsané, manungsa kang utåmå.

BAGAIMANA MENYIKAPI ORANG YANG DIANGGAP SALAH
(Jangan sering memojokan orang lain yang salah, lebih baik tunjukkan kesalahannya sehingga justru bisa mengakrabkan rasa persaudaraan. Walau begitu jangan sampai kamu terburu-buru membenarkan perbuatan orang lain, bilamana kamu sendiri merasa belum mampu mersikap sabar dan peduli sesama. Siapa yang sudah memahami dan menyadari semua dosanya, itulah orang yang sudah mengerti akan hakekat manusia, manusia yang utama).

Kaidah 27
Ajiníng manungså iku kapúrbå ing pakartiné dhéwé, ora kagåwå såkå katurunan, kapintêran, lan kasugihané.
Nangíng gumantúng såkå ênggóné nanjakaké kapintêran lan kasugihané, sartå matrapaké wêwatêkané kanggo kêpêrluan bêbrayan.
Kabèh mau yèn múng katanjakaké kanggo kapêrluwané dhéwé, tanpå paédah.
Nangíng yèn pakarti mau kadayan déníng råså pêpinginan golèk suwúr, golèk pangkat lan donya brånå, malah bisa dadi mêmalaníng bêbrayan, jalaran nyinamudana sarånå nylamúr migunakaké jênêngé wóng akèh.

OBYEKTIFITAS HARGA DIRI
(Harga diri manusia itu terbentuk oleh karena wataknya sendiri, bukan dibawa dari keturunan, kepandaian, dan kekayaannya. Namun tergantung dari cara menggunakan kepandaian dan kekayaannya, serta penerapan perwatakannya untuk pergaulan (tali persaudaraan. Semua itu bila hanya digunakan untuk keperluan pribadi saja, tiada bermanfaat. Tetapi bila watak tadi terdorong oleh keinginan mencari ketenaran, mencari pangkat dan kemewahan duniawi, justru dapat menjadi malapetaka dalam tali persaudaraan, karena mencari-cari kesempatan dengan cara menyamar mencatut nama orang banyak).

Kaidah 28
Ora ånå budi kang luwíh luhur saliyané nduwèni råså asíh marang nuså lan bangsané.
Kadunungan råså rumangsa nduwèni sêsanggêman lan kuwajiban mranåtå têntrêmíng pråjå kanthi pawitan kapintêran kang dilandhêsi kawicaksananing pambudi.
Tåndhå yêktiné yèn asíh, yaiku tansah samaptå tumandang sawayah-wayah yèn ånå parigawé kang wigati kanggo wargå sapådhå-pådhå, munggahé tansah samaptå lêladi kanggo kêslamêtaníng bêbrayan lan karaharjaníng nagårå.

KEMULIAAN PALING TINGGI
(Tiada budipekerti yang lebih mulia selain mencintai nusa dan bangsanya sendiri. Karena tumbuhnya kesadaran akan kewajiban menata ketentraman negara dengan modal kepandaian yang didasari kebijaksanaan budipekerti. Pertanda kesungguhan cintanya yakni selalu siap siaga sewaktu-waktu bilamana ada tugas yang sangat penting untuk sesama warga, hingga selalu siap siaga menjaga keselamatan persaudaraan dan kesejahteraan negara)

Kaidah 29
Wóng kang kêrêp tansah dipituturi wóng liya iku adaté bisa dadi wóng dhêmên ngati-ati, nangíng mênåwå kapêngkók ing pêrlu sók ora bisa tumindak lan ngrampungi dhéwé.
Kêpêkså isíh kudu nolèh wóng liya síng diwawas bisa awèh pitudúh.
Mulå kuwi prayogå ngawulåå marang ati lan kêkuwatanmu dhéwé, jalaran wóng liyå iku sêjatiné yèn ånå apa-apané múng sadêrmå nyawang, ora mèlu ngrasakaké.

TEMPAT MENGABDI PALING IDEAL
(Orang yang sering mendapat nasehat dari orang lain biasanya dapat menjadi orang yang suka berhati-hati, namun apabila terbentur suatu tanggungjawab justru tidak bisa bertindak dan menuntaskannya sendiri. Terpaksa masih harus menoleh-noleh orang lain yang dianggap dapat memberi petunjuk. Maka dari itu seyogyanya mengabdilah pada nurani dan kekuatanmu sendiri, sebab orang lain itu sesungguhnya bila terjadi apa-apa hanya bisa melihat saja)

Kaidah 30
Wóng kang rumångså dhiriné linuwíh, ing sawijiníng wêktu mêsthi bakal kasurúng atiné arêp mamèraké kaluwihané, liré amríh dimangêrtènånå déníng wóng akèh yèn dhèwèké mono wóng kang pinunjúl lan supåyå diajènånå.
Sumurupå, sakabèhíng kaluwihan mau yèn ora dicakaké måwå lêlabuhan kang murakabi marang bêbrayan, tanpå gunå kêpårå malah ora kajèn lan gawé pitunå.
Mula kang prayogå biså tulús dadi wóng kang linuwih mênåwå gêbyaríng kaluwihan iku múng dikatónaké marang batiné dhéwé, iku wís cukup.

KEPADA SIAPA BERPAMER KELEBIHAN
(Orang yang merasa dirinya lebih dari yang lain, pada suatu waktu hatinya akan terdorong memamerkan kelebihannya, supaya diketahui orang banyak bahwa dirinya mempunyai kelebihan dan supaya dihormati. Ketahuilah, semua kelebihan tadi bila tidak digunakan dengan pengorbanan yang bermanfaat untuk rasa persaudaraan, maka kelebihannya tiada berguna, bisa jadi justru membuat tidak dihormati dan mengakibatkan kesengsaraan. Maka idealnya jadikan buah ketulusan, walau betapapun hebat kelebihan itu hanya diperlihatkan kepada batinnya sendiri, itu sudah cukup)

Kaidah 31
Dêdånå utåwå sêdhêkah marang wóng kang lagi nyandhang påpå cintråkå iku sawijiníng pênggawé bêcík kang patút tinulådhå, saugêr pawèwèh mau ora kinanthènan panggrundêl kang nêlakaké ora éklasíng atiné.
Têtêmbungan kang lêmbah ing manah lan mêrak ati iku luwih gêdhé ajiné katimbang dêdånå kang ora éklas.
Suprandéné nulúng lan mènèhi pêpadhang marang jiwané wóng kang kacingkrangan iku kang sêjatiné luwih pêrlu lan wigati, katimbang múng têtulúng marang awaké kang awujúd kêlairan baé.
MENOLONG BELUM TENTU TERPUJI
(sedekah pada orang yang sedang berduka nestapa itu perbuatan terpuji, yang patut dijadikan tauladan, asalkan pemberian tersebut tidak dibarengi sikap ngedumel yang membuat pudar keikhlasan di hati. Kalimat dan tutur kata yang sopan santun, rendah hati dan melegakan hati itu lebih besar nilainya dari pada sedekah yang tidak ikhlas. Lebih dari itu menolong dan memberi pencerahan jiwa orang yang sedang mengalami musibah sesungguhnya lebih perlu dan penting daripada hanya menolong secara lahiriahnya saja)

Kaidah 32
Ulat sumèh, tindak-tandúk sarèh kinanthènan têmbúng arís iku biså ngruntúhaké ati sartå ngêdóhaké panggódhaning sétan.
Kósókbaliné watak wicårå kang kêras, kêjåbå kêduga gawé tanginíng kanêpsón, ugå gampang nuwúhaké salah panåmpå.
Sabarang prakårå kang sêjatiné bisa putús sarånå arís lan sarèh, kêpêksa dadi adu wulêding kulít lan atósíng balúng, kari si sétan ngguyu ngakak bungah-bungah.

JAGA INTONASI
(Muka ramah, tingkah laku tenang dibarengi ungkapan yang sopan dapat meruntuhkan hati serta menjauhkan godaan setan (hawa nafsu). Sebaliknya watak bicara keras, selain dapat membangkitkan amarah, juga mudah menimbulkan salah pengertian. Setiap perkara yang sesungguhnya bisa selesai dengan sarana kearifan dan ketenangan, terpaksa menjadi “beradu kuatnya kulit dan kerasnya tulang”, tinggal si “setan” katawa terbahak).

Kaidah 33
Wóng kang kulinå uríp mubra-mubru iku samangsané ngalami sandhungan uríp sêthithík baé adaté gampang kêthukulan gagasan lan gawé kang cêngkah karo bêbênêr, luwíh bêgjå wóng kang uripé pokal samadyå nangíng rêsík atiné.
Déné bêgja-bêgjané wóng iku ora kåyå wóng síng tansah uríp ing kahanan kang kêbak godhå rêncånå, prasasat tåpå ånå satêngahíng cobå, nangíng tansah tawêkal lan kandêl kêimanané marang adilíng Pangéran Kang Måhå Kuwåså.

BERSIH HATI MEMBAWA KEBERUNTUNGAN
(orang yang terbiasa hidup tak kenal aturan itu, sewaktu mengalami sedikit saja kesulitan hidup cenderung tumbuh gagasan dan kerjaan yang melawan peraturan, lebih beruntung orang yang hidupnya biasa-biasa saja namun bersih hatinya. Sedangkan seberuntung-beruntungnya orang seperti itu tidak seperti orang yang selalu hidup dalam keadaan yang penuh kebatilan dan angkara, sama halnya bertapa di tengah-tengah cobaan, namun selalu tawakal dan tebal keimanannya kepada keadilan Tuhan Yang Mahakuasa)

Kaidah 34
Sipaté wóng uríp, iku mêsthi kêsinungan kêkuwatan.
Kang ngêrti biså ngêcakaké, déné kang ora biså ngêrti kurang digladhi, têmahan ora tumanja. Éwåsémono ngêmpakaké kêkuwatan mula ora gampang.
Buktiné ora sêthithík kêkuwatan kang êmpané ora mapan.
Kawruhana, yèn rusaké bêbrayan ing antarané margå såkå pakartiné pårå-pårå kang ngêrti marang dayaníng kêkuwatané nangíng ora kanggo nggayúh gêgayuhan kang mulyå, múng kanggo nuruti dêrênging ati angkårå.

KELOLA KEKUATAN
(Sifatnya orang hidup itu pasti mendapat anugrah kekuatan. Yang sudah paham bisa mempergunakannya, sebaliknya yang belum bisa mengerti kurang diajari, maka tidak akan berguna. Namun begitu menggunakan kekuatan tidaklah mudah. Buktinya tidak sedikit kekuatan yang digunakan tidak tepat. Ketahuilah, bila rusaknya kerukunan di antaranya karena watak para-para yang memahami daya kekuatannya, namun tidak dimanfaatkan untuk menggapai cita-cita yang mulia, hanya untuk menuruti dorongan hati angkara)

Kaidah 35
Katrêsnan kang tanpå pangrêksa iku dudu sêjatiníng katrêsnan.
Kênå diarani sêjatiníng katrêsnan kang múng kadêrêng lan kêna ing pangaribawaníng håwå napsu.
Dadi yèn ånå unèn-unèn ” trêsnå iku wutå” yaiku síng kaprabawan håwå napsu.
Síng prayogå iku mêsthiné kudu ngugêmi unèn-unèn “trêsnå iku rumêkså” biså salaras tumindaké.
Rasaníng katrêsnan kang cêdhak dhéwé tumrap sadhêngah manungså iku dumunúng ing awaké dhéwé.
Mulå såpå kang trêsnå marang sapådhå-pådhå iku aran trêsnå marang awaké dhéwé, tundhóné såpå kang tansah ngrêkså marang karahayóníng liyan, ora bédå karo pangrêkså marang kêslamêtané dhéwé.

HAKEKAT CINTA
(Cinta kasih tidak disertai sikap merawat dan menjaga bukanlah sesungguhnya cinta kasih. Dapat disebut cinta kasih yang hanya menuruti hawa nafsu. Terdapat kalimat “cinta itu buta” yakni cinta yang tercemar hawa nafsu. Idealnya harus memegang pepatah “cinta itu memelihara” dapat sejalan dengan tindakan nyata. Rasa cinta yang paling dekat bagi manusia itu terletak dalam dirinya sendiri. Maka, barang siapa yang cinta kepada sesama itu sama halnya cinta pada diri sendiri, artinya siapa yang selalu menjaga dan memelihara keselamatan sesama, sesungguhnya menjaga keselamatan diri sendiri).

Kaidah 36
Srawúng ing madyaning bêbrayan iku kêjåbå kudu wasís milíh papan lan êmpan, ugå kudu bisa angón mångså lan mulat ing sêmu.
Åjå nggêgampang ngrójóngi rêmbúg kang kowé dhéwé durúng ngrêti prakarané.
Rêmbúg sêthithík nanging mranani iku nudúhaké bóbótíng pribadi.
Rêmbúg akèh nangíng ampang malah gawé sånggå rungginé síng pådhå ngrugókaké kêpårå njuwarèhi.

BAGAIMANA CARA MENCAMPURI URUSAN ORANG LAIN
(Bergaul dalam bermasyarakat selain harus pandai memilih tempat dan suasana, juga pandai menempatkan waktu dan mawas diri. Jangan menggampangkan mencampuri urusan orang lain sementara kamu sendiri belum mengerti permasalahannya. Lebih baik, bicara sedikit namun mengenai sasaran, itu menunjukkan kualitas pribadi. Pendapat yang panjang lebar tetapi tidak berbobot justru membuat bingung yang mendengar bahkan dapat menjemukan)

Kaidah 37
Wóng kang wís têkan pêsthiné utåwå wis katimbalan bali mênyang jaman kêlanggêngan iku sêjatiné lagi kênå diwènèhi biji tumrap ajiné kamanungsané lan pakartiné nalikå uríp. Déné wóng kang isíh pådhå uríp iku pêrlu disêmak baé dhisík, durúng kênå dipatrapi biji, jêr kahanané isih bisa owah gingsír.
Sarèhné manungså iki sawijiníng titah kang luhúr dhéwé, mulå wís samêsthiné yèn kitå åjå nganti kayadéné sato kang patiné múng ninggal têngêr lulang lan balúng baé.
Nangíng bisowå kita nanjakaké uríp kitå marang pakarti-pakarti utåmå, sumrambahé marang karahayóning uríp bêbrayan.

BAGAIMANA HARUS MENILAI ORANG
(Bila ajal telah tiba, atau sudah “dipanggil” Tuhan kembali ke zaman keabadian, sesungguhnya baru dapat diberikan nilai kemanusiaan dan perbuatannya sewaktu hidup di dunia. Sedangkan orang-orang yang masih hidup sebaiknya disimak dulu saja, karena belum dapat dinilai, sebab keadaannya masih dapat berubah-ubah. Walaupun kodrat manusia merupakan makhluk yang paling mulia, maka sudah seharusnya kita menjaga jangan sampai seperti binatang, kematiannya hanya meninggalkan bekas kulit dan tulang saja. Namun kita harus berupaya memanfaatkan hidup untuk kelangsungan hidup bermasyarakat).

Kaidah 38
Mustikané wóng tuwå marang anak múng ånå ing laku kang gumati, gunêm kang rurúh, lan ujar kang manís.
Gumatiné dumunúng ing têpå tuladhaníng tingkah laku.
Gunêm lan ujar kawêngku ånå ing ucap kang istingarah numusi kajiwan, lan luhuríng budi pêkêrti.
Mula yèn ånå åpå-åpå, åjå sêlak marang sêbutíng paribasan : “Ora ånå kacang ninggal lanjaran”.

APA YANG PALING BERNILAI PADA DIRI ORANG TUA
(Mustika orang tua kepada anak berupa perilaku sayang kepada anak, kalimat yang menentramkan, tutur kata yang manis. Kasih sayang yang terletak pada perilaku yang utama, menjadi suritauladan. Kalimat dan tutur kata terletak pada ucapan yang menentramkan hati, merasuk mencerahkan ke dalam jiwa, serta dengan keluhuran budi pekerti. Oleh sebab itu, bila terjadi apa-apa yang tidak diharapkan, jangan keburu menyatakan “ora ono kacang ninggal lanjaran” atau tidak ada anak yang tidak meniru orang tuanya).

Kaidah 39
Nanggapi kahanan urip ing satêngahíng bêbrayan iku gampang angèl.
Aran angèl kêpårå malah bisa gawé kêtliwênging pikír samångså anggón kita mawas kêdhisikan kagubêl ing håwå.
Aran gampang yèn kita biså mikír klawan wêníng lan mênêb.
Iyå pamikír kang mênêb iku kang aran akal budi sêjati.
Kang bisa mbabaraké wóhíng wawasan kang mulús rêsík, ora kacampúran blêntóngé “si aku”.
Apamanèh yèn tå kitå biså têtêp nguwasani wêningíng pikír, nadyan kahanané uríp ing satêngahing bêbrayan kisruhå dikåyångåpå, istingarah ora angèl anggón kita nanggapi.

KEHENINGAN FIKIR
(Menaggapi kehidupan di tengah pergaulan masyarakat itu gampang-gampang susah. Susahnya karena dapat mebuat fikiran keblinger apabila dalam membangun sikap mawas diri sudah terbalut hawa nafsu. Mudahnya, apabila kita mampu berfikir dengan jernih dan menahan diri (mengendapkan emosi). Menahan diri merupakan akal budi sejati. Yang dapat menjabarkan buah dari wawasan yang bersih tanpa cacat, maksudnya tidak tercemar oleh noda ke-aku-an. Apalagi bila kita teguh menguasai kebeningan fikir, walaupun kehidupan bermasyarakat terjadi kekacauan, maka tidaklah sulit kita mensikapinya).

Kaidah 40
Srêngên marang wóng mono åjå nganti kênêmênên lan kêliwat-liwat múng margå wis ngêrti yèn wóng mau ora bakal wani nglawan utåwå wís ora biså nglawan, síng èstiné múng arêp ngêdír-êdíraké drajad pangkat utåwå kadibyané baé.
Pakarti kaya ngono mau kêjåbå klêbu ambêg siyå, ugå wóng síng disrêngêni durúng karuwan bakal dadi bêcík, kêpårå bisa nuwúhaké råså sêngít.
Kang prayogå iku srêngên samadyå kang mêngku pitutúr murih bêciké.

KEMARAHAN YANG BENAR DAN TEPAT
(Marah kepada seseorang jangan sampai keterlaluan dan kelewatan, hanya karena seseorang itu tidak bakal berani atau sudah tidak mampu melawan, padahal hanya karena mentang-mentang mendapat derajat pangkat yang tinggi saja. Tabiat seperti itu selain watak aniaya, begitupun orang yang dimarahi belum tentu menjadi baik, justru memungkinkan tumbuhnya rasa benci. Seyogyanya jika marah yang sewajarnya saja yang berisi nasehat supaya menjadi baik).

Kaidah 41
Wóng pintêr kang ora kinanthènan ing kautaman iku ora bédå karo wóng wutå kang nggåwå óbór ing wayah bêngi.
Madhangi wóng liyå nangíng dhèwèké dhéwé lakuné kêsasar-sasar.
Kapintêran mangkéné iki yèn tå dicakaké ing madyaning bêbrayan bakal nuwúhaké kapitunan, pikolèhé malah múng wujúd kasangsaran lan karusakan.

KEUTAMAAN BUDIPEKERTI ADALAH TIANG ILMU
(Orang yang pandai tetapi tidak disertai keutamaan perilaku dan budi pekerti, tidaklah berbeda dengan orang buta yang membawa obor di malam hari. Menjadi penerang orang lain, tetapi perilaku dirinya sendiri malah tersesat-sesat. Kepandaian semacam ini bila diterapkan di tengah kehidupan bermasyarakat akan menimbulkan kerugian, yang didapat hanyalah kesengsaraan dan kerusakan).

Kaidah 42
Síng såpå ngidham kaluhuran kudu wani kúrban lan ora wêgah ing kangèlan.
Mêrgå yèn tansah tidhå-tidhå, mokal åpå sing kagayúh bisa digånthå lan tangèh lamún åpå síng diluru bisa kêtêmu.
Makarti wani rêkåså kanthi masrahaké urip lan jiwå rågå marang Kang Múrbèng Kuwåså.
Yèn kêpingín mênang pancèn larang patukóné, yaiku kudu bisa nuhóni sêsanti: “Surå dirå jayaníngrat lêbúr déníng pangastuti”.

KEMENANGAN ITU MAHAL HARGANYA
(Barang siapa gemar keluhuran budi harus berani berkorban dan tidak enggan melewati kesulitan. Karena bila ragu-ragu, tidaklah mungkin apa yang diharapkan dapat terwujud, dan mustahil apa yang dicari bisa ketemu. Berani bekerja keras dengan dengan berserah diri jiwa dan raga kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Bila ingin menang memang mahal harganya, yakni harus dapat mematuhi peribahasa; “sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti”)

Kaidah 43
Isíh bêjå yèn kowé diunèkaké “Ora Lumrah Uwóng”, jalaran isíh dianggêp manungså.
Yå múng solah tingkahmu kang kudu kók owahi amríh ora gawé sêrikíng liyan.
Cilakané yèn diunèkaké “Ora Lumrah Manungså”, jalaran kowé dianggêp sétan gêntayangan síng múng dadi lêlêthêging jagad margå pakartimu kang ninggal sifat kamanungsan.
Mula énggal-énggala sumujudå marang Gusti Kang Múrbèng Dumadi.
Sifaté Gústi Allah mono sarwå wêlas asíh marang umaté kang wís sadhar marang doså-dosané sartå têmên-têmên bali tuhu marang dhawúh-dhawuhé.

MANUSIA TAK LAZIM
(Masih beruntung bila kamu dibilang “tidak lazimnya orang” sebab berarti masih danggap manusia. Hanya saja polah tingkah mu yang harus dirubah, agar tidak menimbulkan iri hati orang lain. Celakanya bila kamu dibilang “tidak lazimnya manusia” sebab kamu dianggap setan gentayangan yang mengotori jagad karena watakmu yang meninggalkan sifat kemanusiaan. Maka dari itu, segeralah bersujud kepada Tuhan Maha Pencipta.

Kaidah 44
Ora ånå pênggawé luwíh déníng múlya kêjåbå dêdånå síng ugå atêgês mbiyantu nyampêti kêkuranganing kabutuhané liyan.
Dêdånå marang sapêpådhå iku atêgês ugå mitulungi awaké dhéwé nglêlantih marang råså lilå lêgåwå kang ugå atêgês angabêkti marang Pangéran Kang Måhå Wikan.
Pancèn pangabêkti mono wís aran pasrah, dadi kitå ora ngajab marang baliné sumbangsih kang kitå asúngaké.
Kabèh iku síng kagungan múng Pangéran Kang Måhå Kuwåså, kitå ora wênang ngajab wóhíng pangabêkti kanggo kitå dhéwé.
Nindakaké kabêcikan kanthi dêdånå kita pancèn wajíb, nanging ngundhúh wóhíng kautaman kitå ora wênang.

HAKEKAT SEDEKAH
(Tiada perbuatan lebih mulia selain sedekah yang berarti membantu memenuhi kebutuhan orang lain. Sedekah kepada sesama berarti juga menolong diri sendiri, melatih diri merasa ikhlas dan lapang dada, yang berarti mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui. Mengabdi sama halnya dengan pasrah, kita tidak mengharap imbal-balik atas apa yang kita berikan. Semua itu yang punya hanyalah Tuhan Yang Mahakuasa. Kita tidak berhak berharap buah dari pengabdian untuk diri kita sendiri. Melakukan kebaikan dengan cara berderma (sedekah) adalah wajib, tetapi mengharap menuai buah dari kebaikan, kita tidaklah berwenang).

Kaidah 45
Mêmitran pasêduluran nganti jêjodhowan kuwi yèn siji lan sijiné biså êmóng-kinêmóng, istingarah biså sêmpulúr bêcík. Yèn ånå padudón sêpisan pindho iku wis aran lumrah, bisa nambahi rakêtíng sêsambungan. Nangíng suwaliké yèn pådhå angèl ngênggóni sifat êmóng-kinêmóng mau gênah långkå langgêngé, malah bédaníng panêmu sithík baé biså marakaké dhahuru.

KIAT KELANGSUNGAN RUMAH TANGGA
(Hubungan persaudaraan hingga berjodoh itu bila satu sama lainnya dapat saling membimbing, ikhtiyar dapat membangun kebaikan. Bila sekali dua kali terjadi pertengkaran itu masih lumrah, dapat menambah eratnya hubungan. Namun sebaliknya bila tak mampu membangun sikap saling membimbing maka jarang akan berlangsung selamanya. Malah, perbedaan sedikit saja akan menjadi sumber malapetaka).

Kaidah 46
Wóng kang ora naté nandhang prihatin ora bakal kasinungan råså pangråså kang njalari têkané råså trênyúh lan wêlas lahír batiné.
Wóng kang wís naté kêtaman ing prihatin luwíh biså ngrasakaké pênandhangé wóng liya. Mulå adhakané luwíh gêlêm awèh pitulungan marang kang kasusahan.

PRIHATIN MEMBANGUN SENSE OF HUMAN
(Orang yang tak pernah prihatin tidak akan terpilih menerima anugrah ketajaman perasaan yang menumbuhkan perasaan haru dan belas kasih lahir batin. Orang yang pernah menjalani prihatin lebih mampu merasakan penderitaan orang lain (empati). Biasanya mereka lebih peduli untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang kesusahan).

Kaidah 47
Sarupaníng wêwadi sing ålå lan sing bêcík, yèn isíh kók gémból lan mbók kêkêt kanthi rêmít ing ati salawasé isih bakal têtêp dadi batúr.
Nangíng yèn wís mbók kétókaké sathithík baé bakal dadi bêndaramu.
Isíh lagi nyimpên wêwadiné dhéwé baé wís abót.
Åpå manèh yèn nganti pinracåyå nggêgêm wêwadiné liyan.
Mulå såkå iku åjå sók dhêmên kêpingín mêruhi wêwadiné liyan.
Síng wís cêthå múng bakal nambahi sanggan síng sêjatiné dudu wajíbmu mèlu opèn-opèn.

BANYAK CARA MENUAI MASALAH
(Berbagai macam rahasia baik maupun buruk, bila masih kamu simpan rapat di dalam hati, selamanya masih akan tetap menjadi budak. Bila sudah kamu perlihatkan sedikit saja akan menjadi tuanmu. Menyimpan rahasia sendiri saja sudah berat. Apalagi bila sampai dipercaya menggenggam rahasia orang lain. Maka dari itu janganlah suka ingin mengetahui rahasia orang lain. Sudah jelas, hanya akan menambah beban yang sesungguhnya bukan kewajibanmu ikut-ikutan).

Kaidah 48
Sók såpåå bakal nduwèni råså kúrmat marang wóng kang tansah katón bingar lan padhang polatané, nadyan tå wóng mau nêmbé baé nandhang susah utåwå nêmóni pêpalang ing panguripané.
Kósókbaliné, wóng kang tansah katón suntrút kêrêp nggrundêl lan grênêngan mêrgå ora katêkan sêdyané iku cêthå bakal kóncatan kêkuwataníng batín lan tênagané, tangèh lamún éntukå pitulungan, kêpårå malah dadi sêsirikaníng mitra karuhé.

BERWAJAH RIANG SEKALIPUN SEDANG MENDERITA
(Siapapun akan merasa hormat, kepada orang yang selalu tampak riang gembira, meskipun orang itu baru mengalami kesusahan dan kesulitan dalam hidupnya. Sebaliknya orang yang selalu tampak kusut suka ngedumel dan sering ngomel karena keinginannya tak terwujud, itu jelas kekuatan batinnya dan tenaganya bakal sirna. Mustahil dapat pertolongan, terkadang malah jadi orang yang dibenci sekalipun oleh kerabatnya).

Kaidah 49
Kitå iki diparingi cangkêm siji lan kupíng loro déníng Kang Måhå Kuwåså, liré mêngku karêp amríh kitå iki kudu luwíh akèh ngrungókaké katimbang micårå.
Yêktiné wóng kang dhêmên ngumbar cangkêmé tinimbang kupingé iku adaté wicarané gabúg.
Suwaliké síng akèh ngrungókaké, wicarané sêthithík nangíng patitís lan mêntês.
Pantês dadi jujugané sadhêngah wóng kang mbutúhaké rêmbúg kang prayogå.

SILAHKAN; MAU BANYAK MENDENGAR ATAU BANYAK BICARA
(Kita diberi satu mulut, dua telinga, oleh Tuhan Mahakuasa. Maknanya, kita harus lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara. Sesungguhnya orang yang gemar mengumbar mulutnya ketimbang telinganya, seperti itulah watak orang yang bicaranya tak berisi. Sebaliknya, yang banyak mendengarkan, biasanya bicara sedikit namun tepat dan berbobot. Pantas menjadi tempat tujuan orang-orang yang membutuhkan nasehat (petunjuk) yang baik).

Kaidah 50
Wóng kang tansah dhêmên ngupíng kêpingín wêrúh, åpådéné nyampuri pêrkarané liyan, gêdhéné nganti nrambul urún ucap, iku pådhå karo golèk-golèk mómótan kang sêjatiné ora prêlu, adhakané kêpårå malah ngrêridhu awaké dhéwé.

PENYEBAB KEKALUTAN DIRI
(Orang yang selalu gemar menyadap ingin tahu, begitupula mencampuri perkara orang lain, hingga sampai ikut-ikutan berujar, hal itu seumpama mencari-cari muatan yang sesungguhnya tidak perlu, biasanya justru membuat kalut dirinya sendiri)

Kaidah 51
Ucap sakêcap kang kêlaír tanpå pinikír kêrêp baé nuwúhaké drêdah lan bilahi.
Mula wêtuné têmbúng satêmbúng såkå lésan iku prayogå tan udinên aja nganti nggêpók prêkarané wóng liyå, gêdhéné nganti gawé sérikíng liyan. Biså nyandhêt uculé pangucap kåyå mangkono mau wís klêbu éwóníng pakarti kang utåmå.
Nangíng généyå kók ora sabên wóng biså nglakóni ?

MULUTMU, HARIMAUMU
(Sepatah kata yang terucap tanpa dipikir lebih dulu, sering menimbulkan perpecahan dan celaka. Maka, keluarnya kalimat dalam sepatah dua patah kata dari mulut seyogyanya diupayakan jangan sampai menyinggung perkara orang lain, terlebih lagi membuat sakit hati orang lain. Sikap mampu mengendapkan kalimat dan tutur kata yang tidak baik, termasuk budi-pekerti yang mulia. Namun begitu, mengapa tidak setiap orang mau melakukannya?)

Kaidah 52
Wóng iku yèn wís kasókan kabêcikan lan rumangsa kapotangan budi, ing sakèhíng pakartiné lumrahé banjúr ora kêncêng lan rêsík.
Mulané tangèh lamún yèn biså njågå jêjêgíng adíl, awít lésané kasumpêtan, mripaté bêrêng, kupingé budhêg. Atiné dadi mati, angèl wêrúh ing bêbênêr.
Mulå såkå iku åjå gumampang nåmpå kabêcikané liyan, samångså tujuwané ngarah marang pênggawé kang nalisír såkå bêbênêr.

HATI-HATI MENERIMA KEBAIKAN ORANG
(Orang itu bila sudah berhasil menerima kebaikan dan merasa berhutang budi, wataknya di kemudian hari bisa berubah, menjadi tidak teguh dan bersih. Sehingga tak mampu menjaga tegaknya keadilan, sebab mulutnya tersumbat, matanya rabun, telinganya tuli. Hatinya menjadi mati, sulit melihat kebenaran. Maka dari itu jangan mudah menerima kebaikan orang, bila tujuannya mengarah pada perbuatan yang keluar dari kaidah kebenaran).

Kaidah 53
Åjå kasêlak kêsusu nyêpèlèkaké liyan, margå kók anggêp wóng mau bodho.
Awít ånå kalamangsané kowé mbutúhaké rémbúg lan pituturé wóng iku, síng kanyatané biså mbéngkas lan nguwalaké såkå karuwêtanmu.
Pancèn ing sawijiné bab wóng biså kaaran bodho, nangíng ing babagan liya tangèh lamún yèn kowé biså nandhingi.

HATI-HATI, TAK ADA KEBODOHAN UNIVERSAL
(jangan keburu meremehkan orang lain, (hanya) karena orang itu kamu anggap bodoh. Sebab ada kalanya kamu membutuhkan jasa dan nasehat orang itu, yang kenyataannya dapat menyelesaikan dan mengatasi masalahmu. Memang dalam suatu hal seseorang dapat dianggap bodoh, tetapi di lain hal tak mungkin anda dapat menandinginya).

Kaidah 54
Yèn micårå åjå gumampang nêlakaké pênacad utawa pangalêm, luwíh-luwíh nganti mêmaóni.
Awít wicaramu durúng karuwan bênêr.
Síng mêsthi panacad mau gawé sêrík, pangalêmé nuwúhaké wiså, déné waónané ora digugu, kabèh swårå ålå.
Mulå kang prayogå iku múng mênêng, jalaran mênêng iku yêktiné pancèn mustikaníng ngauríp.

SILAHKAN PILIH; BANYAK OMONG ATAU DIAM
(Jika bicara jangan mudah mencela dan menyanjung orang, apalagi sampai nasehat menggurui. Karena ucapanmu belum tentu benar adanya. Yang pasti, pencelaan berakibat sakit hati, dan sanjungan dapat menimbulkan bisa (racun), bila nasehat tidak dihiraukan, semua suara menjadi buruk. Maka idealnya lebih baik diam, karena diam itu sesungguhnya mustika kehidupan)

Kaidah 55
Udinên ing alam donya iki åjå ånå wóng kang kók sêngiti, supaya ora ånå wóng sêngít marang kowé, balík sabiså-biså pådhå trêsnanånå.
Amargå lêlakón ing alam donya iki anané múng walês-winalês baé.
Déné yèn kêpêkså kowé sêngít marang sawijiníng wóng, mångkå kowé ora biså mbuwang sêngítmu, gawénên wadi åjå ånå wóng kang ngêrti.
Yèn kowé ngandhakaké sêngítmu marang liyan, prasasat kowé mamèraké alané atimu.

“ADAB” MEMBENCI ORANG LAIN
(Berupayalah selalu, agar jangan ada orang yang kamu benci, supaya tidak ada orang yang membencimu, sebaliknya sedapat mungkin sayangilah sesama. Karena kejadian buruk di dunia ini adanya dari saling balas membalas. Bila terpaksa kamu membenci seseorang, dan kamu tidak bisa menghilangkan rasa bencimu, rahasiakan agar tidak ada orang lain yang tahu. Bila kamu menceritakan kebencianmu pada orang lain, justru kamu membeberkan kejahatan hatimu)

Kaidah 56
Ajiníng dhiri ånå ing lati.
Ajiníng rågå ånå ing busånå.
Mula dèn ngati-ati ing pangucapmu, sêmono ugå anggónmu ngadi busånå kang bisa mapanaké dhiri.

DI MANAKAH LETAK HARGA DIRI
(Harga diri letaknya ada di mulut. Berharganya raga tergantung oleh busananya. Maka, berhati-hatilah dalam bertutur kata, begitu pula dalam hal cara berpakaian, dapatlah menghargai diri sendiri)

Kaidah 57
Wóng pintêr kang isih gêlêm njalúk rêmbugíng liyan iku dianggêp manungsa utúh.
Såpå síng rumangsa pintêr banjúr suthík njaluk rêmbuging liyan kuwi manungsa sêtêngah wutúh.
Lan síng såpå ora gêlêm njalúk rêmbugíng liyan, iku bisa kinaranan babar pisan durúng manungså.

SYARAT MENJADI MANUSIA
(Orang pandai yang masih bersedia meminta pendapat orang lain itu dianggap manusia utuh. Siapa yang merasa sudah pandai kemudian enggan minta pendapat orang lain, itu manusia setengah utuh. Dan siapa yang tidak bersedia minta pendapat orang lain, dapat disebut sama sekali belum (jadi) manusia).

sumber sabdalangit workpress

Resep Usaha

Kami ditanya apa jimat penglaris usaha, atau ada juga yang diperhalus bahasanya dengan bertanya apa upaya yang dilakukan agar usaha bisa laris manis dan maju pesat. Dan kalau saya ditanya itu maka resepnya adalah:

Awali dengan niat baik untuk kebaikan. Bukankah berharap berpenghasilan agar mampu menafkahi keluarga dan mampu berbagi buat yang lain itu baik.
Yakinkan hati bahwa usaha yang kan kita jalani adalah usaha yang berkah, bermanfaat dan pasti sukses.
Berbaik sangka pada Allah bahwa usaha kita pasti kan dilancarkan. Bukankah Tuhan sesuai apa yang kita sangkakan.
Keluarkan zakat, karena ada hak orang lain di rejeki yang kita dapatkan. Dengan zakat harta kita menjadi bersih.
Bersedekahlah, karena sedekah bukanlah membuang uang melainkan menginvestasikannya di jalan yang diridhoi Allah.
Usaha atau kerja jangan sampai menjauhkan dia dari Tuhan, penuhi kewajiban kita sebagai hamba.
Bekerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, kerja ikhlas.
Ingat berwirausaha itu baik, bisa membuka lapangan kerja dan membantu orang lain mendapatkan pekerjaan. Bisa mendorong usaha supplier agar lebih maju. Dan membahagiakan pelanggan dengan menyajikan produk yang memuaskan hati mereka. Jadi, jalani usaha dengan riang gembira.
Jangan anggap karyawan sebagai mesin yang pantas diperas tenaganya, tapi mereka adalah partner penting yang memajukan usaha ini secara bersama-sama. Tetap manusiakan mereka!
Jika usaha gagal jangan berputus asa dan menyalahkan Tuhan. Anggap ini adalah pelajaran yang mahal dan segeralah belajar dari apa yang terjadi. Tetap semangat!
Tetap rendah hati, tidak sombong dan rajin menabung untuk perkembangan usaha (laba ditahan).
Nah, paling tidak itulah apa yang menurut pengalaman saya paling baik dilakukan agar usaha kita maju dan berkembang. Tentu saja ini hanyalah tips dari seorang yang tidaklah matang berpengalaman. Jangan percaya jimat jika ini hanya membuat kita tidak percaya pada Tuhan.

SUMBER : METAFISIS.WORKPRESS